Kardinal Suharyo Tak Lakukan Persiapan Khusus Jelang Konklaf Pengganti Paus Fransiskus
JAKARTA, Investortrust.id -- Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo akan memulai perjalanan menuju Vatikan pada 4 Mei 2025. Kardinal Suharyo akan menghadiri Konklaf atau sidang kardinal untuk memilih paus yang baru. Konklaf akan dilaksanakan 15 hari setelah Paus Fransiskus wafat.
"Saya berangkat tanggal 4 (Mei 2025). Harapannya masih ada satu hari. Kalaupun konklaf dimulai tanggal 6, saya masih ada kesempatan bertemu beberapa orang yang masuk ke konflaf bersama sama," kata Suharyo di Gereja Katedral Jakarta, Kamis (24/4/2025).
Baca Juga
Ketua KWI Berangkat ke Vatikan Malam Ini Hadiri Pemakaman Paus Fransiskus
Suharyo mengaku tak ada persiapan khusus menjelang konklaf. Kardinal Suharyo akan mengikuti proses pelaksanaan pemilihan paus tersebut.
"Saya sendiri tidak mempunyai persiapan apa-apa (ikut Konklaf). Ikut saja, karena saya sudah sering ikut di dalam sinode para uskup, para kardinal, saya kira-kira sudah bisa membayangkan siapa nanti yang akan banyak berbicara," ujarnya.
Kardinal Suharyo juga menyinggung soal mulai bermunculan sejumlah nama kandidat pengganti Paus Fransiskus menjelang konklaf. Menurutnya, munculnya nama-nama tersebut hanya salah satu dari yang dipertimbangkan peserta konklaf.
"Paus Fransiskus ini kan dulu tidak dipertimbangkan sama sekali, tidak ada nama Jorge Borgoglio di dalam calon-calon kuat pada tahun 2013. Tidak ada nama beliau. Tetapi tiba-tiba beliau dipilih," ungkapnya.
Suharyo kemudian menjelaskan konklaf berasal dari bahasa latin yakni conklavis yang berarti dengan kunci".
Menurut keyakinan Gereja Katolik, mereka yang terpilih tidak hanya dipilih oleh para kardinal, melainkan ada campur tangan Tuhan.
"Akhirnya yang memutuskan itu bukan para kardinal. Kepercayaan Gereja Katolik adalah ini adalah bimbingan roh kudus," kata Suharyo.
Baca Juga
Menag Hadiri Misa Kenang Paus Fransiskus di Gereja Katedral Jakarta
Ia menambahkan, menjadi paus bukanlah jenjang karir. Ia juga menyebut menjadi paus bukanlah ambisi.
"Dipilih menjadi paus itu bukan ambisi menjadi paus, itu bukan jenjang karier yang semakin naik, itu persis yang sebaliknya. Kalau orang bercita-cita menjadi paus Itu, maaf ya bodoh. Bahwa dia dipilih Itu bukan pilihan para kardinal saja," tuturnya. (C-14)

