Mendikdasmen: Pendidikan Karakter Tidak Akan Menjadi Mata Pelajaran Tersendiri
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti mengungkapkan, pendidikan atau pembangunan karakter (character building) tidak akan menjadi mata pelajaran tersendiri, melainkan melekat pada semua mata pelajaran di sekolah.
“Pendidikan karakter memang tidak menjadi mata pelajaran tersendiri, tetapi melekat pada semua mata pelajaran,” kata Abdul Mu’ti pada acara halalbihalal dengan para pemimpin redaksi media massa di Jakarta, Selasa (22/4/2025) malam.
Abdul Mu’ti mengakui, di sejumlah negara maju yang menjadi rujukan bidang pendidikan, seperti Jepang dan Finlandia, pendidikan karakter diberikan secara spesifik di level pendidikan anak usia dini (PAUD) dan sekolah dasar (SD).
Baca Juga
Mendikdasmen Pastikan Kemenkeu Kirim TPG Langsung ke Rekening Pribadi Guru
Pada jenjang pendidikan tersebut, menurut Mu’ti, sekolah lebih difokuskan membentuk karakter siswa dengan mengedepankan nilai-nilai etik dan moral, seperti kejujuran, sopan santun, ketaatan, disiplin, dan kebaikan budi pekerti lainnya. Alhasil, siswa tidak dibebani banyak mata pelajaran.
“Walau tidak seperti mereka, kita pun arahnya ke sana. Sekarang guru dibekali dua materi, yaitu pendidikan berbasis nilai dan berbasis karakter,” ujar dia.
Mendikdasmen mencontohkan, saat mendapat mata pelajaran olahraga di sekolah, para siswa sejatinya juga mendapat pendidikan karakter.
“Olahraga tuh tidak sekadar kesehatan jasami, tapi juga karakter. Misalnya saat bermain sepak bola, kita harus siap menang, siap kalah, siap dikartu merah. Itu kan pembentukan karakter,” tutur dia.
Baca Juga
Mendikdasmen Abdul Mu'ti Luncurkan Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
Abdul Mu’ti memastikan setiap mata pelajaran yang diajarkan di sekolah mengandung pendidikan atau pembentukan karakter siswa. “Di semua mata pelajaran ada pendidikan karakter yang dikaitkan dengan pendidikan nilai,” tegas dia.
Mendikdasmen menekankan pentingnya pendidikan karakter siswa dalam kaitannya dengan upaya pemerintah mencetak generasi berkualitas demi menyongsong Indonesia Emas 2045.
Dalam 20 tahun ke depan, Indonesia yang sedang menikmati bonus demografi digadang-gadang menjadi negara maju dengan pendapatan per kapita US$ 33.000 dibanding saat ini sekitar US$ 4.960.

