Pemilu Jangan Gaduh! Investor Bisa Pergi
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani berharap pemilu 2024 berjalan damai. Pertaruhan untuk memilih pemimpin Indonesia itu diharapkan tidak mengganggu minat investor menanamkan uangnya di dalam negeri.
“Menjelang tahun politik itu cenderung banyak yang menyimpan di luar. Nah ini buat capres-capres perlu jangan sampai membuat kegaduhan yang membuat orang yang punya duit itu keluar dan itu akan menyulitkan kita semua,” kata Aviliani saat Diskusi Publik Ekonom Perempuan Indef, yang digelar daring, Kamis (28/12/2023).
Aviliani mengatakan pemilu 2024 diharapkan tidak memperkeruh suasana dengan perbedaan yang ada. Dia mengatakan, kekhawatiran investor akan berbahaya bagi stabilitas nilai tukar dan investasi yang akan ditanamkan.
“Paslon tunjukkan saja visi misi. Jangan sampai terjadi kegaduhan berupa bentrokan di level pendukung dan partai. Jangan memikirkan kepentingan sendiri untuk memenangkan calonnya,” ujar dia.
Baca Juga
Di sisi lain, Aviliani memperkirakan suku bunga negara maju baru akan menunjukkan penurunan pada semester-II 2024. “Depresiasi nilai tukar cenderung fluktuatif melihat situasi eksternal,” ujar dia.
Aviliani memaparkan, tantangan menjaga rupiah dipengaruhi faktor cadangan devisa yang berkurang. Kondisi ini muncul karena kinerja ekspor yang melambat.
Sementara itu, Foreign Direct Investment (FDI) juga masih terlihat menunggu dan melihat (wait and see). Para investor, kata Aviliani, masih ingin mempertimbangkan siapa presiden terpilih dan bagaimana kebijakan yang dibuatnya.
Baca Juga
Kapolri Ungkap Indonesia Hadapi Bencana Demografi jika Pemilu 2024 Gagal
“Sehingga kalau satu putaran, setelah Februari 2024 akan mulai bagus lagi. Kalau dua putaran yang menunggu sampai Juni 2024,” ujar dia.
Faktor-faktor di atas inilah yang membuat optimisme 2024 perlu dijaga. Sebab, kata Aviliani, tahun mendatang ekonomi Indonesia masih akan berjalan relatif sama dengan tahun ini.
“Ini yang membuat (ekonomi) 2024 belum tentu lebih baik daripada 2025,” ujar dia.

