Bakamla Akan Ketambahan 3 Kapal Patroli Hingga 2027
Jakarta, Investortrust.id - Menyusul Joint Statement antara Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba dengan Presiden Prabowo Subianto tentang hibah kapal patroli dari Jepang untuk Bakamla RI, Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI Laksamana Madya TNI Irvansyah mengumumkan bahwa institusi yang ia pimpin akan memiliki total 13 kapal patroli atau bertambah 3 unit ketimbang saat ini yang dioperasikan Bakamla sebanyak 10 kapal.
Irvansyah mengatakan bahwa tiga kapal patroli tambahan tersebut terdiri atas satu kapal hibah hasil kerja sama dengan pemerintah Jepang, dan dua kapal yang dibeli dengan menggunakan fasilitas pinjaman dan juga dibuat di dalam negeri.
"Ini kemarin kami sudah tanda tangan kontrak dari Bakamla dengan Mitsubishi Shipbuilding," kata Laksdya TNI Irvansyah saat memberikan keterangan pers usai menghadiri peringatan HUT Ke-19 Bakamla RI di Taman Proklamasi, Jakarta, Selasa.
"Setelah itu," ujar Irvansyah, "mereka mulai merancang, menggambar, nanti mulai peletakan kayak kalau bangunan itu (peletakan) batu pertama, ini keel laying atau apa, steel cutting, macam-macam istilahnya."
Laksdya TNI Irvansyah berharap kapal patroli hibah dari Jepang tersebut dapat segera cepat selesai pada saat tahap pembuatan telah dimulai. Namun, dia memperkirakan kapal tersebut baru selesai pada tahun 2026.
Sementara dua kapal yang dibiayai pinjaman dalam negeri dengan dana dari bank-bank pemerintah, dan PT PAL Indonesia akan menjadi pihak pembuat kapal patroli untuk Bakamla.
"Haram bagi saya beli kapal luar negeri, ... haram. Itu rasanya jadi pengkhianat. Banyak sekali galangan kapal Indonesia sehingga kami pesan dari Indonesia sendiri, kecuali yang hibah, kami tidak bisa menolak. Dia yang kasih hibah, dia yang bangun, kami terima jadi saja," tutur Laksdya Irvansyah.
Ia menjelaskan bahwa panjang kapal yang dibuat di dalam negeri berukuran 60 meter dan 80 meter. Selain tiga kapal tersebut, lanjut dia, Amerika Serikat juga telah berjanji untuk memberikan kapal kepada Indonesia, tetapi ukurannya akan lebih kecil jika dibandingkan dengan hibah dari Jepang.
“Ukuran lebih kecil. Kalau di Jepang ukuran panjangnya itu 85 meter, Amerika mungkin sekitar 38-40 meter untuk di pesisir,” ujarnya.
Kemudian Laksdya Irvansyah menargetkan bahwa kapal-kapal milik Bakamla, termasuk tiga kapal tambahan nanti, akan dilengkapi dengan laboratorium di dalam kapal (built-in laboratorium). Dengan adanya laboratorium tersebut, dia berharap petugas Bakamla di lapangan bisa memeriksa narkoba maupun mineral di tengah laut sehingga tidak menghabiskan banyak waktu karena harus membawa barang tersebut ke pangkalan di darat.
"Harapannya 1-2 jam di laut selesai periksa, bisa berlayar lagi sehingga ongkos pekerjaan mereka operasionalnya tidak terlalu tinggi dan tidak menyita waktu terlalu banyak," tutup Irvansyah.

