Kena Karma! Dua Kapal Tiongkok Bertabrakan Saat Mengejar Kapal Patroli Filipina di Laut Cina Selatan
Jakarta, Investortrust.id – Sebuah kapal angkatan laut Tiongkok menabrak sebuah kapal Coast Guard China saat keduanya mengejar kapal patroli Angkatan Laut Filipina yang berukuran lebih kecil di perairan sekitar Beting Scarborough di Laut Cina Selatan. Insiden ini ramai diperbincangkan di media sosial setelah Angkatan Laut Filipina mengunggahnya di media sosial mereka.
Wilayah itu menjadi sengketa antara Cina dan Filipina dengan klaim sepihak Cina yang mengeluarkan peta sembilan garis putus-putus pada tahun 1947, atau yang dikenal sebagai nine dash line untuk membatasi klaimnya yang mencakup 90% wilayah Laut Cina Selatan termasuk pulau dan segala isinya yang disengketakan seperti Kepulauan Spratly dan Kepulauan Parcel.
Video dramatis di kanal Youtube memperlihatkan manuver berbahaya kedua kapal China yang menempel kapal penjaga pantai Filipina saat mengawal kapal-kapal yang mendistribusikan bantuan kepada para nelayan di wilayah tersebut, ujar juru bicara Komodor Jay Tarriela dalam sebuah pernyataan.
Video yang dirilis Manila menunjukkan sebuah kapal Penjaga Pantai China dan sebuah kapal yang jauh lebih besar dengan nomor lambung 164 bertabrakan dengan suara keras.
"(Kapal Penjaga Pantai Tiongkok) CCG 3104, yang sedang mengejar (kapal penjaga pantai Filipina) BRP Suluan dengan kecepatan tinggi, melakukan manuver berisiko dari sisi kanan kapal (Filipina), yang menyebabkan tabrakan dengan kapal perang Angkatan Laut PLA (Tentara Pembebasan Rakyat)," kata Tarriela seperti dikutip dari The Japan Times.
"Hal ini mengakibatkan kerusakan substansial pada haluan kapal CCG, sehingga tidak laik laut," ujarnya.
Kedutaan Besar Tiongkok di Manila tidak segera menanggapi permintaan komentar. Tabrakan yang dilaporkan ini merupakan yang terbaru dari serangkaian konfrontasi antara Tiongkok dan Filipina di wilayah Laut Cina Selatan, yang hampir seluruhnya diklaim Beijing meskipun ada putusan internasional yang menyatakan bahwa klaim tersebut tidak memiliki dasar hukum.
Laut Cina Selatan merupakan wilayah perairan strategis, politis, dan ekonomis karena merupakan jalur perdagangan internasional, sumber daya alam, dan klaim kedaulatan yang menjadi sumber sengketa antara beberapa negara di kawasan Asia terutama Cina, Vietnam, Taiwan, Brunei, Filipina, Indonesia dan Malaysia.
Diperkirakan perdagangan global senilai US$3,36 triliun melewati Laut Cina Selatan setiap tahunnya,yang merupakan sepertiga dari perdagangan maritim global.
80 persen impor energi Tiongkok dan 40 persen total perdagangan Tiongkok melewati Laut Cina Selatan.Negara-negara penggugat berkepentingan untuk mempertahankan atau memperoleh hak atas sumber daya perikanan, eksplorasi dan potensi eksploitasi minyak mentah dan gas alam di dasar laut berbagai wilayah Laut Cina Selatan, serta kendali strategis atas jalur pelayaran penting. Keamanan maritim juga menjadi isu penting, karena sengketa yang sedang berlangsung menghadirkan tantangan bagi pelayaran.
Konflik ini bermula karena Cina mengklaim sebagian Laut Cina Selatan berdasarkan Sejarah yang mereka miliki dari 2000 tahun lalu. Cina juga menganggap bahwa sebagian besar dari teritorial tidak dapat dinegosiasikan.
Dangkalan Scarborough — rangkaian terumbu karang dan batu berbentuk segitiga — telah menjadi titik panas antara kedua negara sejak Tiongkok merebutnya dari Filipina pada tahun 2012. Tidak ada keterangan apakah ada korban jiwa dalam insiden pada hari Senin tersebut. Tarriela mengatakan awak Tiongkok "tidak pernah menanggapi" tawaran bantuan dari kapal Filipina. Sebelumnya dalam konfrontasi tersebut, BRP Suluan "diserang dengan meriam air" oleh Tiongkok tetapi "berhasil" menghindarinya, menurut pernyataan Tarriela.
video: courtesy of ABS-CBN New Youtube Channel

