Isu Kebudayaan Kerap Dianggap Remeh, Profesor UI Ingatkan Ini Menjelang Debat Capres
JAKARTA, investortrust.id – Menjelang debat calon presiden (capres), Minggu (04/02/2024) malam,Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia (UI), Prof Yasmine Zaki Shahab mengingatkanagar para capres dan timnya tidak menganggap remeh isu kebudayaan.
Menurut Yasmine, tidak sedikit elit politik atau pejabat publik yang menyederhanakan arti kebudayaan sebatas kebudayaan materi, seperti kesenian, kuliner dan busana.
“Padahal, kebudayaan mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan kehidupan manusia,” tegas Yasmine di Jakarta, Minggu (04/02/2024).
Baca Juga
Debat Kelima Pilpres 2024 Bisa Pengaruhi Keterpilihan Capres, jika...
Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan delapan tema dalam debat ke-5 capres, yaitu kesejahteraan sosial, kebudayaan, pendidikan, teknologi informasi, kesehatan, ketenagakerjaan, sumber daya manusia (SDM), dan inklusi.
Berbagai kalangan menilai tema-tema tersebut tidak sepopulis isu sebelumnya, seperti tema polhukam, ekonomi, hingga agraria.
Yasmine Zaki Shahab menjelaskan, secara sederhana, kebudayaan mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan kehidupan manusia. "Bicara apa pun yang melibatkan manusia, di situ ada kebudayaan. Itu berdasarkan definisi kebudayaan," ujar dia.
Yasmine menegaskan, tak ada pembangunan yang tidak melibatkan manusia. Itu sebabnya, kebudayaan merupakan salah satu inti (core) dari sebuah pembangunan.
"Tidak ada pembangunan yang tidak melibatkan manusia. Sejauh mana faktor manusia terhadap pembangunan? Ya dia merupakan faktor yang amat penting, merupakan core," papar dia.
Selain itu, menurut Yasmine, strategi pendekatan kebudayaan yang tepat dapat menjadi faktor pendukung, bahkan penentu keberhasilan pembangunan. ”Tanpa melibatkan aspek kebudayaan, bukan mustahil sebuah pembangunan akan gagal,” ujar tandas dia.
Baca Juga
Serba-serbi Debat Kelima Pilpres 2024 Malam Ini: Ada Tambahan Waktu dan Link Live Streaming
Yasmine Zaki Shahab mengungkapkan, pendekatan kebudayaan antarentitas kelompok pasti berbeda dengan kelompok lain. Untuk menyiasati hal tersebut, perlu diterapkan prinsip strategi pendekatan kebudayaan dalam melakukan sebuah pembangunan.
Materiel dan Imateriel
Guru Besar Antropologi UI itu berharap ke depan, pemerintah menempatkan kebudayaan sebagai salah satu prioritas pembangunan, khususnya dalam mencapai visi Indonesia Emas 2045.
Dia mengemukakan,sektor kebudayaan sangat berkaitan erat dengan orientasi pembangunan pemerintah di masa mendatang.
Secara fundamental, ia berpesan agar pemerintah membangun kebudayaan dalam dua aspek, yakni kebudayaan yang bersifat materiel (fisik) dan imateriel (nonfisik).
"Ketika membicarakan kebudayaan, konteksnya akan ada dua, yaitu materiel dan imateriel, di mana keduanya harus mendapat perhatian,” tutur dia.
Yasmine mengapresiasi langkah pemerintah saat ini. Pemerintah sudah cukup memberikan perhatian terhadap kebudayaan, misalnya yang berhubungan dengan pengembangan pariwisata.
"Perhatian pemerintah yang cukup besar adalah kebudayaan materi terkait pariwisata, di mana kebudayaan dilihat sebagai komoditas. Contoh lainnya perhatian pemerintah yang cukup besar terhadap peninggalan sejarah yang menunjukkan identitas bangsa," papar dia.
Menurut Yasmine, kebudayaan materiel lebih mudah diperhatikan dan didorong melalui berbagai faktor. “Regulasi yang hadir sudah cukup mewadahi. Selain itu tentu karena ada faktor ekonomi di sana,” ucap dia.
Baca Juga
Di sisi lain, Yasmine Zaki Shahab juga menyoroti keseriusan pemerintah dalam aspek kebudayaan imaterial, seperti dalam membangun karakter atau mental. Aspek ini sangat penting untuk menunjang pembangunan nasional.
"Misalnya korupsi. Itu faktor kebudayaannya tinggi sekali. Kalau memiliki karakter rasa bersalah yang tinggi, mungkin orang tidak mudah untuk korupsi. Sebab tanpa diketahui orang, dia tetap akan merasa bersalah,” ujar dia.
Dia mengemukakan, apabila aspek kebudayaan imateriel tidak diperhatikan serius, hal itu akan menjadi salah satu ancaman dalam pembangunan nasional. “Kami berharap ke depan pemerintah lebih serius membangun kebudayaan materiel dan imateriel secara bersamaan,” tegas dia.

