BNPB Prediksi Bencana Hidrometeorologi Basah Masih Mendominasi di 2025
JAKARTA, Investortrust.id - Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari mengatakan bencana hidrometeorologi basah masih akan tetap mendominasi pada 2025. Hal tersebut lantaran Indonesia tengah berada pada periode La Nina atau periode basah.
"2024 kita ada pada periode basah, itu juga akan berlanjut pada 2025 setidaknya pada 3 bulan pertama di awal tahun ini sehingga ini yang menyebabkan frekuensi kejadian bencana hidrometeorologi basah selama 2024 itu lebih tinggi daripada hidrometeorologi kering karena memang kita ada pada fase La Nina," kata Abdul dalam konferensi pers bertajuk "Kaleidoskop Bencana 2024 & Outlook Potensi Bencana 2025", Selasa (7/1/2025).
Baca Juga
BNPB: Banjir Lahar dan Tanah Longsor jadi Bencana Paling Banyak Makan Korban Selama 2024
Abdul mengatakan situasi saat ini berbeda dibanding 2023 lalu. Ketika itu Indonesia berada pada periode kering atau El Nino.
"Ketika kita ada pada periode El Nino maka intensitas kejadian karhutla (kebakaran hutan dan lahan) menjadi tinggi," ucapnya.
Abdul menambahkan, jumlah kejadian karhutla pada 2023 mengalahkan jumlah kejadian banjir. Meski jumlah kejadian karhutla sangat tinggi, dampaknya lebih rendah ketimbang luasan lahan yang terbakar akibat karhutla di periode El Nino pada 2019 dan 2015.
"Secara singkat untuk 2025 bencana hidrometeorologi basah akan tetap mendominasi, sehingga BNPB berdasarkan pengalaman di 2023 melakukan pendampingan melekat hulu hilir, mengurangi intensitas pemicunya, penguatan pemerintah daerah dan penguatan masyarakat di level akar rumput itu akan terus kita lakukan," ujarnya.
Sebelumnya, BNPB mengungkapkan di Indonesia dilanda 2.107 kali bencana sepanjang 2024. Banjir lahar dingin dan tanah longsor menjadi bencana yang paling sering terjadi pada 2024.
Peristiwa tanah longsor terjadi di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan pada April 2024. Kejadian tersebut menyebabkan 20 jiwa meninggal dunia, dua orang luka, 74 mengungsi, dan tujuh rumah rusak berat. Tanah longsor juga terjadi di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo pada Minggu 7 April 2024. Akibat bencana tersebut sebanyak 27 jiwa meninggal dunia, 15 jiwa hilang, delapan jiwa terluka, dan 325 jiwa menderita.
Baca Juga
BNPB: Jumlah Bencana di Indonesia Tahun 2024 Sebanyak 2.107 Kali
Bencana tanah longsor juga terjadi di Kabupaten Solok, Sumatera Barat pada 27 September 2024. Peristiwa tersebut menerjang satu kecamatan dan menyebabkan 13 jiwa meninggal dunia, dan 12 jiwa terluka. Kemudian banjir bandang lahar dingin terjadi di Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada Mei 2024. Total sebanyak 56 jiwa meninggal dunia, 10 orang hilang, 55 jiwa terluka, 3.703 jiwa menderita, 7.199 mengungsi, dan sebanyak 452 rumah rusak. (C-14)

