Bappenas Ungkap Penurunan Tanah Pantura di Pekalongan Capai 30 Cm per Tahun
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) mengungkapkan, Pantai Utara (Pantura) di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah telah mengalami penurunan tanah atau land subsidence sekitar 12 – 30 cm per tahunnya.
“Kami (Bappenas) sempat mengunjungi dan punya pengalaman di Pekalongan, land subsidence-nya sekitar 12 sampai 30 cm per tahun dan sudah 600 hektare (sudah tenggelam). Bahkan, Pak Menteri PUPR yang lama, Pak Basuki membangun tanggul 2019, (tahun) 2022 (tanggul) sudah tenggelam,” kata Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Kementerian PPN/Bappenas, Ervan Maksum di Kantor PPN/Bappenas, Jakarta, Rabu (13/11/2024).
Ervan menyebut, di kawasan Pekalongan saat ini belum tersedia infrastruktur yang mampu mengatasi banjir rob hingga land subsidence, seperti bendungan atau tanggul penghalang masuknya air laut. Selain tak tersedianya infrastruktur pengadang rob, problem eksploitasi air tanah juga dinilai menjadi salah satu penyebab turunnya permukaan air tanah di Pekalongan.
“Jadi memang di Pekalongan ini saya lihat tidak ada bendungan. Semua masalahnya adalah mengambil (mengeksploitasi) air tanah ataupun air. Tadinya PDAM-nya juga (memanfaatkan) air sungai,” tambah dia.
Sebelumnya, Adik Presiden ke-8 RI, Hashim Djojohadikusumo menyebutkan, program tanggul laut raksasa Presiden Prabowo Subianto akan selamatkan sejumlah hektare (ha) lahan sumber pangan nasional di pantai utara Pulau Jawa.
“Ini (Tanggul Laut Raksasa) ada salah satu (rencana) untuk menyelamatkan pantai utara Pulau Jawa. Kan permukaan tanah kita lagi ambles, kan? Kita sudah tahu itu. Nah, kita harus selamatkan pantai utara Pulau Jawa. Karena di situ adalah sumber beras, sumber pangan nasional itu di pantai utara, di Pulau Jawa,” ungkap Hashim, Kamis (31/10/2024).
Baca Juga
Tak Sekadar Tanggul, 'Giant Sea Wall' Bisa Jadi Infrastruktur Pertahanan
Kendati demikian, ia tak menampik pembangunan tanggul laut raksasa atau giant sea wall ini akan memakan waktu hingga puluhan tahun. Oleh sebab itu, Hashim menekankan, pembangunan ini harus dimulai sesegera mungkin.
“Program ini mungkin memakan waktu 20 tahun. Mungkin 2-3 presiden yang melaksanakan, tapi harus mulai sekarang. Kalau tidak mulai sekarang, sawah-sawah di pantai utara akan tenggelam. Bisa berapa juta hektare kita hilang? Jadi ini semacam emergency, harus segera (dibangun),” lugas Hashim.
Sementara Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menyampaikan, tanggul laut raksasa ini akan dibangun membentang sepanjang Jakarta hingga Gresik, Jawa Timur. Adapun saat ini pihaknya mendapatkan arahan dari Presiden ke-8 RI untuk fokus membangun di wilayah Jakarta – Bekasi terlebih dahulu.
“Giant sea wall Jakarta - Gresik adalah salah satu program besarnya Pak Prabowo. PUPR (PU) diminta lebih serius dan cepat lagi untuk bisa membangun giant sea wall minim

