Pemanfaatan Internet Gratis Pemerintah di Wilayah 3T Belum Maksimal, Ini Alasannya
JAKARTA, investortrust.id - Sebagian besar masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) belum memanfaatkan layanan intenet gratis yang diberikan oleh pemerintah melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Bakti Kemenkominfo).
Hal tersebut terungkap melalui Survei Penetrasi Pengguna Internet di Daerah Tertinggal Tahun 2024 yang dilakukan oleh Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) bersama dengan Bakti Kemenkominfo. Survei yang dilakukan pada Juli-September 2024 itu melibatkan 1.950 responden yang tersebar di 64 kabupaten dan 322 penyedia layanan internet atau internet service provider (ISP).
Sekretaris Umum APJII Zulfadly Syam mengatakan, sebanyak 64,9% responden survei mengaku tidak menggunakan layanan internet gratis yang diberikan oleh Bakti Kemenkominfo karena tidak tahu. Hanya 26,9% yang menggunakan layanan ini dan sisanya sebanyak 8,1% tahu tapi tidak memanfaatkan layanan tersebut.
Baca Juga
Penetrasi Internet di Wilayah 3T Capai 82,6%, Layanan Seluler Masih jadi Andalan
“Ini masalahnya, kenapa sudah diberikan internet gratis tapi masyarakat enggak tahu,” katanya dalam acara Survei Penetrasi Pengguna Internet di Daerah Tertinggal Tahun 2024 di Gedung Cyber, Jakarta Selatan, Selasa (17/9/2024).
Lebih lanjut, Zulfadly menjelaskan sebagian besar masyarakat di wilayah 3T enggan menggunakan layanan intenet gratis dari Bakti Kemenkominfo lantaran lokasinya jauh dari tempat tinggal mereka (40,67%). Mereka juga merasa layanan seluler lebih baik dibandingkan dengan layanan tersebut (26,67%). “(Sebanyak) 12,67% juga mengaku sulit terhubung menggunakan layanan internet gratis dari Bakti Kemenkominfo,” ungkapnya.
Zulfadly memaparkan masyarakat di wilayah 3T juga merasa tidak perlu menggunakan layanan internet gratis dari Bakti Kemenkominfo (10%). Mereka juga mengaku enggan menggunakan layanan tersebut karena dianggap tidak aman (4%) dan alasan lainnya (6%).
Baca Juga
Menkominfo Sebut Kecepatan Internet di Indonesia Naik 10 Kali Lipat dalam 10 Tahun
Melalui Survei Penetrasi Pengguna Internet di Daerah Tertinggal Tahun 2024 juga diketahui bagaimana pemanfaatan layanan internet gratis dari Bakti Kemenkominfo oleh masyarakat di wilayah 3T. Sebagian besar (57,9%) menggunakan layanan tersebut untuk mengakses media sosial, diikuti oleh bekerja atau belajar (20,1%), menonton video (7,4%), bermain gim daring (6,40%), mengunduh file (3%), dan lainnya (3%).
Secara umum, berdasarkan Survei Penetrasi Pengguna Internet di Daerah Tertinggal Tahun 2024 diketahui masyarakat di wilayah 3T sebagian besar mulai mengakses internet pada usia 13-18 tahun (36,07%), diikuti 19-34 tahun (31,96%). Mereka mengakses internet pertama kali untuk sosial media (73,2%) dan aplikasi perpesanan (13,6%).
Baca Juga
Perluas Jangkauan Infrastruktur Akses Internet, Weave Anak Usaha Surge (WIFI) Gandeng 50 ISP Lokal
Masyarakat di wilayah 3T sebagian besar mengakses internet lewat telepon genggam atau tablet (89,3%), diikuti komputer atau laptop sekaligus telepon genggam atau tablet (9,7%). Durasi penggunaan internet biasanya selama 1-5 jam (57,4%) dalam sehari, di bawah sejam (18,9%), dan 6-10 jam (14,3%). “Hanya 9,4% masyarakat daerah 3T yang akses internet lebih dari 10 jam sehari,” ujar Zulfadly.
Zulfadly menyebut cara yang paling sering digunakan untuk terhubung dengan internet adalah layanan seluler (85,72%), wifi di rumah (8,26%), jaringan wifi di kantor/sekolah/kampus (3,66%), dan wifi di ruang publik (2,3%).
Pekerjaan Diselesaikan
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Bakti Kemenkominfo Fadhilah Mathar mengatakan Survei Penetrasi Pengguna Internet di Daerah Tertinggal Tahun 2024 memperlihatkan pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan bersama oleh pemerintah dan pemangku kepentingan terkait.
Berdasarkan survei tersebut diketahui 82,6% masyarakat di wilayah 3T atau sebanyak 8,11 juta jiwa sudah mendapatkan akses internet pada 2024. Sebanyak 1,07 juta jiwa atau 17,04% penduduk di wilayah tersebut masih belum bisa terhubung ke dunia maya.
Baca Juga
Komite Publisher Rights Sudah Dibentuk, Kemenkominfo Ungkap Tugasnya
Apabila tidak segera diselesaikan maka akan sulit bagi Indonesia untuk mengejar angka kontribusi ekonomi digital terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 20,7% dengan nilai mencapai US$ 8,89 triliun pada 2045.
"Kita masih melihat bahwa kontribusi ini masih di bawah 10%, dibandingkan negara besar lainnya seperti Amerika Serikat (AS) dan China. Oleh karena itu, estafet digitalisasi perlu mendapatkan perhatian serius. Masih ada 17,4% masyarakat di daerah tertinggal yang belum memiliki akses internet, dan kita memiliki landasan strategis untuk menyelesaikan masalah ini dalam lima tahun ke depan," tuturnya.

