Lulusan SMK Penyumbang Pengangguran Tertinggi, Bos ISS: Bisa Timbulkan Problem Sosial
JAKARTA, investortrust.id - Perusahaan penyedia layanan fasilitas atau integrated facility services (IFS), PT Indonesia Servant Service (ISS) Indonesia merespons soal lulusan SMK (sekolah menengah kejuruan) menjadi penyumbang pengangguran terbesar di Indonesia, yang dinilai berpotensi jadi problem sosial
Menurut CEO ISS Indonesia Muhammad Sofyan, pengangguran terbesar 55% dari total pengangguran berasal dari tingkat pendidikan SMA dan SMK.
"Lebih dari 50%. Nah di sinilah ketimpangan yang terjadi dan mereka bisa menjadi problem sosial ke depannya," ujar Sofyan saat ditemui dalam acara The 2nd Sustainability Talks yang bertajuk Reinvigorating Facility Management with Sustainability and Outcome Focused Strategy di Intercontinental Hotel, Jakarta, Kamis (5/9/2024). Sofyan menyebut tingginya tingkat pengangguran dari lulusan sekolah menengah kejuruan ini akibat dari strategi pendidikan yang kurang tepat.
Baca Juga
OCS Beberkan Sejumlah Tantangan Bisnis ‘Facility Management’ Pascapandemi
"Dan juga bagaimana pembukaan tenaga kerja dilakukan oleh misalkan pemerintah, BUMN, dan komunitas swasta," ungkap Sofyan.
Oleh karena itu, Sofyan menyampaikan agar sektor industri memberikan peran para lulusan SMK dengan membuka lapangan kerja yang lebih banyak.
"Bahwa mereka-mereka ini tidak melanjutkan pendidikan karena banyak keterbatasan. Sehingga banyak pekerjaan harusnya bisa kita buka untuk mereka, salah satunya pekerjaan yang dilakukan oleh ISS," jelas Sofyan
Di sisi lain, Sofyan membeberkan, sektor bisnis facility seperti cleaning, gardening, hingga security menjadi sektor yang akan menyerap lebih banyak tenaga kerja, khususnya dari kalangan lulusan sekolah menengah kejuruan dan sekolah menengah atas.
Sebagai tambahan informasi, diberitakan Investortrust.id sebelumnya, Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan, sebanyak 7,20 juta orang angkatan kerja tercatat sebagai tingkat pengangguran terbuka (TPT). Angka ini setara 4,82% dari jumlah angkata kerja.
Angka pengangguran yang mencapai 7,20 juta orang, kata Amalia, turun 9,89% dibandingkan Februari 2023.
Baca Juga
Fokus ke Bisnis Inti, Cardig (CASS) Bubarkan Usaha Bidang Facility Management
“Dengan demikian, jumlah penduduk yang bekerja mencapai 142,18 juta orang, bertambah 3,55 juta orang, naik 2,56% dibanding Februari 2023,” tutur dia.
Amalia membeberkan, penduduk yang bekerja terdiri atas pekerja penuh sebanyak 93,27 juta orang, bertambah 1,11 juta orang atau naik 1,2%. Pekerja paruh waktu sebanyak 36,8 juta orang, berkurang 0,08 juta orang atau turun 0,22%.
“Adapun jumlah penduduk setengah pengangguran mencapai 12,11 juta orang, bertambah 2,52 juta orang atau naik 26,28%,” kata dia.

