1,8 Juta Lulusan Baru SMA/SMK Berebut Kerja Tiap Tahun
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah menyebut, tiap tahun, sebanyak 1,8 juta lulusan sekolah menengah atas (SMA), sekolah menengah khusus (SMK), dan Madrasah Aliyah (MA) tidak masuk perguruan tinggi. Lulusan sekolah menengah ini berebut masuk ke pasar tenaga kerja.
“Sebanyak 1,8 juta lulusan SMA, SMK, dan MA yang tak tertampung di perguruan tinggi, terpaksa harus masuk pasar kerja. Jumlah lulusan sekolah menengah yang harus mencari kerja ini sebanyak 49% dari total 3,7 juta orang yang lulus sekolah menengah tiap tahun,” kata Ida, saat rapat dengan Komisi IX DPR, di Gedung DPR, Jakarta Pusat, Selasa (14/11/2023).
Baca Juga
Menparekraf Yakini Kesempatan Kerja yang Luas Lewat Pariwisata Hijau
Ida mengatakan, hingga Agustus 2023, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Tanah Air tercatat sebesar 5,32%. Angka ini mengalami penurunan dari sebelumnya sebesar 5,86%.
“Alhamdulillah sudah mendekati sebelum pandemi (Agustus 2019 sebesar 5,23%),” kata dia.
Upaya Link and Match
Untuk mengurangi kesenjangan di pasar tenaga kerja, Ida menyebut, kementeriannya melakukan link and match dengan membangun integrasi pelatihan, sertifikasi, dan penempatan pasar tenaga kerja. “Kami melakukan proses link and match yang terpadu, efektif, dan efisien, yang mempertemukan pencari kerja dengan permintaan pasar tenaga kerja,” kata dia.
Baca Juga
Selain Kekang Inflasi, RAPBN 2024 Fokus Hapus Kemiskinan Ekstrem
Untuk mencapai target tersebut, Ida menyebut ada sejumlah hal penting dilakukan. Ini mencakup integrasi pelatihan, sertifikasi, dan penempatan; penguatan kelembagaan dan pengembangan ekosistem pasar kerja; pengembangan pasar tenaga kerja inklusif; penguatan SDM, pelatihan, sertifikasi, dan penempatan; sertifikasi integrasi, penguatan norma, dan mendukung digitalisi pasar kerja; serta pengembangan kemitraan dengan pemangku kepentingan.
Ida juga memaparkan data sektor perusahaan berdasarkan lowongan kerja. Sektor teknologi informasi dan komunikasi membuka lowongan kerja sebesar 26,91%, jasa keuangan 25,44%, selanjutnya di sektor ritel 6,32%. Di sektor makanan dan minuman sebanyak 5,55%, sektor media, penerbitan, dan ritel sebesar 5,20%, sektor perhotelan atau akomodasi 4,43%, sektor kecantikan 4,15%, serta sektor manufaktur dan konstruksi 3,72%. (CR-7)

