Jokowi Jadi “King Maker” Pemilu 2024 karena Tingkat Kepuasan Masyarakat Tinggi
JAKARTA, investortrust.id - Pendiri dan peneliti Indikator Politik, Burhanuddin Muhtadi mengatakan, tingginya tingkat kepuasan terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi salah satu alasan mengapa dirinya menjadi penentu penting pada pemilihan presiden (pilpres) 2024. Tingkat kepuasan masyarakat kepada Jokowi merupakan yang tertinggi di antara presiden pendahulunya.
“Saya pernah mengatakan approval Presiden Jokowi rata-ratanya lebih tinggi dibanding presiden sebelumnya dan itu yang menjelaskan mengapa Presiden Jokowi, tingkat kepuasan publiknya tinggi dan menjadi king maker,” kata Burhanuddin di kantornya, Jakarta, Jumat (09/02/2024).
Burhanuddin mengatakan hampir semua variabel demografi menunjukkan kepuasan terhadap Jokowi. Variabel yang dimaksud antara lain gender, usia, etnis, agama dan ormas, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan lokasi tinggal.
“Ada variabel tertentu yang tingkat kepuasannya di bawah rata-rata nasional, misalnya etnik Minang. Tetapi itu pun masih mencapai 51%” ujar dia.
Sementara itu berdasarkan wilayah, kepuasan terhadap pemerintahan Jokowi masih tinggi di 10 wilayah survei, antara lain Sumatera, Banten, DKI, Jawa Barat, Jawa Tengah dan DIY, Jawa Timur, Bali Nusa, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku Papua. Dari 10 wilayah tersebut, tingkat ketidakpuasan terendah terjadi di Banten dengan tingkat kurang puas mencapai 31,2%. Adapun provinsi yang tak puas dengan kinerja Jokowi lainnya yaitu Sumatera Utara dengan angka 38,5%.
“Di Bali yang puas 99,3%. Jadi sangat tinggi ya orang Bali itu. 99,3% puas. Jadi kalau kita mengkritik Pak Jokowi di Bali mungkin jadi isu itu,” ujar dia.
Sementara itu, kata Burhanuddin, tingkat kepuasan yang tinggi lain ditemukan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Masyarakat di provinsi tersebut memiliki tingkat kepuasan terhadap kinerja Jokowi hingga 96,8%.
Di NTB, Jokowi tidak pernah menang dalam dua kali pilpres sebelumnya. Namun, dalam survey terbaru, tingkat kepuasan terhadap Jokowi di provinsi ini menembus 80,1%. "Dugaan saya karena proyek Mandalika dan beberapa konsep pemerintah di sini,” kata dia.

