Menkominfo Ucap Syukur Ketika Pusat Data Nasional Diserang, Kok Bisa?
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi mengaku bersyukur lantaran serangan ransomware ke Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 dilatarbelakangi motif ekonomi.
Menurut Budi Arie, pihak yang menyerang PDNS 2 bukanlah suatu negara atau mewakili negara tertentu. Pihak tersebut merupakan kelompok yang menyerang dengan tujuan mendapatkan keuntungan dari pembayaran uang tebusan.
Seperti diketahui, Pemerintah Indonesia diminta untuk membayar tebusan tebusan sebesar US$ 8 juta atau Rp 131,1 miliar (kurs Rp 16.396/US$) untuk bisa mengakses kembali data yang tersimpan di PDNS 2.
“Karena dalam serangan siber ini selalu analisanya dua saja. Ini state actor atau non-state actor. Tapi di forum ini saya ingin tegaskan bahwa kesimpulan mereka ini non-state actor dengan motif ekonomi. Itu sudah alhamdulillah dulu,” katanya dalam Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi I DPR RI dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) di Komplek Parlemen, Jakarta Pusat, Kamis (27/6/2024).
Baca Juga
Layanan Keimigrasian 100% Pulih Pascaserangan Siber ke Pusat Data Nasional
Pria yang juga dikenal sebagai Ketua Umum Relawan Jokowi (Projo) itu menyebut kondisi akan sangat berat jika penyerang adalah negara atau mewakili negara tertentu. Sebagai contoh adalah serangan siber ke Pemerintah Arab Saudi oleh peretas asal Iran dengan motif politik.
Terkait dengan upaya perlawanan yang dilakukan pemerintah, Budi Arie mengaku tidak bisa memberikan penjelasan secara terbuka. Namun yang jelas, hasil dari upaya tersebut membuat pihaknya optimistis masalah bisa segera teratasi.
"Itu informasi tidak bisa saya sampaikan secara terbuka, kenapa? Karena kalau misal kita bilang beres nih, dia (pihak penyerang) dengar dia sikat lagi. Begitu loh,” katanya.
Rasa syukur yang diungkapkan oleh Budi Arie direspons keras oleh Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sukamta. Dia mengaku prihatin mengapa Menkominfo malah berucap syukur di tengah serangan siber yang notabene adalah keadaan genting.
Baca Juga
Komisi I DPR Minta Pengelolaan Pusat Data Nasional Tak Dimonopoli
"Saya satu sisi senang ya Pak Menteri jadi religius. Bersyukur di tengah serangan begini. Tapi, saya prihatin Bapak bersyukur di tengah serangan yang hebat begini bagi negara Pak," ujar Sukamta.
Bahkan, Sukamta mengatakan Budi Arie seharusnya mengucapkan innalillahi lantaran PDNS 2 terkena serangan ransomware dan membuat lumpuh layanan publik dari 282 instansi pemerintah. Dia juga menyinggung bocornya data Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI dan Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) Polri.
"Tapi menurut saya lebih tepat innalillahi dibanding alhamdulillah Pak. Karena ini persoalan national security yang saya ungkap tadi itu punya Bais, punya Polri Pak, dijual bebas file-nya sekarang bahkan bisa di-download. Begitu kok alhamdulillah Pak. Harusnya innalillahi Pak," sebutnya.

