Kacau! Data Intelijen Militer RI Milik Bais TNI Bocor dan Dijual di Dark Web
JAKARTA, investortrust.id - Kabar mengenai kebocoran data lembaga pemerintah kembali datang. Bahkan, kali ini data yang bocor tidak main-main, yakni data intelijen milik Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI.
Data intelijen kemiliteran itu diunggah oleh peretas yang mengaku sebagai MoonzHaxor di situs BreachForum. Disebutkan, data yang dibocorkan termasuk sampel yang dapat diunduh secara cuma-cuma melalui situs tersebut.
Baca Juga
Data Sidik Jari Warga RI Bocor di Dark Web, Begini Respon Pemerintah
Sebagai catatan, situs yang digunakan untuk mengunggah data tersebut hanya dapat diakses menggunakan jejaring tertutup atau dark web. Situs tersebut tidak terindeks oleh mesin pencari dan hanya bisa diakses menggunakan peramban (browser) tertentu.
"MoonzHaxor, salah satu anggota yang terkenal di BreachForum telah mengunggah dokumen dari BAIS. Dokumen yang dibocorkan termasuk sampel data yang bisa diunduh dan untuk data lengkapnya tersedia untuk dijual," demikian informasi mengenai kebocoran data BAIS yang ditulis oleh akun X ataubTwitter @FalconFeedsio pada Senin (24/6/2024).
Akun tersebut juga menyinggung bocornya data Badan Intelijen Negara (BIN) pada 2021. Disebutkan bocornya data Bais TNI kali ini memilki kemiripan dengan kebocoran data lembaga intelijen negara itu.
Pada 2021, publik dibuat geger oleh peretas yang mengaku sebagai Bjorka lantaran berhasil membocorkan data BIN di situs Breached.to. Data yang bocor diketahui berupa surat-surat yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan dokumen BIN berlabel rahasia pada rentang waktu 2019 hingga 2021.
MoonzHaxor juga diketahui sebagai pihak di balik bocornya data Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis). Data yang dibocorkan juga terbilang mengejutkan lantaran memuat sejumlah informasi sensitif.
Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh akun X @FalconFeedsio pada Sabtu (22/6/2024), data Inafis yang dibocorkan MoonzHaxor termasuk foto, rekam sidik jari, dan alamat surel. Data tersebut dijual dengan harga US$ 1.000 atau sekitar Rp 16,3 juta (kurs Rp 16.392/US$).
Baca Juga
Pusat Data Nasional Diserang Ransomware, Layanan Publik Terdampak Masih Belum Pulih Sepenuhnya
Terkait dengan bocornya data Inafis, Kepala Badan Siber dan Sandi Nasional (BSSN) Hinsa Siburian tak menampik data pelaksana teknis kepolisian itu memang bocor dan diperjualbelikan di dark web. Namun, data tersebut data lama yang berpengaruh terhadap layanan Inafis.
"Hasil koordinasi dengan kepolisian, ini kan datanya ditemukan dari dark web atau pasar gelap. Jadi tentu kita cross check dan konfirmasi dengan kepolisian. Apakah benar ini data kalian? Itu (kepolisian) bilang data lama," katanya di kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Jakarta, Senin (24/6/2024).

