Rupiah Terus Melemah, Bagaimana Nasib Pembangunan Ibu Kota Nusantara?
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah. Nilai tukar rupiah berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, Kamis (20/6/2024) berada di level Rp 16.420 per dolar AS atau melemah dari hari sebelumnya di posisi Rp 16.368.
Lantas, apakah melemahnya rupiah berdampak terhadap naiknya nilai kontrak serta harga bahan baku material untuk proyek-proyek di Ibu Kota Nusantara (IKN)?
Menanggapi hal tersebut, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sekaligus Plt Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Basuki Hadimuljono mengatakan, proyek IKN dan semua sektor perekonomian Indonesia pasti akan terdampak menguatnya dolar AS.
“Sebetulnya (lemahnya rupiah) kalau akan berdampak tidak hanya di IKN, di tempat lain pun pasti akan berdampak,” kata Basuki saat ditemui di kantor Kementerian PUPR, Jakarta, Jumat (21/6/2024).
Baca Juga
Basuki menambahkan, anggaran proyek IKN memang bisa membengkak karena eskalasi harga dolar AS. Situasi serupa, sambung dia, juga sudah terjadi terhadap berbagai proyek infrastruktur di masa pandemi Covid-19.
Untuk itu, Basuki mengutip pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati yang menyatakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) berfungsi sebagai salah satu instrumen untuk mengatasi berbagai peristiwa yang berdampak pada perekonomian nasional alias shock absorber.
“Ya, dulu waktu pandemi juga membengkak. Jadi situasional, makanya Bu Menkeu selalu bilang bahwa instrumen kita APBN. APBN sebagai instrumen untuk itu,” tutur dia.
Basuki mengungkapkan dalam waktu dekat akan membahas mengenai kondisi perekonomian nasional bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi). Salah satu topik yang akan dibahas adalah mengenai IKN.
Jika pemerintah sudah memutuskan terjadi kondisi kahar (force majeure), kata Basuki, tidak menutup kemungkinan terjadi eskalasi terhadap nilai kontrak berbagai proyek yang dikerjakan PUPR di IKN.
“Kalau itu biasanya harus ada keputusan kahar nasional supaya yang lain bisa eskalasi ini, tetapi sampai sekarang belum ada. Kalau dia keputusan nasional bisa eskalasi,” tutup dia.
Berdasarkan informasi yang diterima investortrust.id, kurs rupiah bergerak melemah dalam pembukaan perdagangan Jumat (21/6/2024) pagi. Berdasarkan data RTI, rupiah terkoreksi tipis 3 poin atau 0,02% ke Rp16.428/US$ pada pukul 10.55 WIB, dibandingkan kemarin. Secara year-to-date, rupiah sudah melemah 6,71% terhadap greenback.
Sementara itu, dilansir dari Yahoo Finance, hingga pukul 09.00 WIB, nilai tukar mata uang Garuda berada di level Rp16.469/US$. Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro menyebutkan, pergerakan rupiah telah menembus level psikologis 16.400/US$, disebabkan menguatnya indeks dolar Amerika Serikat, dengan fundamental ekonomi di negara dengan perekonomian terbesar di dunia tersebut juga bergerak fluktuatif.
Baca Juga
Soal 2.086 Hektare Lahan Terdampak Pembangunan IKN, Menteri Basuki: Selesai dalam Waktu Dekat
Salah satu yang disorot oleh ekonom Mandiri itu adalah klaim data pengangguran awal AS yang berada di atas ekspektasi pasar, dan relatif mendekati level tertinggi dalam 10 bulan hingga pertengahan Juni 2024. Sementara, perumahan baru dan izin mendirikan bangunan secara tak terduga menurun berdasarkan data beberapa waktu lalu (24/5/2024) waktu setempat.
“Data tersebut konsisten dengan kontraksi tak terduga dalam penjualan ritel setelah otomotif, menurut laporan yang dirilis awal pekan ini. Itu menunjukkan goyahnya ketahanan perekonomian AS terhadap kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed),” kata Andry di Jakarta, Jumat (21/6/2024).

