Pembangunan IKN Jangan Lupakan Penduduk Lokal, Suku Banjar
Oleh Pangeran Cevi Yusuf Isnendar,
generasi keempat keturunan Sultan Banjar
INVESTORTRUST.ID - Presiden Joko Widodo (Jokowi) optimistis penyelenggaraan upacara Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Ke-79 RI dapat digelar di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, pada 17 Agustus nanti. Tentunya, kami sebagai warga warga suku Banjar yang mendiami Tanah Kalimantan sangat mendukung.
Namun, sangat disayangkan, meski suku Banjar secara turun-temurun mendiami Pulau Kalimantan, termasuk di kawasan yang kini dibangun menjadi ibu kota negara baru, keberadaannya diabaikan. Padahal di pulau besar yang berbagi wilayah perbatasan dengan Malaysia dan Brunei Darussalam tersebut tidak hanya dihuni oleh suku Dayak, yang selama ini lebih dikenal masyarakat luas dan dikenali pemerintah.
Baca Juga
Pembangunan Istana Negara di IKN Masuki Fase Pengerjaan Interior
Kesultanan Banjar yang sudah ada sejak sekitar tahun 1.300 ini bahkan tercatat dalam dokumen perjalanan Kamar Dagang Inggris, yang mengunjungi pusat kesultanan. Pedagang Inggris sangat terpesona, bahkan memberi catatan tidak ada kerajaan lain yang ditemuinya yang lebih kaya dari Kerajaan Banjar.
Namun, kemudian, datanglah pendudukan Belanda yang memenggal banyak kepala pejuang Banjar. Kaum penjajah ini terakhir menangkap Sultan Hidayatullah, pada 2 Maret 1862, dan mengasingkannya ke Cianjur, Jawa Barat. Setelah wafat, Sultan dimakamkan di tanah pengasingan dan hingga kini makamnya dirawat dengan baik oleh keturunannya.
Momentum Revitalisasi Suku Banjar
Bersamaan dengan perang Banjar terakhir, penjajah Belanda menghancurkannya Kesultanan Banjar, dan mengangkut kekayaan kesultanan ke negaranya. Kesultanan ini memiliki sumber daya alam dan kebudayaan yang luar biasa, termasuk pertambangan intan di Martapura, yang terbesar di Tanah Air.
Tak hanya memiliki pertambangan intan, Banjar juga memiliki budaya tinggi, yang tecermin dari berbagai produk berkualitas yang dihasilkan. Ini termasuk Kain Sasirangan, yang merupakan kain adat suku Banjar.
Banjar juga sudah dikenal dengan komoditas pertaniannya yang bernilai tinggi seperti lada hitam, yang menarik banyak pedagang dari Eropa karena dibutuhkan di Benua Biru tersebut. Saking mahalnya, para pedagang bule ini membawa emas untuk membeli lada hitam dari Kesultanan Banjar.
Baca Juga
Konsorsium Brunei Darussalam Siap Jajaki Investasi di IKN Rp 7 Triliun
Komoditas lain yang sangat berharga adalah kayu gaharu. Selain itu, ikan-ikannya sangat banyak di wilayah yang dikenal sebagai ‘daerah seribu sungai’. Ada pula batu bara, yang sangat dibutuhkan Belanda sejak dulu.
Oleh karena itu, momentum pembangunan IKN sangatlah tepat bagi pemerintah untuk merevitalisasi masyarakat suku Banjar, seni budaya, hingga potensi perekonomiannya. Ini termasuk dengan membangun ikon pariwisata Banjar.
Pemerintah jangan sampai mengulang tragedi lama, membangun luar biasa pesat Jakarta sebagai ibu kota, tapi suku Betawi yang merupakan penduduk aslinya terpinggirkan. Warga bahkan terpental dari tanah yang diwariskan para leluhurnya. ***

