Momentum May Day, Elemen Buruh Tegaskan Terima Hasil Pemilu 2024
JAKARTA, investortrust.id - Dalam peringatan Hari Buruh Internasional atau yang popular dengan istilah May Day, sejumlah elemen buruh menegaskan diri untuk menerima hasil pemilihan umum (pemilu) 2024.
Sikap tersebut setidaknya ditunjukkan oleh dua elemen buruh yang cukup besar, yakni Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) pimpinan Said Iqbal serta Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) yang dikomandoi Andi Gani Nawa Wea.
Andi Gani mengatakan, KSPSI dan KSPI tidak lagi mempermasalahkan persoalan hasil pemilu 2024. Menurutnya kontestasi telah selesai tepat setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menolak permohonan gugatan sengketa perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) yang sekaligus mengesahkan Keputusan KPU Nomor 360 Tahun 2024 tentang Penetapan Hasil Pemilu.
Baca Juga
Meski demikian ia menilai wajar bagi siapapun pihak yang merasa memiliki hak untuk bertarung baik dalam rangkaian proses pemungutan suara maupun saat persidangan di MK. Ia berujar, termasuk elemen buruh turut berjuang saat menghadapi proses persidangan di MK.
"Tapi ketika MK memutuskan lain, kami kaum buruh menerima dari KSPSI dan KSPI, terima kasih," kata Andi Gani saat dijumpai di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, Rabu (1/5/2024).
Sementara itu dalam momentum May Day kali ini, KSPSI bersama Partai Buruh dan KSPI membawa dua tuntutan Utama. Di antaranya adalah menuntut untuk dicabutnya Omnibus Law (Undang-Undang Cipta Kerja) serta hapus outsourcing dan tolak upah murah (Hostum).
Sejumlah massa yang tergabung dalam elemen Partai Buruh, KSPI dan KSPSI pada hari Rabu (1/5/2024) mengawali aksi unjuk rasa sekitar pukul 09.00 WIB di Kawasan patung kuda, Thamrin, Jakarta. Kemudian massa bergerak menuju Stadion Madya Senayan, Jakarta, sekitar pukul 12.30 WIB.
Baca Juga
Kemenkominfo Kasih Bocoran Kunjungan Bos NVIDIA Jensen Huang ke Indonesia
"Hari ini 50.000 buruh turun ke Jakarta, dan kita kembali (dengan damai) ke Stadion Madya Senayan, menunjukkan bahwa buruh sangat-sangat dewasa," ucap Andi Gani.
Presiden KSPSI tersebut turut menyoroti soal upah murah yang saat ini dialami oleh mayoritas buruh di Indonesia. Ia mengatakan saat ini kenaikan upah rata-rata berkisar di angka Rp 50.000 - Rp 60.000.
Selain itu ia turut mengkritik perihal perbedaan upah minimum yang sangat berbeda jauh di sejumlah wilayah. Ia mencontohkan, seperti di wilayah Jawa Barat terdapat upah minimum sebesar Rp 4 juta sementara di sisi lain terdapat upah minimum yang hanya mencapai Rp 1,5 juta di Jawa Tengah.
"Padahal harga mie instan di masing-masing tempat sama," tandas Andi Gani.

