Aroma Gerakan Kiri, dan Cerita Kelam di Balik Hari Buruh Internasional
JAKARTA, investortrust,id - Sejak lebih dari seratus tahun silam, tanggal 1 Mei telah ditetapkan sebagai Hari Buruh Internasional. Persisnya, sejak diputuskan dalam Kongres Buruh Internasional yang diadakan di Paris pada tahun 1889. Pada kongres yang dihadiri oleh organisasi berhaluan kiri sedunia tersebut, diputuskan untuk menetapkan tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional untuk menghormati perjuangan gerakan buruh dalam mencapai hak-hak pekerja, kondisi kerja yang layak, dan perubahan sosial ekonomi yang lebih besar.
Di Tanah Air, persis baru satu dekade silam para pegiat dan aktivis buruh Indonesia bisa menikmati hari buruh sebagai hari libur nasional. Penetapan 1 Mei sebagai hari libur nasional menjadi semacam pengakuan pemerintah Indonesia terhadap pentingnya peran buruh dalam pembangunan negara dan penghormatan terhadap perjuangan mereka untuk hak-hak para pekerja.
Hari Buruh Internasional mulai ditetapkan sebagai hari libur nasional sejak tahun 2014 di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pada tahun 2014, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menandatangani Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2014 tentang Hari-Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2015. Dalam keputusan tersebut, tanggal 1 Mei ditetapkan sebagai salah satu dari beberapa hari libur nasional di Indonesia.
Sebelum era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pemerintah Indonesia pada masa Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto mengambil sikap keras terhadap peringatan Hari Buruh Internasional, khususnya pada era awal pemerintahannya.
Sejumlah alasan menjadi latar belakang kerasnya Orde Baru menafikan gerakan buruh yang terorganisir, yang tecermin dalam gerakan-gerakan peringatan Hari Buruh Internasional. Bisa dimaklumi, Orde Baru berdiri setelah berhasil menyapu bersih pengaruh dan ideologi gerakan kiri yang sempat menjadi rival bagi kekuatan pembentuk rezim. Sementara rezim kala itu masih alergi akut pada gerakan buruh atau pengorganisasian buruh baik dalam bentuk demonstrasi atau peringatan Hari Buruh, yang dinilai masih mengeluarkan aroma-aroma gerakan kiri.
Pemerintah Orde Baru saat itu juga sangat mengutamakan kestabilan politik dan keamanan, sehingga peringatan Hari Buruh dinilai sebagai potensi sumber ketidakstabilan dan konflik sosial, terutama karena demonstrasi atau protes yang sering terjadi pada tanggal tersebut. Dan berikutnya Kepres Nomor 24 Tahun 2014 tentang Hari-Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2015 menjadi titik balik eksisnya para buruh dalam porsi pembangunan dan pengembangan perekonomian bangsa.
Asal Muasal MayDay
Menilik sejarah ditetapkannya Hari Buruh atau May Day hingga diperingati secara internasional, sejatinya rangkaian kegiatan tersebut nyaris tak ada hubungannya dengan gerakan dan ideologi kiri yang lahir dari Uni Soviet pasca jatuhnya Tsar Nicholas II. Sejarah terbentuknya Uni Soviet justru masih jauh lebih muda usianya dari kelahiran gerakan para buruh, yang berujung pada penetapan Hari Buruh Internasional.
Asal muasal penetapan hari buruh sendiri memiliki hulu di negara dengan predikat ‘surga kapitalisme’, yakni Amerika Serikat. Kok Bisa?
Jadi, pada tanggal 1 Mei tahun 1886, sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja mereka menjadi 8 jam sehari, dari yang biasanya selama 16 jam, bahkan ada yang harus bekerja selama 20 jam sehari. Aksi ini berlangsung selama 4 hari sejak tanggal 1 Mei 1886.
Pada tanggal 4 Mei 1886 (beberapa literatur menyebut masih terjadi pada tanggal 1 Mei 1886, red) terjadi insiden dalam demonstrasi yang digelar di Chicago, yang belakangan dikenal sebagai Peristiwa Haymarket. Pada hari itu, ribuan pekerja, yang mayoritas adalah buruh industri, turun ke jalan untuk memperjuangkan hak-hak mereka, termasuk tuntutan jam kerja delapan jam sehari.
Demonstrasi ini berlangsung damai hingga kekerasan meletus ketika polisi berusaha membubarkan kerumunan. Ledakan bom dan pertempuran sengit mengakibatkan kematian beberapa orang, termasuk polisi. Kejadian ini memicu penggerebekan massal terhadap para aktivis buruh, dan delapan orang di antaranya, yang dikenal sebagai "Martyrs of Chicago" atau "Haymarket Martyrs", dihukum mati atau dipenjara atas tuduhan terorisme yang kontroversial.
Berikutnya, pada bulan Juli 1889, Kongres Sosialis Dunia yang diselenggarakan di Paris menetapkan peristiwa di Amerika Serikat pada tanggal 1 Mei 1886 tersebut sebagai hari buruh sedunia. Sebuah resolusi pun dilahirkan yang intinya menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari, dan melaksanakan semua hasil Kongres Buruh Internasional Prancis.
Resolusi ini mendapat sambutan yang hangat dari berbagai negara dan sejak tahun 1890, tanggal 1 Mei, yang diistilahkan dengan May Day, diperingati oleh kaum buruh di berbagai negara, dan akhirnya ikut diperingati secara nasional di Indonesia.

