Menelisik Gerakan Radikal Kiri AS lewat “One Battle After Another”, Tonton Sebelum Anda Bokek
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Sejak 8 September lalu, One Battle After Another telah tayang di bioskop asal negara tempat ia diproduksi, Amerika Serikat. Ada beberapa hal yang membuat film aksi-thriller ini layak ditonton, dan kalau boleh disebut, wajib. Setidaknya sebelum Anda bokek dan lebih memilih nonton film bajakannya di situs-situs tak resmi.
Di Indonesia, film ini masih diputar di sejumlah bioskop jaringan 21 Cineplex atau XXI, termasuk CGV Cinemas dan Cinépolis (Cinemaxx). Pastinya belum ketinggalan untuk bisa menyaksikan film apik ini.
Pertama, bolehlah karena nama-nama pemain utamanya yang bukan aktor kacangan. Mereka adalah Leonardo DiCaprio, Sean Penn, Benicio del Toro. Diperkuat dengan para bintang muda seperti Regina Hall, Teyana Taylor, dan Chase Infiniti.
Tiga nama pertama tadi memang bukan aktor lawas yang kehabisan peran, sehingga akan asal-asalan menerima tawaran produser untuk bermain di film apapun demi uang.
Kualitas aktingnya? Ah, Leonardo DiCaprio kendati sempat dianggap pretty boy on cinema, sejatinya sejak remaja sudah menunjukkan kelasnya dalam akting. Coba tonton film “What Eating Gilbert Grape” produksi tahun 1993 ketika DiCaprio di usia 17 tahun harus berperan menjadi Arnie yang mengalami disabilitas intelektual. Aktingnya yang cerdas saat memerankan anak keterbelakangan mental ketika ibunya yang super obesitas mati, mampu membuat mewek para kritikusnya.
Ia juga bermain gemilang sebagai orang pengidap skizofren di “Shutter Island” di 2010, dan berikutnya di “Wolf of The WallStreet” tiga tahun kemudian, serta “The Revenant” pada 2015 yang merupakan kisah dari buku dengan judul yang sama hasil tulisan Michael Punke. DiCaprio mencapai mimpinya meraih Piala Oscar di “The Revenant”. Sebiji Piala Oscar alias Academy Award, lalu dari British Academy Film Award, dan tiga piala Golden Globe Awards pasti jadi jaminan mutu film-film yang ia bintangi.
Berikutnya Sean Penn, yang dulunya sempat beristerikan Madonna, juga pernah dikenal sebagai Anak Nakal (sama seperti judul film yang ia bintangi di tahun 1983, Bad Boys) yang dianggap hanya mengandalkan muke ganteng. Makin ke sini, para penonton sinema dunia makin diyakinkan bahwa ia bukan orang sembarangan di dunia akting. Penn sejauh ini sudah mengoleksi sejumlah penghargaan termasuk dua Piala Oscar, satu Golden Globe Award, satu Screen Actors Guild Award, serta beberapa nominasi lainnya termasuk tiga British Academy Film Awards (BAFTA), satu Emmy Award, dan satu Grammy Award. Ia juga menerima penghargaan kehormatan Honorary César pada tahun 2015. Nggak bikin ragu kan?
Lalu Benicio del Toro, kendati nggak ganteng-ganteng juga seperti dua nama sebelumnya, pria dengan nama asli Benicio Monserrate Rafael del Toro Sánchez juga sudah punya koleksi satu Academy Award (Oscar), satu BAFTA Award, satu Golden Globe, satu Goya Award, hingga satu penghargaan Aktor Terbaik di Festival Film Cannes, serta satu Silver Bear.
Menurut penulis, del Toro mampu menonjolkan kharismanya di setiap peran cool yang ia jalankan. Kalau nggak bisa kita sebut perannya memang dingin (cool artinya dingin kan?).
Benicio del Toro berhasil meraih Academy Award sebagai Aktor Pendukung Terbaik atas perannya sebagai polisi bermoral di drama kriminal karya Steven Soderbergh, Traffic (2000). Tapi soal kharisma, sila tonton film Sicario yang dibuat dalam tiga sekuel, Sicario (2015), Sicario: Day of the Soldado (2018) dan Sicario: Capítulo Final dirilis pada tahun 2024. Dua sekuel pertama mendapatkan rating di atas tujuh dari IMDB, sementara sekuel terakhir tak melibatkan del Toro. Kalo mau lihat seberapa kewl del Toro di film terbaru, tonton juga “The Phoenician Scheme”.
Bahas bintang utamanya jadi lupa bahas apa isi ceritanya. Jadi sedikit cerita, One Battle After Another menceritakan tentang pasangan revolusioner "Ghetto" Pat Calhoun yang akhirnya berganti nama menjadi Bob Anderson (DiCaprio), dan Perfidia (Teyana Taylor). Keduanya merupakan anggota kelompok ultra kiri French 75 di Amerika. French 75 setidaknya digambarkan sebagai kelompok kiri yang menentang supremasi kulit putih yang salah satunya menjalankan kebijakan anti imigran. Kelompok ini membuat masalah dengan otoritas keamanan karena membebaskan para imigran yang ditahan di sebuah pusat detensi di California.
Saat upaya pembebasan imigran, Perfidia harus berurusan dengan polisi bernama Steven Lockjaw yang memiliki obsesi seksual pada wanita kulit berwarna. Saat ia berhasil menangkap Perfidia, ia menjanjikan kebebasan asal Perfidia berkenan menyebutkan nama para anggota French 75, dan berikutnya harus mau tidur dengannya. Perfidia hamil.
Singkat kata, sebagian besar gerakan French 75 lumpuh dengan terbunuh dan ditangkapnya sejumlah tokoh kunci. Termasuk Perfidia yang menjalani tahanan rumah.
Namun French 75 masih menyisakan Pat Calhoun yang bersembunyi bersama anak yang dikandung Perfidia, Charlene. Sementara Perfidia berhasil kabur dan melarikan diri ke Meksiko untuk melanjutkan perjuangannya.
Drama dan konflik utama mulai di sini, karena Lockjaw yang telah menerima tawaran bergabung dalam kelompok supremasi kulit putih yang ia rindukan -- Christmas Adventurers -- mengetahui bahwa Pat Calhoun masih hidup, dan tinggal bersama seorang anak yang diduga merupakan benihnya bersama Perfidia, Charlene.
Kehadiran Charlene menjadi noda penghambat langgengnya keanggotaannya di Christmas Adventurers. Organisasi ini dianggapnya sebagai pengakuan eksistensi kasta tertinggi bagi kehidupan pribadinya. Tak cuma Charlene, Lockjaw harus berhadapan dengan kematian karena ia telah mencoreng ‘baiát’ keanggotaan Christmas yang mengharamkan anggotanya berhubungan dengan wanita dari ras kulit berwarna.
Maka fase berikutnya dari cerita ini adalah perburuan.
Lockjaw mengerahkan kompinya untuk mencari tahu di mana Charlene yang menggunakan nama baru Willa Anderson disembunyikan Calhoun yang telah tenteram menggunakan nama Bob Anderson. Sementara itu kelompok supremasi kulit putih Christmas Adventurers tanpa sepengetahuan Lockjaw, membuat misi perburuan atas Lockjaw yang telah merusak kesucian darah organisasi. Calhoun? Dia harus mencari Willa yang berhasil diringkus Lockjaw.
Imigran, Tema Klise yang Masih Jadi Jualan Namun Kontekstual
Tema nasib para imigran yang dituangkan dalam film Amerika memang bukan hal baru. Bahkan boleh dibilang klise, karena telah lahir begitu banyak kisah tentang para imigran dan implikasi sosialnya yang dituangkan dalam film. Maklum, Amerika kan negara yang dibangun dan didirikan oleh para imigran. “Everywhere immigrants have enriched and strengthened the fabric of American life,” kata mendiang John F. Kennedy sebelum terbunuh.
Tema imigran juga bukan hal baru buat Penn, yang sempat berduet dengan Al Pacino di “Carlito’s Way” sebagai pengacara (tampilannya bikin pangling penonton di sini), juga bertemakan kelompok imigran bermasalah yang menjalankan bisnis tak legal.
Tampaknya tema nasib imigran ini pula yang membuat del Toro bersedia dilibatkan dalam proyek “One Battle….” Dalam satu kesempatan wawancaranya dengan Euronews, del Toro pernah mengemukakan ketidaksetujuannya pada konsep subhuman yang didasarkan hanya pada warna kulit, agama, atau asal-usul mereka. Di film ini ia berperan sebagai Sensei Sergio St. Carlos yang menyediakan sanctuary bagi para imigran asal Amerika Latin di kota yang bernama Baktan Cross.
Peran ini amat sesuai dengan prinsip yang ia anut soal kemanusiaan, sehingga begitu menerima tawaran dari sutradara Paul Thomas Anderson, ia langsung berjabat tangan tanda setuju, dan membaca keseluruhan skrip skenario. "Menurut saya, yang dimiliki film ini—dan yang kadang tidak dimiliki film-film besar—adalah banyak unsur kemanusiaan, selera humor, kegagalan para karakternya; semuanya—tidak ada satu pun yang digambarkan secara satu dimensi dalam film ini," tuturnya.
Peran di “One Battle....” setidaknya memberikan kesempatan bagi del Toro untuk menunjukkan antipatinya pada visi ‘America First’ Presiden Donald Trump, yang berujung lahirnya kebijakan anti imigran. Film ini terasa sangat kontekstual bagi del Toro, karena Trump telah menerbitkan sejumlah kebijakan yang tak bersahabat bagi para imigran dan pekerja asing di Amerika Serikat.
Ingat kan, saat periode pertama Trump di 2016, Trump langsung menerbitkan kebijakan pembangunan pagar beton sepanjang 700 km yang akan menutup perbatasan Meksiko. Termutakhir, Trump telah merazia 475 pekerja asal Korea Selatan di pabrik Hyundai, di Georgia. Lalu menaikkan biaya visa H-1B khusus untuk pekerja terampil menjadi Rp 1,65 miliar dari awalnya sekitar Rp 32 juta. Kebijakan-kebijakan ini tentu bertujuan agar semakin besar pangsa lapangan kerja untuk penduduk asli Amerika Serikat, dan bukan untuk para pendatang. Hal ini lah yang kerap membuat del Toro merasa mules dan akhirnya memilih posisi menjadi penentang kebijakan Trump. Dan perannya sebagai Sergio St. Carlos menegaskan pendirian dan posisinya.
Hal yang sedikit segar dalam film ini adalah kemunculan gerakan radikal kiri yang dijadikan tema ancaman stabilitas nasional Amerika Serikat. Tema yang amat jarang dibuat di film-film Holywood masa kini. Biasanya, musuh bersama yang menjadi tema utama cerita selalu gerakan kelompok-kelompok jihadis serta kelompok mafia Rusia, atau spionase Eropa Timur. Sebuah tema lazim yang digunakan oleh para pembuat film AS untuk mampu merangkum simpati penontonnya, sebagai bentuk refleksi atau realitas musuh geopolitik global AS kontemporer.
Bisa jadi para pembuat film memilih alur gampangan clear cut enemies atau musuh bersama yang jelas, karena ogah ambil risiko filmnya tak laris di pasar domestik. Ingat juga dalam satu periode tertentu, film-film laga Amerika kerap diisi cerita kemenangan para prajurit AS di Vietnam. Sebuah upaya ‘halu’ para film maker untuk mengobati perihnya kekalahan AS di Indochina. Periode ini mampu melahirkan tokoh film bernama Rambo yang hingga kini masih terus dianggap pahlawan di layar lebar. Gak aneh kok, karena Indonesia pun melakukan hal serupa di industri film lokalnya, dengan tayangnya film “Pengkhianatan G30S/PKI” garapan sutradara Arifin C Noer.
Tapi apa iya gerakan radikal kiri pernah punya tempat di Amerika Serikat. Jawabannya, iya.
Kisah Gerakan Kiri Radikal di Amerika Serikat
Sedikit cerita, Amerika Serikat pernah mengalami sebuah periode penuh kecemasan pada era 1970-an, yang dalam beberapa kajian historis disebut fenomena Red Scare. Meskipun istilah tersebut secara formal lebih dikenal pada dua gelombang sebelumnya, yakni Red Scare pasca Revolusi Bolshevik 1917 dan masa McCarthyisme antara 1947 hingga 1957. Pada dekade 1970-an ketakutan terhadap komunisme dan radikalisme kiri tetap hidup, kali ini bercampur dengan kecemasan munculnya gerakan anarkis dan kelompok revolusioner domestik yang mengancam stabilitas nasional.
Periode ini ditandai dengan munculnya berbagai kelompok kiri radikal yang memiliki ideologi Marxisme, anti-imperialisme, anti-rasisme, serta garis perjuangan bersenjata. Salah satu yang paling dikenal adalah Weather Underground Organization (WUO), yang lahir sebagai pecahan dari kelompok mahasiswa progresif bernama Students for a Democratic Society (SDS). Dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Bernardine Dohrn, Bill Ayers, dan Mark Rudd, Weather Underground melancarkan berbagai aksi pengeboman terhadap gedung-gedung pemerintah, kantor polisi, dan fasilitas militer, termasuk Pentagon dan US Capitol. Sebuah gerakan mengerikan buat publik AS yang mengagungkan demokrasi.
Namun sejatinya aksi-aksi tersebut gak bisa dibilang ekstrem. Pasalnya setiap aksi kekerasan dan teror dilakukan dengan memberikan peringatan terlebih dahulu agar tidak menimbulkan korban jiwa. Pada awal 1980-an, gerakan ini mulai meredup setelah banyak anggotanya tertangkap, menyerahkan diri, atau hidup secara klandestin.
Selain WUO, ada Black Panther Party, sebuah organisasi revolusioner kulit hitam yang berideologi sosialisme. Didirikan oleh Huey Newton dan Bobby Seale, kelompok ini fokus pada pendidikan politik, patroli bersenjata untuk mengawasi tindakan brutal polisi terhadap komunitas kulit hitam, hingga penyediaan layanan sosial seperti sarapan gratis dan klinik kesehatan.
Gerakan ini tampak seperti gerakan Sarekat Islam era akhir abad 19 di Indonesia. Namun di AS dianggap sebagai ancaman terhadap status quo, sehingga mereka menjadi target utama program kontra-intelijen FBI yang dikenal sebagai COINTELPRO. Operasi ini mencakup infiltrasi, penyadapan, provokasi internal, hingga upaya disinformasi untuk memecah belah organisasi.
Akhirnya, Black Panther Party melemah menjelang akhir dekade 1970-an akibat tekanan dari negara dan perpecahan internal.
Berikutnya salah satu kelompok ekstrem lain yang muncul adalah Symbionese Liberation Army (SLA), yang paling dikenal karena menculik Patty Hearst, cucu konglomerat surat kabar William Randolph Hearst.
SLA adalah kelompok kecil bersenjata yang mengusung ideologi anti-kapitalisme dan anti-rasisme. Mereka terlibat dalam baku tembak dengan polisi dan operasi bersenjata lainnya. Sejumlah anggotanya tewas dalam konfrontasi bersenjata dengan aparat keamanan, sementara Patty Hearst sendiri kemudian ditangkap dan diadili, meskipun belakangan ia mendapat pengampunan.
Menjelang akhir 1970-an dan memasuki dekade 1980-an, banyak dari gerakan kiri radikal tersebut mulai menghilang, bermetamorfosis, atau kehilangan daya tariknya di mata publik. Sebagian aktivis kembali ke ranah sipil dan terlibat dalam perjuangan melalui jalur politik atau sosial yang lebih damai.
Ketakutan terhadap komunisme pun perlahan beralih ke isu-isu baru seperti terorisme, perdagangan narkoba, dan ekspansi kapitalisme global.
Tapi jika menelisik kisah Amerika Serikat, fenomena red scare periode pertamalah yang dianggap paling mengerikan di sejarah modern Amerika Serikat.
Ditandai dengan kemenangan Revolusi Bolshevik di Rusia pada 1917, tanah Amerika Serikat pun ikut diwarnai oleh meningkatnya gelombang pemogokan buruh, kerusuhan rasial, serta ledakan-ledakan bom yang dilakukan oleh kelompok anarkis.
Berusaha mengeliminir unsur-unsur marxisme di Amerika, Jaksa Agung Amerika Serikat, A. Mitchell Palmer menggelar serangkaian penangkapan besar-besaran terhadap imigran dan aktivis sayap kiri, yang dikenal dengan sebutan Palmer Raids. Operasi ini dimulai pada tahun 1919 dan memuncak pada awal 1920, dengan ribuan orang ditangkap tanpa surat perintah, disiksa selama interogasi, dan dideportasi tanpa pengadilan yang layak. Bersama dengan Edgar Hoover muda — yang kelak menjadi Direktur FBI — Palmer membentuk divisi intelijen khusus untuk mengidentifikasi dan menghancurkan organisasi-organisasi yang dianggap subversif.
Orang-orang ditangkap hanya karena afiliasi politik, etnisitas (terutama imigran Italia, Yahudi, dan Rusia), atau karena ikut serta dalam kegiatan buruh. Tidak sedikit pula yang mengalami deportasi massal meskipun tidak memiliki bukti keterlibatan dalam aksi kekerasan. Pemerintah dan media saat itu memperkuat narasi bahwa revolusi bisa terjadi kapan saja, sehingga menciptakan iklim paranoia di seluruh negeri.
Seiring waktu, opini publik berubah terutama setelah ramalan Palmer tentang pemberontakan besar-besaran pada 1 Mei 1920 terbukti tidak terjadi.
Jadi sejatinya “One Battle After Another” merupakan upaya Paul Thomas Anderson memberikan pintu masuk bagi publik AS, untuk memahami betapa sebuah gerakan kiri dan anarkisme yang merupakan “najis mugholadoh” bagi Amerika Serikat, faktanya pernah hidup subur kendati berumur pendek.
Sekali lagi, ”One Battle.........” juga menjadi suguhan cerita layar lebar yang amat kontekstual dengan kehidupan masyarakat di bawah rezim Trump 2.0. Berangkat dari soal alergi masyarakat pendatang dan stigma perebut lapangan kerja, hingga masih suburnya kelompok white supremacy yang amat berlawanan dengan jargon demokrasi ala Amerika Serikat. Semua yang diunggah Anderson di filmnya adalah realitas yang amat kontekstual bagi warga.
Akting Siapa yang Paling Gemilang?
Nah soal akting, DiCaprio jika mendengar ulasan kritikus film Brian Tallerico, dianggap berhasil membawa keseimbangan antara sisi emosional dan kekacauan ideologis dalam karakter Bob Anderson atau Calhoun. DiCaprio menunjukkan semangat revolusioner ketika dibutuhkan, tetapi tetap menjaga bahwa yang paling mendasari motivasinya adalah cinta sebagai seorang ayah, sehingga Bob terlihat sangat manusiawi, tidak hanya sebagai simbol revolusi atau kebingungan ideologis.
Buat del Toro, Top Film Magazine memujinya karena mampu menghadirkan keseimbangan emosional dan kedalaman moral yang berbeda dari karakter-karakter lain dalam film yang penuh kekacauan. Top Film menyebut Del Toro “in a smaller yet striking role” memberikan kontras penting terhadap karakter Bob (Leonardo DiCaprio) yang emosional dan kacau. Kendati majalah ini juga menyayangkan bahwa peran Sergio tak terlalu luas dieksplorasi dalam film.
Sedangkan akting Sean Penn, lagi-lagi seperti disampaikan Brian Tallerico di RogerEbert.com, sejak awal ia mampu memberikan gambaran karakter yang menyeramkan sekaligus hampir karikatural, namun tetap terasa manusiawi dalam sisi kebengisannya. Penn disebut Tallerico telah melakukan “best work in years” di karakter LockJaw.
Namun buat penulis, akting Sean Penn lah yang paling memukau. Jelang tragisnya nasib Lockjaw, Penn mampu menggambarkan kebahagiaan paripurna Lockjaw ketika ia dinyatakan telah diterima oleh kelompok white supremacy, The Christmas Adventure. Wajahnya telah berubah menyeramkan karena cacat akibat percobaan pembunuhan oleh anggota Christmas Adventurer, bibirnya rusak sehingga artikulasi ucapannya terganggu.
Lockjaw berusaha dengan susah payah walaupun bibirnya suing (sumbing, red) menyampaikan rasa terima kasihnya dengan mata berkaca. Dan di skena inilah ia mampu mengubah karakter kejam, bermuka menyeramkan akibat cacat, menjadi sosok yang begitu kecil karena anugerah keanggotaan kelompok supremasi kulit putih dirasa begitu agung buatnya.
Adegan kebahagiaan paripurna Lockjaw berlangsung beberapa menit, hingga ia diantar ke sebuah ruang khusus yang disebut sebagai kantornya. Adegan sangat sederhana, tapi Penn sanggup menggambarkan kekaguman Lockjaw pada sebuah meja, serta kursi untuk dirinya, yang telah menjadi anggota kelompok White Supremacy.
Diliputi rasa ekstasenya yang begitu tinggi karena telah berhasil hinggap di pucuk piramida Maslow, ia duduk di kursi untuk menjemput kematian oleh gas yang sengaja disiapkan untuk melenyapkan noda hina bagi white supremacy. Adegan berikutnya adalah gambar ia diseret ke tabung incinerator. Gilak, keren banget.
Naga-naganya nih, Penn bisa jadi bakal dinominasikan sebagai best supporting actor pada gelaran Academy Awards berikutnya.

