Peneliti BRIN Wanti-Wanti Bibit Siklon Penyebab Banjir Jakarta 2002 Dekati Jabodetabek
JAKARTA, investortrust.id - Ahli klimatologi Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dr Erma Yulihastin mengungkapkan kehadiran bibit siklon 91S yang makin mendekat Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Menurutnya, kehadiran bibit siklon ini merupakan momen langka dan menjadi penyebab banjir besar Jakarta pada 2002 lalu.
"Bibit siklon 91S semakin mendekat Jabodetabek. Ini adalah event langka yg mengulang penyebab banjir besar Jakarta," kata Erma dalam cuitan melalui akun Twitter atau X pribadinya @EYulihastin yang dikutip, Kamis (14/3/2024).
Baca Juga
PUPR Distribusikan Air Bersih ke Lokasi Terdampak Banjir Sumatera Barat
Erma mengatakan, hujan dini hari yang persisten selama berhari-hari di Jakarta. Dikatakan, kondisi yang terjadi saat banjir Jakarta 2002 mirip dengan saat ini. Banjir di Jakarta diawali dari hujan persisten dari 25 Januari dan semakin tinggi intensitasnya hingga ekstrem pada 29-30 Januari 2002.
"Hujan dini hari meluas mulai terbentuk di Jabodetabek. Hujan dini hari selalu berhubungan dengan propagasi hujan yang kuat. Kondisi ini diinisiasi sejak 11 Maret dari proses pergerakan vorteks dari Samudra Hindia menuju Jabodetabek," katanya.
Erma mengatakan, fenomena bibit siklon 91S ini seharusnya menjadi langka karena hanya terjadi 10 tahun hingga 50 tahun sekali. Namun, fenomena itu saat ini menjadi 3 hingga 5 tahun sekali.
"Itu membuktikan sinyal perubahan iklim yang membuat secara teori seharusnya langka menjadi semakin sering terjadi," katanya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan ada tiga bibit siklon tropis di wilayah Indonesia. Bibit siklon tropis 91S yang berada di sebelah tenggara Samudera Hindia memiliki kecepatan angin maksimum 25-35 knots dan tekanan udara minimum 997 hPa bergerak ke arah tenggara menjauhi wilayah Indonesia.
Baca Juga
BNPB Ungkap 30 Orang Meninggal Akibat Banjir dan Longsor di Sumbar
Kemudian, bibit siklon tropis 94S terpantau di Laut Timor bagian selatan, tenggara Nusa Tenggara Timur dengan kecepatan angin maksimum 15-20 knots dan tekanan udara minimum 1000 hPa bergerak ke arah timur.
Adapun bibit siklon tropis 93P masih terpantau di Teluk Carpentaria, bagian timur laut Australia, Tenggara Papua dengan kecepatan angin maksimum 15-20 knots dan tekanan udara minimum 1004 hPa bergerak ke arah timur hingga tenggara. Kemunculan tiga bibit siklon tropis sekaligus itulah yang menyebabkan cuaca basah masih menyelimuti Indonesia.

