Masyarakat dan Digital Teknologi Jadi Faktor Penting Pembangunan Kota Cerdas
JAKARTA, Investortrust.id - Analis Kebijakan Ahli Madya Direktorat Kawasan, Perkotaan, dan Batas Negara Kementerian Dalam Negeri, Gensly menyebut, dalam pembangunan kota cerdas (smart city) ada dua faktor utama yang harus dimiliki, yaitu kualitas masyarakat dan digital teknologi.
“Smart city itu yang utama masyarakatnya dan digital teknologi. Untuk mewujudkannya gak bisa sendiri-sendiri, meski kita tahu koordinasi dan kolaborasi ini sulit antar sektoral, baik di daerah maupun di pusat,” kata Gensly dalam acara Sosialisasi Nasional Permen PUPR No 10 Tahun 2023 tentang Bangunan Gedung Cerdas, Rabu (24/1/2024).
Dalam kesempatan serupa, Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR, Diana Kusumastuti menyampaikan, Permen dibuat sebagai aturan dan pedoman untuk mendukung penyelenggaraan bangunan dan gedung cerdas di Indonesia. Untuk mewujudkan kota cerdas harus didukung kehadiran gedung cerdas juga.
Terkait dengan pembangunan gedung cerdas, Gensly mengungkapkan ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya. Di antaranya adalah laju urbanisasi yang tinggi, di mana persentase penduduk yang tinggal di perkotaan pada 2020 mencapai 56,7%, dan pada 2045 diperkirakan menjadi 70%.
“Kemudian juga permasalahan perkotaan yang tak kunjung selesai dan semakin bertambah, seperti kemacetan, penumpukan sampah, penurunan kualitas air dan udara, hingga meningkatnya angka kriminalitas,” ujar Gensly.
Lebih lanjut Gensly menerangkan ada dua faktor pendukung dalam rangka mewujudkan kota cerdas, yakni ekosistem digital di Indonesia dan kebijakan transformasi digital. Ia melihat bagaimana masyarakat sekarang sangat bergantung terhadap teknologi dan digitalisasi.
“Saat ini dompet ketinggalan tidak apa-apa, tapi kalau handphone ketinggalan kita akan balik untuk ambil, karena semuanya di situ. Duit sudah tidak perlu bawa cash lagi. Inilah namanya bentuk-bentuk digitalisasi yang saya lihat sebagai faktor pendukung,” sebut dia.
Gensly memaparkan, saat ini jumlah koneksi ponsel mencapai 124% dari total populasi atau 338,2 juta koneksi. Adapun tingkat pengguna media sosial yaitu 61,8% (170 juta jiwa).

