KTNA Jawa Barat Ungkap Kendala Penyaluran Pupuk Bersubsidi ke Petani
JAKARTA, Investortrust.id - Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Barat, Otong Wiranta mengungkapkan, sejumlah kendala yang terjadi dalam penyaluran pupuk bersubsidi di lini IV, yakni pendistribusian dari kios ke tangan para petani.
Otong menyampaikan, kendala utama yang sering terjadi pada penyaluran karena para petani belum mengerti sepenuhnya tentang mekanisme mendapatkan pupuk. Apalagi dengan adanya perubahan tradisi dari cara konvensional ke elektronik, dari yang tadinya manual ke online.
Baca Juga
Bikin Aplikasi i-PUBERS, Pemerintah Ingin Distribusi Pupuk Bersubsidi Lebih Tepat Sasaran
“Para petani tingkat pendidikannya rendah, sehingga mereka hanya menginginkan sesuatu yang instan. Mereka datang, membawa uang, dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tanpa mereka sadar penebusan pupuk bersubsidi itu banyak sekali,” kata Otong dalam Webinar Transformasi Kebijakan Pupuk Bersubsidi i-PUBERS, Rabu (6/12/2023).
Lebih lanjut Otong menyebutkan salah satu mekanisme yang sering dilupakan petani dalam mendapatkan pupuk bersubsidi adalah daftar ulang. Menurutnya, hanya 20-30% petani saja yang mengerti mekanisme ini dan melakukan daftar ulang.
Kendala lainnya yang kerap terjadi adalah jaringan internet yang belumbisa terkoneksi ke semua daerah. Sehingga memaksa transaksi kembali ke proses manual.
Baca Juga
Investasi Rp 30 Triliun, Jokowi Groundbreaking Kawasan Industri Pupuk Pertama di Indonesia Timur
“Kemudian validitas data juga perlu terus disesuaikan sehingga semakin hari data yang tertuang dalam MBKK itu bukan data yang copy paste dari tahun kemarin. Sehingga banyak juga petani yang sudah tidak berdomisili di situ masih terdaftar dalam data tersebut,” paparnya.
Adapun kendala lainnya dikatakan Otong adalah kebijakan penyaluran di masing-masing daerah yang berbeda. Ia menyebut kebijakan-kebijakan lokal kadang-kadang memengaruhi daerah lain.
Dalam kesempatan tersebut Otong menyampaikan sejumlah aspirasi petani dalam perubahan skema penyaluran pupuk bersubsidi. Pertama ia meminta kemudahan bagi para petani untuk memperoleh pupuk bersubsidi, yakni hanya dengan membawa KTP dan tanpa proses yang rumit.
“Mungkin i-PUBERS bisa menjadi salah satu sistem yang mudah-mudahan mengadopsi ini. Karena petani tidak perlu susah-susah, hanya bawa KTP. Mudah-mudahan itu menjadi salah satu cara yang gampang,” ujarnya.
Aspirasi petani lainnya yang disampaikan Otong adalah pentingnya data penyaluran yang valid, karena sangat menentukan penyalurannya. Beberapa daerah juga ia sebut masih memerlukan jenis pupuk yang ternyata telah dihapus dalam daftar subsidi. (CR-8)

