Cerita Ahok Kawal Pertamina Cuan Miliaran Dolar
Reporter | Farhan Nugraha
Editor | Frans S. Imung
JAKARTA, investortrust.id - Basukit Tjahaja Purnama alias Ahok membagikan kisah ketika berhasil membawa PT Pertamina (Persero) meraih laba tertinggi dalam sejarah. Seperti yang diketahui, Ahok baru saja mengajukan permohonan pengunduran diri sebagai Komisaris Utama (Komut) PT Pertamina (Persero) sejak ditunjuk pada November 2019 lalu.
Sebagai BUMN, Ahok menilai Pertamina memiliki beban tersendiri. Beban itu dipikul Pertamina karena negara tidak menanggung beban operasional yang dikeluarkan perseroan.
"Di BUMN saya ditugaskan untuk menjaga, karena Pertamina waktu itu rugi. Beda dengan PLN, kalau PLN berapapun biaya operasionalnya diganti pemerintah," ungkap Ahok ketika menghadiri 'Ahok is Back' di bilangan Jakarta Selatan, Kamis (08/02/2024).
Ketika pertama menginjakkan kaki sebagai Komut, Ahok dihadapkan pada potensi kerugian perseroan hingga US$1 milyar. "Kenapa rugi? (Anak) perusahaan ada 700-an lebih, tidak tau uangnya ada berapa. Cucu-cicit perusahaan punya uang deposito, tetapi induk (perseroan) ngutang duit," tuturnya.
Dijelaskan Ahok perseroan terpaksa berutang akibat pemerintah membayarkan subsidi pada tahun berikutnya. Di sisi lain, Pertamina harus membayar kontan impor persediaan minyak.
"Begitu Himbara (Himpunan Bank Negara) udah mentok pinjamannya, Pertamina mengecer kemana-mana untuk pinjam duit, pinjaman jangka pendek pasti bunganya tinggi. Kita rugi ratusan miliar karena kalah kurs," terangnya.
Ahok mengaku langkah pertama yang dilakukan setelah ditunjuk menjadi Komut adalah dengan mengontrol arus keuangan anak-anak perusahaan Pertamina. Ahok juga melobi pemerintah untuk tidak menunda pembayaran subsidi kepada perseroan.
"Kita bilang ke Menteri Keuangan, kenapa mesti nunggu sampai 100 persen sih? Udah anggap aja 80 persen bayar dulu, sisanya baru kita adjust," sebutnya.
Menurut Ahok di tahun 2020 potensi kerugian justru bebalik. Perseroan mencatatkan laba sebesar kurang lebih US$1 Milyar di tahun 2020.
Ia juga menyebut tren kinerja positif perseroan terus berlanjut dalam beberapa tahun terakhir. Puncaknya di tahun 2022 dan 2023. "Meskipun harga minyak paling tinggi, tahun 2022 kita untung 3,8 milyar dolar. Tahun lalu belum diaudit ya, tahun lalu kita untung 4,3 milyar dolar," jelas Ahok.
Sebelum menanggalkan jabatannya, Ahok juga menyebut telah mempersiapkan agar kinerja perseroan tetap moncer di tahun 2024. Salah satunya dengan memangkas beban operasional, seperti sektor procurement.
"Kenaikan untung ini karena sistem. Tahun ini saya minta procurement pengadaan barang dan jasa potong 50%, tapi dinego 46%. Yaudah gue orangnya cincay, orang dagang kan yang penting cincay asal cuan," kelakar Ahok.
Ahok juga bercerita terkait banyak pihak yang menganggap ia bertindak diluar fungsi strategisnya sebagai Komut. "Banyak orang berpendapat saya sudah fungsi kaya Dirut. Makanya ketika DPR bilang saya itu Komut rasa Dirut, saya bilang bukan! Gua ini Dirut nyaruh Komut!" sentil Ahok.
