Mengenal Demo Rompi Kuning yang Disinggung Gibran dalam Debat
JAKARTA, Investortrust.id - Calon wakil presiden nomor urut 02, Gibran Rakabuming Raka, menyinggung soal Demo Rompi Kuning (Yellow Vest Movement) saat tampil di Debat Keempat Calon Wakil Presiden yang berlangsung Minggu (21/1/2024) malam WIB. Demo Rompi Kuning disebut Gibran saat adu argumen dengan cawapres nomor urut 03, Mahfud MD.
Pada awalnya Gibran bertanya kepada Mahfud bagaimana cara mengatasi greenflation (inflasi hijau). Namun, jawaban dari Mahfud ternyata tidak membuat Gibran puas. Ia lantas mengeluarkan gestur seolah sedang mencari sesuatu karena jawaban yang disampaikan Mahfud dinilainya melenceng.
“Saya nyari jawaban Prof Mahfud, masalah inflasi hijau kok ekonomi hijau. Greenflation terkait demo rompi kuning di Prancis, jangan sampai terjadi di Indonesia, kita harus belajar dari negara maju. Harus hati-hati transisi energi jangan mengalihkan hal yang mahal ke masyarakat kecil," ujar Gibran.
Demo Rompi Kuning
Dilansir dari Harvard University, Demo Rompi Kuning merupakan gerakan politik populis akar rumput untuk keadilan ekonomi yang dimulai di Prancis pada Oktober 2018. Gerakan ini terjadi setelah petisi online yang diunggah pada bulan Mei berhasil menarik hampir 1 juta tanda tangan.
Gerakan ini dilatarbelakangi oleh kebijakan yang dibuat Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menaikkan pajak bahan bakar. Disebutkan bahwa ada kenaikan 5 sen per galon untuk bensin di tahun 2020 dan 2 sen untuk solar.
Baca Juga
Beda dengan Gibran soal Greenflation, CSIS Sebut Transisi Energi Justru Bisa Timbulkan Deflasi
Tak ayal, kebijakan tersebut langsung mendapat reaksi dari masyarakat karena selama ini mereka sudah terbebani dengan tingginya biaya hidup di Prancis. Dilaporkan bahwa beban reformasi pajak yang dilakukan pemerintah tidak proporsional dan lebih banyak ditanggung oleh kelas pekerja dan kelas menengah, terutama di daerah pedesaan dan pinggiran kota. Demonstrasi masal pun dimulai pada 17 November 2018.
Para pengunjuk rasa menyerukan penerapan pajak bahan bakar yang lebih rendah, pemberlakuan kembali pajak solidaritas atas kekayaan, kenaikan upah minimum, penerapan referendum inisiatif Warga Negara, serta pengunduran diri Presiden Emmanuel Macron dan pemerintah.
Protes tersebut melibatkan demonstrasi dan pemblokiran jalan dan depot bahan bakar di Prancis, beberapa di antaranya berkembang menjadi kerusuhan dan serangan besar. Gerakan ini lantas mendapat perhatian internasional, dan pengunjuk rasa di banyak tempat di seluruh dunia.
Sementara itu, jaket kuning yang menjadi simbol perlawanan ini adalah rompi neon yang wajib dikenakan oleh pengemudi di Prancis jika terjadi keadaan darurat di pinggir jalan.

