Prevalensi Gizi Buruk Anak di Indonesia Ditekan Jadi 7% di 2024
JAKARTA, Investortrust.id - Indonesia berkomitmen untuk mengurangi prevalensi gizi buruk pada anak dari 10,2% pada tahun 2018 menjadi kurang dari 7% pada tahun 2024.
Hal ini disampaikan oleh Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Dida Gardera menghadiri Global Food Security Summit (GFSS 2023) : Towards Zero Hunger and Endling Malnutrition untuk tema Shifting the Dial on How We Address Child Wasting yang diselenggarakan di Lancaster House, London, Inggris, pada Senin (20/11/2023) lalu.
Pada kesempatan tersebut, Deputi Dida memberikan keynote speech pada sesi Creating New Approaches to Ending Preventable Deaths of Children.
Menurutnya Indonesia telah mencapai kemajuan yang signifikan dalam memerangi malnutrisi selama dua puluh tahun terakhir. Angka stunting pada balita turun dari lebih dari 40% pada tahun 2000 menjadi di bawah 30% pada tahun 2022.
Lebih lanjut, Deputi Dida juga menekankan kembali pentingnya kerja sama antar bangsa dan para pihak untuk berkolaborasi dalam menghilangkan kelaparan dan mengakhiri malnutrisi, khususnya child wasting.
Ia juga menyebut dunia perlu mendorong perubahan jangka panjang terhadap kelaparan dan malnutrisi. Dukungan seluruh pihak diperlukan guna meningkatkan ketahanan pangan dengan mengembangkan tanaman yang tahan terhadap perubahan iklim dan meningkatkan pendanaan untuk mengatasi malnutrisi anak yang sudah cukup memprihatinkan.
Masyarakat internasional didesak segera mengatasi penyebab utama kerawanan pangan, membangun sistem pangan yang lebih tangguh dan segera bertindak untuk mencegah krisis pangan dan kekurangan gizi. Perubahan iklim, konflik, dampak jangka panjang COVID-19, dan dampak invasi Rusia ke Ukraina terhadap pasokan pangan global merupakan pendorong utama kerawanan pangan.

