Pesan Natal 2023 PGI dan KWI: Tolak Politik Kekuasaan yang Halalkan Segala Cara
JAKARTA, investortrust.id - Persatuan Gereja Indonesia (PGI) bersama Konferensi Waligereja Gereja Indonesia (KWI) menyampaikan pesan Natal 2023. Dalam keterangan pers yang diterima, Minggu (24/12/2023), pesan Natal 2023 yang disampaikan PGI dan KWI menyinggung kondisi bangsa menjelang Pemilu 2024.
Ketua Umum PGI, Pendeta Gomar Gultom dan Ketua KWI, Monsinyur (Mgr) Antonius Subianto Bunjamin mengatakan, Natal merupakan perayaan sukacita karena Allah berkenan menjumpai seluruh ciptaan-Nya dalam peristiwa kelahiran Yesus Kristus.
Warta sukacita tentang kelahiran Yesus di kota Betlehem menggembirakan hati para gembala. Para gembala adalah pribadi-pribadi sederhana yang memiliki harapan besar kepada Sang Mesias sebagai pembawa damai sejahtera.
Baca Juga
Menhub Sebut Stasiun Ini Paling Sibuk Selama Nataru, Sanggup Mengangkut Berapa Penumpang?
Dikatakan, Natal mengajak umat beriman untuk masuk dalam karya penyelamatan Allah dan bertemu dengan Sang Juru Selamat agar mengalami damai sejahtera.
Damai sejahtera atau shalom sebagai suasana hidup yang damai, rukun, dan tentram, tidak hanya berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan Allah, tetapi juga hubungan antarsesama umat manusia dan antara manusia dengan alam semesta.
"Kelahiran Yesus yang menjadi wujud karya penebusan Allah telah membawa sukacita bagi umat beriman. Kehadiran-Nya telah membarui hidup dan mendorong kita untuk terus berjalan bersama menegakkan Kerajaan Kasih di tengah berbagai perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, dan golongan," tulis keterangan pers PGI dan KWI.
Perayaan Natal 2023, kata PGI dan KWI bersamaan dengan memasuki persiapan Pemilu 2024. Bangsa Indonesia akan memilih para pemimpin dan wakil rakyat.
PGI dan KWI mengingatkan perhelatan politik itu selain membawa kegembiraan juga tidak jarang menyisakan dampak negatif seperti konflik dan perpecahan yang berkepanjangan di tengah masyarakat.
"Oleh karena itu, kita perlu bijaksana dan dewasa dalam menyikapi pilihan politik yang berbeda-beda serta waspada terhadap penyebaran benih-benih kebencian yang dilakukan hanya untuk meraih kemenangan," katanya.
Dengan berpegang pada prinsip bahwa Allah harus dimuliakan, PGI dan KWI menegaskan politik identitas dan politik uang bukan pilihan perjuangan politik umat Kristiani. PGI dan KWI menolak politik kekuasaan yang menghalalkan segala cara.
"Kita menolak politik kekuasaan yang menghalalkan segala cara, termasuk mengorbankan rakyat dan merendahkan martabat luhur kehidupan," tegas PGI dan KWI.
Ditekankan, semangat Natal menggerakkan umat Kristiani untuk terlibat secara aktif dalam menata kehidupan berbangsa yang lebih bermartabat demi mewujudkan kesejahteraan bersama.
"Oleh karena itu kita mendukung perjuangan politik yang mengutamakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat," tulisnya.
Dipaparkan, tindakan untuk memuliakan Allah dilaksanakan bukan hanya dengan membangun hubungan yang harmonis antarumat manusia tetapi juga perlu upaya-upaya untuk menjaga dan merawat alam semesta. Damai sejahtera tidak hanya untuk manusia tetapi juga untuk semua ciptaan dan kita dipanggil untuk turut menghadirkan sukacita bagi semua makhluk.
Terkait dengan hal itu, perayaan Natal mestinya mendorong umat kristiani untuk semakin peduli, kritis, dan berani menolak berbagai bentuk perusakan lingkungan hidup, seperti pemanfaatan sumber daya alam tanpa ada upaya pemulihan, serta pencemaran air, tanah, dan udara yang sangat berbahaya untuk keberlangsungan hidup semua makhluk.
"Tanggung jawab menjaga lingkungan hidup ini merupakan panggilan dan perutusan dari Allah sendiri untuk semua umat beriman (bdk. Kej 2:15). Kesejahteraan bagi semua makhluk hanya akan terwujud bila alam ciptaan-Nya selalu terpelihara dan terjamin kelestariannya. Oleh karena itu bumi akan turut bersorak sorai memuji Allah: “Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorai” (Mz 96:11)," kata PGI dan KWI
Dalam kesempatan ini, PGI dan KWI juga mengajak umat kristiani untuk memuliakan Allah dan mewujudkan damai sejahtera melalui media sosial dengan terus menerus menyebarkan nilai-nilai kebaikan, kebenaran, keadilan, setiakawan, dan tenggang rasa. Hal ini penting karena keharmonisan hidup bersama dapat hancur oleh berita bohong dan ujaran kebencian yang marak di berbagai media sosial.
"Kita perlu bijak dalam menerima dan menyebarkan berita," katanya.
Para gembala pergi dan menemukan kebenaran warta yang diterima dari malaikat ketika menjumpai bayi Yesus di palungan, lalu mewartakannya kepada yang lain. Natal mengingatkan komunikasi dan perjumpaan di zaman digital perlu dikelola secara baik agar dapat digunakan sebagai sarana untuk mewartakan kabar gembira.
"Di tengah kemajuan teknologi informasi yang sangat cepat, ramai, dan sibuk, kita tetap membutuhkan waktu hening untuk berjumpa dengan Allah, sehingga komunikasi dan perjumpaan kita dengan sesama dapat mendatangkan sukacita," katanya.
Baca Juga
Penumpang Udara Nataru di Bandara Soetta Naik 18%, Capai 1 Juta
PGI dan KWI berharap seluruh umat merasakan kasih Allah yang selalu menyertai hidup dalam perayaan Natal 2023 ini.
"Allah yang maha kasih itu selalu bersama dengan kita. Imanuel, Allah berserta kita. Ia tidak pernah meninggalkan kita dalam situasi apapun (bdk. Ibr 13:5). Oleh karena itu, mari kita terus memuliakan Allah lewat upaya-upaya baik untuk mewujudkan damai sejahtera di tengah kehidupan keluarga, gereja, masyarakat, dan bangsa. Secara khusus kita berdoa untuk perdamaian di daerah-daerah yang masih terjadi konflik dan kekerasan," harapnya.
"Akhirnya, atas nama Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) kami mengucapkan selamat Natal Tahun 2023 dan selamat Tahun Baru 2024. Tuhan memberkati," kata PGI dan KWI.

