Hujan dan Asa di Bilik Suara
Reporter | Maulana Kautsar Rahmad
Editor | Frans S. Imung
JAKARTA, investortrust.id - Sejak subuh kilatan petir menyambar. Gemuruh menggetarkan kaca jendela. Hari ini, 14 Februari 2024. Bangsa Indonesia punya hajat. Memilih pemimpin baru untuk 5 tahun mendatang. Di TPS 052, Kelurahan Mustikasari, Mustikajaya, Bekasi suasana riuh.
Hujan yang tak berhenti jelang pencoblosan tak halangi semangat sejumlah orang. Para petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), saksi, dan Bawaslu bersiap menghitung suara. Mereka telah bersiap. Sementara itu, para pemilih mengenakan payung menuju lokasi pencoblosan.
"Ujan-ujan nyoblos!" ujar seorang perempuan berpayung dengan logat Betawinya yang khas.
Saya menjadi salah satu orang yang menggunakan hak pilih. Saya mendapat undangan jam 07.00 WIB. Tapi, sesampai di lokasi, pukul 07.15 WIB, KPPS masih menghitung jumlah surat suara.
Meski demikian, saya beruntung karena Ruang Redaksi memberi ruang waktu liputan yang longgar. "Liput setelah pencoblosan." Mengapa ini penting? Sebab, jurnalis kerap mendapat ketidakmampuan untuk memilih karena ruang redaksi.
Baca Juga
Dalam obrolan di ruang pers Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, tiga rekan media mengeluhkan waktu peliputan yang sangat pagi. "Gimana mau bisa milih?" kata seorang rekan.
Di TPS 57, Ketua KPPS Atam masih menyelesaikan hitungan. Dia mencocokan jumlah kertas suara dan Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang berjumlah 289.
"Bikinin kopi dulu ini Pak Ketua," kelakar seorang petugas.
Pukul 08.03 WIB. Atam menyelesaikan hitungan. Ini total surat suaranya:
- Surat suara untuk presiden dan wakil presiden berjumlah 295.
- Surat suara untuk DPR RI berjumlah 295.
- Surat suara untuk DPRD Provinsi berjumlah 295.
- Surat suara untuk DPRD Kota berjumlah 295
Jumlah 295 ini disiapkan memperhitungkan jumlah DPT plus cadangan 6 surat suara. Satu-satunya surat suara yang kurang yaitu untuk DPD. "Ini cuma 286 ya. Kurang 3. Nanti kita catat ya. Saksi," kata dia.
Setelah pendaftaran, beberapa nama pemilih dipanggil. Masing-masing pemilih mendapat lima jenis surat suara. Di sela-sela menunggu, seorang perempuan masih mengecek beberapa nama yang akan dipilihnya. Menggunakan ponsel dia mencari latar belakang politisi yang dipilihnya.
Tiba giliran saya mencblos. 08.33 saya memasuki bilik. Memastikan lima jenis surat suara yang diberikan tidak cacat dan layak dicoblos. Saya memulai mencoblos dari tingkat DPRD kota, DPRD Provinsi, DPD, DPR RI, dan terakhir presiden. Butuh 5-7 menit untuk membuka, mencoblos, dan melipat serta memasukkan kertas suara ke dalam kotak.
Di titik inilah semuanya akan "diinvestasikan" dalam lima tahun mendatang. Suaraku, suaramu, suara kalian akan menjadi wajah bagaimana kebijakan-kebijakan pemerintah muncul.
Meski Antam melalui pengeras suara meminta pemilih tak terburu-buru, saya harus bergegas. Genderang tugas meliput telah menyala. Semoga nyala ini tidak akan padam dan terus menyala di tengah ancaman demokrasi ini.
Selamat memilih dan pilihlah dengan rasional!
