Aktivitas Medsos Terkait Pilpres Tak Signifikan Bantu Elektabilitas
JAKARTA, Investortrust.id - Aktivitas di media sosial yang mengarah pada upaya dukungan terhadap para pasangan calon (paslon) capres dan cawapres di PIlpres 2024 diduga kuat tidak akan berpengaruh signifikan terhadap elektabilitas paslon yang akan bertempur di pilpres.
Dugaan ini disampaikan oleh Pendiri lembaga survei KedaiKopi, Hendri Satrio saat Podcast Konvergensi yang digelar Investortrust.id bertema “Pilpres Satu Putaran, Mungkinkah?”, di Jakarta, Senin (29/1/2024).
“Aktivitas media sosial yang dikaitkan dengan momentum pilpres ini tidak berpengaruh signifikan pada elektabilitas, ia signifikan hanya pada popularitas,” kata pria yang akrab disapa Hensat ini.
Baca Juga
Parpol Pendukung Anies dan Ganjar Bisa Jegal Prabowo Menang 1 Putaran
“Oke I folllow you (di media sosial), tapi kalau mau pilih, ntar dulu. Ini fenomena yang harus diperhatikan,” imbuhnya.
Untuk itu para tim sukses para paslon capres dan cawapres menurut Hensat harus mengkaji seberapa benar sejumlah aktivitas yang dilakukan oleh para pendukungnya di laman medsos mereka bisa mendulang angka dukungan saat pencoblosan berlangsung di 14 Februari mendatang.
Hensat menyebut sejumlah aktivitas dukungan seperti para penggemar K-Pop pada calon nomor urut 01 Anies Baswedan, lalu dukungan sejumlah seniman seperti Ahmad Dhani dan Raffi Ahmad pada calon nomor urut 02 Prabowo Subianto, atau kelompok musik Slank pada calon nomor urut 03, Ganjar Pranowo. Aktivitas-aktivitas para pendukung termasuk penggemarnya di media sosial menurut Hensat belum tentu akan melahirkan angka dukungan suara di bilik TPS.
“Makanya sewaktu Ridwan Kamil bilang ada follower 20 juta, itu gak akan serta merta terkonversi,” ujarnya.
Apalagi potensi turning out atau hilangnya suara karena para pemilih tidak hadir di bilik pencoblosan juga akan sangat berpengaruh di angka final penghitungan suara. Turning Out menurut Hensat pernah dialami oleh Hillary Clinton ketika bertarung dengan Donald Trump dalam kursi kepresidenan AS. Saat itu, kata Hensat, banyak pendukung Hillary yang tidak hadir memilih, sehingga menghasilkan kekalahan pada Hillary.

