Timur Tengah Berkecamuk, Pemerintah Pastikan Pekerja Migran Tetap Aman
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah memastikan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di Timur Tengah tetap dalam kondisi aman, meskipun eskalasi Timur Tengah sedang memuncak.
Informasi tersebut dipastikan Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani saat menyambangi kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian. “Insyaallah para pekerja migran kita aman,” kata Benny, di Jakarta, Selasa (16/4/2024).
Baca Juga
Benny mengatakan, konflik yang berkecamuk di Timur Tengah juga tidak akan mengubah kebijakan penempatan pekerja migran di luar negeri. Bahkan, konflik ini tidak akan menghambat penerapan Sistem Penempatan Satu Kanal (SPSK). “Tidak ada hambatan apapun,” kata dia.
Meski demikian, tak menutup kemungkinan adanya moratorium, jika eskalasi konflik terjadi. “Kalau konflik tersebut pecah menjadi konflik yang serius, harus dan penting dievaluasi secepatnya,” ujar dia.
Saat ini, kata Benny, diperkirakan PMI terdata yang terjadi di Timur Tengah diperkirakan mencapai sekitar 1,5 juta orang.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno L. Marsudi mengatakan, terkait dengan perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI), pemerintah terus berkoordinasi dengan beberapa Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) termasuk KBRI di Amman, Yordania, KBRI di Teheran, Iran, dan KBRI di Mesir.
Baca Juga
Makin Tak Berdaya Usai Libur Lebaran, Rupiah Tembus Rp 16.176 per Dolar AS
“Travel advice sudah dikeluarkan pada 13 April yang lalu. Kemudian hotline juga sudah kita pasang di Twitter Kementerian Luar Negeri,” kata Retno di kompleks Istana Presiden.
Retno mengatakan, Kementerian Luar Negeri juga telah berkomunikasi langsung dengan para WNI yang ada di Iran dan Israel pada 14 April 2024. Dia mengatakan komunikasi untuk memberikan pesan mengenai antisipasi apa yang harus dilakukan jika eskalasi konflik terjadi.
“Sekali lagi kita pantau dari dekat, kita waspada dan kita terus lakukan upaya diplomatik agar masing-masing pihak menjaga, menahan diri, self restraint, dan kita mencoba untuk bicara dengan sebanyak mungkin pihak untuk menggunakan pengaruhnya agar eskalasi tidak terjadi,” ucap dia.

