Ilham Habibie Ingatkan Kompromi Politik Bukan Bagi-Bagi Kue Kekuasaan
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Dewan Penasihat Forum Dialog Nusantara (FDN) Ilham Akbar Habibie mengingatkan kompromi politik bukan berarti bagi-bagi kue kekuasaan. Hal itu disampaikan Ilham dalam diskusi "Pilpres dan Memulihkan Distorsi Kompetisi Menjadi Kompromi yang digelar FDN di Perpustakaan Habibie & Ainun, Jakarta, Rabu (9/2/2024).
"Kalau kompromi itu artinya kita bagi-bagi kue atau bagi-bagi kekuasaan, nanti justru apa yang menjadi mandat kita membawa bangsa dan negara menuju tujuan yang kita sepakati, itu bukan kompromi yang baik menurut saya," katanya.
Baca Juga
Ilham Habibie Ingatkan Pemilu Hasilkan Pemimpin Terbaik jika Fair
Ilham menjelaskan, Pemilu 2024 akan menghasilkan pemimpin terbaik jika dilaksanakan dengan adil atau fair. Kompetisi merupakan salah satu hal yang menjadi asas demokrasi. Seperti halnya sistem ekonomi pasar, kompetisi menjadi efektif dan menghasilkan yang terbaik jika berjalan dengan adil.
"Kata kunci kompetisi dalam konteks demokrasi atau ekonomi pasar itu harus dilakukan dengan catatan yang perlu digarisbawahi fair," kata Ilham Habibie.
Dikatakan, kompetisi tidak akan berjalan efektif menjadi mekanisme menghasilkan yang terbaik jika tidak berjalan adil. Dalam konteks politik, Ilham mengatakan, kompetisi terutama terkait ide, program yang bisa membawa Indonesia mencapai tujuannya, termasuk Indonesia Emas 2045. Rakyat, kata Ilham, bukan hanya memilih sosok pemimpin, tetapi juga bagaimana program-program kandidat membawa Indonesia mencapai tujuannya.
"Siapa yang paling kita percaya, bukan orangnya saja, tetapi programnya, kemampuannya untuk implementasi. Itu semuanya menjadi satu paket," kata Ilham.
Baca Juga
Ilham Habibie Sebut Hilirisasi Saja Tidak Cukup, Perlu Adanya Strategi Industri yang Mantap
Dari pemilu atau kompetisi itu tentu ada yang menang dan kalah. Proses selanjutnya adalah kompromi. Namun, Ilham mengingatkan, kompromi yang dimaksud adalah perhatian dari pemenang kepada pihak yang kalah, bukan bagi-bagi kue kekuasaan.
Para pembicara berfoto bersama usai bertukar pikiran pada acara diskusi "Pilpres dan Memulihkan Distorsi Kompetisi Menjadi Kompromi yang digelar Forum Dialog Nusantara (FDN) di Perpustakaan Habibie & Ainun, Jakarta, Rabu (9/2/2024). Dari kiri ke kanan; Moderator Andre Multiana, pengamat politik, Zulfan Lindan, Direktur Eksekutif FDN, Justino Jogo MA., MBA, Co-Captain Timnas Amin, Sudirman Said S.E., MBA., Ketua Dewan Penasihat FDN, Dr. Ing. Ilham A. Habibie, MBA, Sekretaris Eksekutif TPN Ganjar-Mahfud, Dr. Ir. Hasto Kristiyanto, M.M., Dewan Pakar Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran, Muhammad Sirod S.T.P., akademisi Prof. Dr. H. Muh. Nur Sadik, MPM, Rektor IBI-K57 Dr. Haswan Yunaz MM. MSi., Wakil Sekretaris Eksekutif TPN Ganjar-Mahfud, Dr. Ir. Heru Dewanto, S.T., M.Sc.(Eng), IPU.
Menurut Ilham, oposisi merupakan peran yang tak kalah pentingnya dalam membangun sebuah negara. Dikatakan, pemerintah atau pemenang pemilu harus memberikan perhatian terhadap suara masyarakat yang diwakili oleh oposisi.
"Karena memang ada proporsionalitas dalam hal politik sehingga apa yang mewakili yang tidak memenangkan pemerintah itu juga patut diperhatikan itu. Saya kira di semua pemerintahan. Jadi di situlah komprominya menurut saya. Perhatian dari pemerintah kepada yang bagian dari non-pemerintahnya," paparnya.

