Tak Kenal Perbedaan, Indahnya Persaudaraan di Kampung Sawah Bekasi
JAKARTA, investortrust.id - Sebuah Kampung di Kota Bekasi, Jawa Barat ini menarik perhatian masyarakat, pasalnyatoleransi antar umat beragama di kampung ini sangat tinggi.
Kampung ini disebut Kampung Sawah, terdapat keunikan pada kampung ini yang memanggil jiwaku untuk mengunjungi lokasi ini. Akhirnya, hari ini kakiku mendapatkan kesempatan menginjakkan kampung tersebut tepatnya di area Segitiga Emas.
Disebut Segitiga Emas karena terdapat tiga rumah ibadah yakni, Gereja Katolik Santo Servatius, Gereja Kristen Pasundan (GKP) Kampung Sawah, dan Masjid Agung Al-Jauhar Yasfi. Ketiga rumah ibadah ini saling berdekatan dan titik bangunannya terlihat seperti membentuk sebuah segitiga.
Pagi itu, Minggu 31 Maret 2024 bertepatan dengan Hari Paskah 2024, para petugas lalu lalang mengatur para jamaah di Gereja St. Servatius dan Gereja Kristen Pasundan (GKP), tempat digelarnya misa pagi. Lantunan doa dan nyanyian berbahasa Indonesia itu menyerbak menambah kekhidmatan dan syahdunya ibadah Paskah.
Pendeta dengan jubah Gereja Katolik Roma di luarnya, sementara wanita mengenakan kerudung dan baju kebaya encim khas Betawi, serta ribuan jamaah mendatangi Gereja Katolik Santo Servatius, Gereja Kristen Pasundan (GKP) sejak 07.00 WIB.
Baca Juga
Paskah 2024, Kardinal Suharyo Ajak Masyarakat Peduli Kasus TPPO hingga Korupsi
Saat memasuki gereja, para pria berpakaian asli khas Betawi sangat mencuri perhatian, mereka menggunakan baju koko/sadaria, dengan peci menangkup kepala mereka dan sarung yang dilipat rapih melingkari leher para jamaah Gereja.
Salah satu pria yang merupakan Wakil Dewan Paroki Harian Gereja St. Servatius Kampung Sawah, Hari Wibowo, sangat ramah menyambut kedatanganku disertai senyuman yang hangat walaupun perbedaan keyakinan.
Dia menyebut, dengan berpakaian seperti itu bukanlah hal yang aneh di Kampung Sawah. Dengan mengenakan baju adat Betawi, Hari menilai ini adalah salah satu cara melestarikan nilai budaya dan menghormati para pendahulu yang mendiami Kampung Sawah.
“Kampung Sawah ini sangat terkenal dengan istilah namanya kampung persaudaraan, jadi umatnya terbentuk pertama kali di tanggal 6 Oktober 1896, sebanyak 18 orang asli Betawi Kampung Sawah dibaptis pertama kali di Batavia pada waktu itu,” kata Hari kepada investortrust.id.
Dengan demikian, usia tempat ibadah di kampung ini tergolong tua. Gereja Kristen Pasundan (GKP) adalah yang tertua yang berdiri sejak 1874, lalu Gereja St Servatius pada 1896. Sementara Masjid Agung Al-Jauhar Yasfi berdiri pada 1965.
Sikap toleransi mereka tercermin pada bulan Ramadhan saat ini, Gereja St. Servatius bersama Masjid Agung Al-Jauhar Yasfi menyelenggarakan buka bersama untuk umat muslim dan membagikan takjil bagi masyarakat yang berpuasa.
Di samping itu, seperti dikatakan Pendeta GKP, Yoga Willy Pratama, semua lapisan masyarakat di Kampung Sawah sadar bahwa mereka harus menjaga seluruh perayaan umat beragama bersama-sama, agar dapat berjalan dengan baik.
Baca Juga
“Seperti berbagi tempat parkir, saling menjaga dan membantu, saling kirim barang, begitu ya sebagai wujud sukacita kami juga baru merayakan Paskah,” ujar William.
Setelah mengunjungi GKP, aku berjalan sekitar 100 meter mendatangi Masjid Agung Al-Jauhar Yasfi, seorang pria berusia 48 tahun itu menyambutku dengan ramah.
Pria tersebut bernama Ustadz Ali yang juga menjabat sebagai anggota Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM) Masjid Agung Al-Jauhar Yasfi. Ia menyebut tantangan yang ia hadapi saat ini adalah bagaimana merawat nilai-nilai toleransi, khususnya di tengah kecenderungan para generasi muda yang kerap abai pada kelestarian budaya.
Sepakat dengan Ustadz Ali, Hari dan Yoga juga menyoroti mudahnya generasi muda terpengaruh pada budaya dari luar. Menurut mereka, telah menjadi tugas bersama untuk mendorong generasi muda untuk tetap menjaga budaya dan kearifan lokal, nilai-nilai yang sudah diwariskan dari kakek-nenek mereka. (CR-5)

