Menyemai Rukun Beragama di Kampung Sawah
Poin Penting
|
Burung tekukur hinggap di dahan
Sungguhlah indah pintu dipahat
Kita bersyukur kepada Tuhan
Pastilah kita akan selamat
INVESTORTRUST.ID - Kemampuan mengolah pantun sudah menjadi ciri khas masyarakat Betawi. Kemampuan ini pula yang dimiliki Matheus Nalih Ungin. Siang itu, Nalih menggunakan baju koko putih, selempang dari sarung, celana Panjang, dan peci hitam.
Sambil berkeliling, dia mengawasi kegiatan Misa Natal untuk anak-anak di Gereja Santo Servatius, Kampung Sawah, Jatimelati, Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat. Sementara itu, sejumlah perempuan yang menjadi panitia Natal mengenakan kebaya dan selendang.
Koordinator Bidang Kesaksian Gereja Santo Servatius, Martin Napiun mengatakan, gereja ini telah menggunakan seragam itu sejak 1996. Tetapi, pakaian tersebut telah digunakan leluhur Kampung Sawah sejak lama.
“Tapi, para leluhur kami dulu bukan peci sih. Semacam ikat kepala khas Sunda (udeng),” kata Napiun, saat ditemui investortrust.id, Kamis (25/12/2025).
Hubungan warga Betawi pendahulu dengan gereja ditandai pada 6 Oktober 1896. Pada tanggal itu, sebanyak 18 orang warga Kampung Sawah dibaptis sebagai Katolik.
“Kita menyesuaikan, kalau Katolik kan sangat kuat dengan tradisi ya,” ujar dia.
Baca Juga
Tak Kenal Perbedaan, Indahnya Persaudaraan di Kampung Sawah Bekasi
Sebagai perayaan suka cita, Natal 2025 juga turut menghadirkan ornamen-ornamen khas kebudayaan Betawi. Misalnya ornamen gigi balang yang muncul di rumah berarsitektur Betawi, kembang mayang, ondel-ondel, hingga lampion.
Menurut Nalih, yang juga Ketua Komunitas Betawi Kampung Sawah di Gereja Santo Servatius, penggunaan kebudayaan Betawi bukan semata-mata ornamen. Beberapa produk khas budaya ini dilekatkan sebagai pengingat bahwa gereja ini memperjuangkan dan mempertahankan kebudayaan Betawi.
Nalih mengatakan, suatu daerah yang memiliki adat istiadat pasti memiliki peradaban. Nuansa yang dijaga itu tak lain untuk menghormati para leluhur yang telah dibaptis dan menjadi pembuka jalan Katolik di wilayah itu.
Tak hanya ornamen, Gereja Santo Servatius juga menggunakan tarian, musik, lagu-lagu, hingga bahasa Betawi dalam liturgi dalam peribadatannya. “Biasanya setiap pekan pertama di setiap bulan,” ujar Nalih.
Persaudaraan Kampung Sawah
Dalam hubungan bermasyarakat, menurut Romo Paroki Kampung Sawah, JB Clay Pareira, kerukunan warga Kampung Sawah memang sudah terbangun sejak lama. Warga lebih memilih menggunakan diksi "persaudaraan", alih-alih "toleransi".
Ketika perayaan tiba, beberapa warga yang tergabung dalam Banser Nahdlatul Ulama (NU) kerap turut memberikan penjagaan keamanan. Lahan parkir milik Masjid Agung Al Jauhar Yasfi juga disediakan bagi umat Katolik yang mengikuti ibadah Misa Malam Natal.
Penggunaan toleransi, menurut Clay, justru berpotensi meminggirkan kelompok yang lain. “Kalau toleransi berarti saya menoleransi orang lain. Ada yang ditolerir, ada yang menolerir,” ujar dia.
Baca Juga
Ibadah dan Perayaan Natal di Jakarta dan Berbagai Daerah Berlangsung Aman dan Tertib
Sementara itu, penggunaan persaudaraan lebih bermakna bagi komunitas di Segitiga Emas Kerukunan. Dengan bersaudara, semua orang yang beragama dapat hidup berdampingan dan menjadi kehidupan normal.
Semangat persaudaraan terhadap sesama itu dirasakan juga Aprinaldo. Pengemudi ojek daring itu kerap nongkrong di pos keamanan Gereja Santo Servatius. Apri, panggilannya, adalah seorang muslim. Dia memang sengaja memilih lokasi itu karena kerap mengantar umat yang sedang beribadah.
Perantau asal Padang Panjang, Sumatra Barat itu mengakui keterbukaan dan persaudaraan yang muncul di antara warga Kampung Tengah. “Memang kesehariannya begini, lingkungannya, orangnya terbuka,” ujar Apri.
Apri menjadi saksi bagaimana pemimpin kelompok agama dari masing-masing agama; Katolik, Islam, dan Kristen saling berdampingan sebagai saudara. Dalam kasus sederhana, penggunaan pengeras suara masjid. Ketika dua gereja ada upacara keagamaan, Masjid Agung Al Jauhar Yasfi akan menggunakan pengeras suara dalam.
“Kalau untuk azan ya tetap berkumandang,” kata dia.
Bagi Nalih, alunan azan yang berkumandang tak menjadi soal. “Kalau kita lagi ibadah, terus pas zuhur, ya silakan. Bahkan, kadang-kadang kami anggap itu adalah lantunan Mazmur yang harus kita dengarkan,” kata Nalih.
Gema Natal dalam Khidmat
Bunyi lonceng bergema. Klinting! Klinting! Klinting! Sosok Santa Claus datang membawa karung biru. Jerit dan teriak bocah memekik. Mereka mengerubungi Santa, berharap hadiah.
“Adik-adik duduk, yuk!” kata seorang perempuan di mimbar.
Baca Juga
Sampaikan Selamat Hari Raya Natal 2025, Prabowo Ajak Perkuat Solidaritas dan Persatuan Nasional
Riang dan teduh. Beberapa anak masih terlihat berlarian di antara bangku umat. Beberapa yang lain menarik ibunya untuk mendekat ke Santa Claus agar mendapat hadiah.
Itulah sekilas gambaran suasana usai gelaran misa anak di Hari Natal 2025, keceriaan memancar. Anak-anak mendapatkan kado dan orang tua bersalaman satu sama lain.
Dalam perayaan Natal 2025 ini, persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menghadirkan tema nasional Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga.
Menurut Matius I:21-24, nama Yesus tidak hanya menunjuk pada identitas diri dan karakter seorang manusia, tetapi merujuk pada peran-Nya sebagai Pribadi yang menyelamatkan umat.
Panitia Natal 2025 Gereja Santo Servatius, Verina Maria Oktaviane menjelaskan, kebersamaan dengan keluarga telah menjadi bagian penting warga Kampung Sawah. Setiap menjelang perayaan Natal, umat Katolik kerap berbagi hantaran ke saudaranya yang muslim.
“Di keluarga saya juga masih melakukan itu,” kata Maria.
Sebagai tema turunan, Gereja Santo Servatius menekankan pada upaya pemberdayaan mereka yang lemah dan miskin. Salah satunya, kelompok lanjut usia atau lansia.
“Kenapa kita fokus ke lansia karena umat di (paroki) Kampung Sawah memahami bahwa opa dan oma lansia ini punya hasrat dan kemauan, semangat yang tinggi untuk melayani umat di Kampung Sawah,” ujar dia.
Romo Paroki Kampung Sawah, JB Clay Pareira mengatakan, perayaan Natal 2025 sama seperti tahun-tahun kemarin. Meski demikian, perayaan Natal 2025 ini memiliki situasi yang berbeda.
“Situasi di mana saudara-saudara kita banyak yang terkena bencana alam, saudara-saudara kita di tempat lain di bagian lain di dunia terkena dampak bencana alam dan perang,” ujar Clay.
Baca Juga
Clay menjelaskan, semangat Natal 2025 perlu dimaknai seluruh keluarga. Tidak hanya sejahtera secara materi, keluarga juga penting memiliki pemenuhan terhadap rohani yang baik.
Menurut dia, gereja tak dapat menutup mata mengenai banyaknya keluarga yang pecah dan anak-anak yang telantar karena perselisihan orang tuanya. Untuk itu, dia berharap umat Katolik menerima damai Tuhan.
“Tuhan menyelamatkan dunia karena kasih, dan kasih itulah yang seharusnya menjadi dasar bagi hidup berkeluarga. Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, kasih itu memaafkan, tidak mendendam, bagaimana suami-istri saling memaafkan, saling bersabar satu sama lain,” kata dia.
Clay turut berpesan agar umat Katolik senantiasa berhemat dan tidak bermewah-mewahan. “Jadi, tidak tergoda dengan konsumerisme. Kan cari duit susah sekarang. Kalau cari duit susah, harusnya menggunakannya juga secara hemat, baik, teratur,” pesan dia.
Uang yang disimpan, menurut Clay, tidak hanya dapat bermanfaat bagi kebutuhan pada masa depan. Uang itu juga dapat membantu saudara-saudara di tiga provinsi yang terkena bencana alam di Sumatra.
“Masih banyak anak-anak yang membutuhkan. Anak-anak stunting, itu menjadi bagian dari concern gereja,” kata dia.

