Penguatan Terusan Kali Cideng Untuk Pengendalian Banjir Jakarta
JAKARTA, investortrust.id — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memprioritaskan normalisasi dan naturalisasi tiga sungai utama—Ciliwung, Krukut, dan Cakung Lama sebagai strategi utama pengendalian banjir ibu kota pada 2026. Program ini tidak hanya menyasar sungai besar, tetapi juga mencakup penguatan jaringan drainase dan sodetan, termasuk sodetan yang melintasi kawasan Taman Rasuna, Kuningan, Jakarta Selatan.
Kebijakan tersebut dijalankan melalui koordinasi intensif dengan Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta, dengan fokus pada pembebasan lahan, pengerukan sedimentasi, serta penguatan dinding sungai guna mengembalikan kapasitas tampung air. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga telah menetapkan sedikitnya 14 lokasi (penlok) untuk mendukung percepatan proyek normalisasi.
Dalam program ini, perhatian khusus diberikan pada Kali Krukut yang dinilai mengalami penyempitan daerah aliran sungai (DAS) cukup parah dan menjadi salah satu penyebab banjir di sejumlah kawasan, termasuk Kemang. Penanganan Krukut juga dikaitkan dengan peningkatan kapasitas sodetan dan pembangunan tanggul melalui sinergi dengan Kementerian Pekerjaan Umum.
Namun, penting dicatat bahwa aliran air yang melintasi kawasan Taman Rasuna atau Rasuna Epicentrum bukanlah sungai utama seperti Cideng maupun batang utama Kali Krukut. Secara teknis, aliran tersebut merupakan saluran penghubung (sodetan) dari sistem Kali Krukut, yang menjadi bagian dari jaringan drainase mikro–sekunder Jakarta.
Sodetan ini berada di koridor Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, mencakup kawasan Kuningan hingga Rasuna Epicentrum, sebelum mengalir ke arah hilir menuju Karet dan Bendungan Hilir (Benhil), lalu bergabung kembali dengan sistem Kali Krukut. Saat ini, drainase tersebut tengah dilanjutkan penataannya hingga ke hilir untuk memperlancar aliran air dan mengurangi potensi genangan di kawasan bisnis tersebut.
Jakarta sendiri dilintasi oleh 13 sungai utama yang bermuara ke Teluk Jakarta, yakni Ciliwung, Cisadane, Angke, Pesanggrahan, Grogol, Krukut, Cideng, Cipinang, Sunter, Buaran, Jati Kramat, Cakung, dan Bekasi. Sungai-sungai ini menjadi tulang punggung sistem drainase ibu kota, namun juga menjadi sumber utama persoalan banjir akibat sedimentasi, penyempitan, dan tekanan urbanisasi.
Di tengah upaya normalisasi tersebut, kawasan Rasuna Epicentrum pernah menjadi contoh penataan aliran air berbasis estetika. Aliran sepanjang sekitar 300– 500 meter yang dikenal publik sebagai “Sungai Epicentrum” ditata menjadi ruang terbuka hijau dengan air relatif jernih dan lanskap yang tertata. Proyek ini dikembangkan oleh pihak swasta, yakni Bakrieland, sejak pertengahan 2000-an, dengan desain yang melibatkan arsitek Ridwan Kamil.
Meski demikian, secara hidrologi aliran tersebut bukanlah sungai alami, melainkan bagian dari sistem drainase yang dikendalikan, termasuk melalui penyaringan sampah dan pengaturan aliran ke jaringan gorong-gorong di sekitarnya, sebagaimana dilaporkan Kompas.com dan detikcom pada 2015.
Dengan pendekatan kombinasi normalisasi sungai besar dan penguatan sodetan serta drainase sekunder, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap dapat memperbaiki kapasitas sistem pengendalian banjir secara menyeluruh. Tantangan utamanya tetap pada konsistensi pembebasan lahan dan integrasi sistem dari hulu hingga hilir di tengah kepadatan urban yang terus meningkat.
