Perang Oligarki dan Ilusi Penyelamat
“Yang terjadi saat ini bukanlah rakyat melawan kaum elite, melainkan satu faksi oligarki melawan faksi oligarki lainnya, dengan rakyat dijadikan tentara bayaran gratis melalui provokasi emosi”.
Oleh: Sudarsono Soedomo - Guru Besar Ekonomi dan Kebijakan Kehutanan dan LIngkungan IPB University
INVESTORTRUST - Di era keterbukaan informasi, kita menyaksikan sebuah paradoks pahit yang tak terbantahkan. Data, fakta, dan sejarah mengalir bebas di ujung jari, namun cara-cara pemerintahan yang manipulatif—otoritarianisme, fitnah, dan pencarian kambing hitam—tetap diulang bagai putaran roda yang macet. Mengapa taktik kekuasaan yang kelihatan kuno dan memalukan ini masih efektif digunakan oleh para penguasa hari ini? Jawabannya tidak terletak pada ketidaktahuan semata, melainkan pada arsitektur psikologis manusia yang ternyata tidak berevolusi secepat teknologi.
Realitas kekuasaan hari ini adalah panggung tipuan semata. Yang terjadi bukanlah rakyat melawan kaum elite, melainkan satu faksi oligarki melawan faksi oligarki lainnya, dengan rakyat dijadikan tentara bayaran gratis melalui provokasi emosi. Oligarki tahu betul bahwa masyarakat muak dengan ketimpangan, maka mereka mencuri narasi populis: berlagak memerangi koruptor atau elit pemeras, padahal tujuan sebenarnya hanyalah membersihkan pesaing bisnis-politik mereka.
Banjir narasi yang membingungkan saat ini bukanlah kecelakaan, melainkan taktik yang diatur rapi. Tujuannya bukan sekadar menanamkan kebohongan, melainkan membuat publik kelelahan menyaring informasi. Setelah lelah dan bingung, logika mati, dan manusia kembali pada insting berkelompok yang paling primitif, mencari keamanan di bawah payung pemimpin yang menjanjikan ketegasan. Cara pemerintahan yang manipulatif ini tetap digunakan bukan karena ketiadaan pilihan, melainkan karena memang efektif memproduksi kepatuhan.
Mengapa massa mudah sekali tertipu dan seolah kehilangan daya kritis? Bukan karena mereka kekurangan akal, melainkan karena kondisi struktural ketidakberdayaan yang mengakar dalam sejarah peradaban. Sejak lama, manusia telah dikondisikan oleh ajaran yang dianggap berasal dari langit untuk merasa tidak cukup, lemah, dan selalu bersalah. Narasi kosmologis ini membangun fondasi rasa tidak aman, di mana manusia diajari bahwa dirinya tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.
Baca Juga
Ketika Semua Pengusaha Ingin Menggaji Buruh Serendah Mungkin
Solusi yang ditawarkan selalu berupa penyerahan diri pada kekuatan eksternal—sebuah konsep Penyelamat. Ketika masyarakat semakin terdidik, kebutuhan akan entitas sakral mungkin berkurang, namun kebutuhan psikologis akan figur penyelamat tidak pernah hilang. Panggungnya hanya berpindah dari langit ke politik. Politikus modern mengadopsi kosakata sakral: menjanjikan keamanan dari musuh dan keadilan duniawi. Kritik terhadap pemimpin pun dipersepsikan sebagai penistaan, karena massa tidak memilih dengan rasio, melainkan dengan iman yang buta.
Pemikir Max Stirner dalam karyanya telah mengautopsi fenomena ini secara jenius. Stirner menyebut negara, ideologi, dan moralitas sebagai "hantu" atau fiksi yang menakutkan. Manusia menciptakan konsep-konsep ini, lalu secara naif menyembah ciptaannya sendiri, menyerahkan kedaulatan diri pada abstraksi yang memenjarakannya. Hari ini, institusi negara dalam bentuk klasiknya justru semakin kehilangan maknanya. Kapitalisme global dan platform digital telah menembus batas wilayah, menjadikan negara seringkali hanya sebagai administratur lokal bagi kepentingan oligarki transnasional. Paradoksnya, ketika legitimasi negara tergerus, ia justru bereaksi menjadi makin tirani dan menindas. Negara tidak ingin dicintai, ia hanya ingin ditakuti. Ia berubah menjadi mesin pemelihara kekuasaan oligarki yang sedang panik menghadapi ketidakpastian dunia.
Mengajak orang berpikir kritis di tengah arus ini sangat melelahkan. Melawan mesin propaganda oligarki dengan logika sama saja menguras lautan air kotor dengan gayung. Kelelahan empati atau rasa pasrah adalah respons yang sangat manusiawi. Terkadang kita terpikir untuk membiarkan saja massa menanggung hasil pilihannya sendiri. Namun, menyelamatkan seluruh masyarakat bukanlah tugas individu.
Melawan banjir manipulasi tidak harus dilakukan dengan berteriak di muka umum, melainkan dengan membangun perlawanan skala mikro. Lindungi diri dan keluarga, batasi asupan racun narasi harian, dan jangan mensakralkan institusi yang sedang sekarat. Menjadi manusia yang berdaulat atas dirinya sendiri (berhenti mencari penyelamat) adalah pemberontakan terbesar di era di mana semua orang sibuk mencari Penyelamat dalam wujud politikus. ***
