Presiden Prabowo: Margono, Semua Ada Jalan!
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Presiden Prabowo Subianto mengungkap salah satu filosofi hidup yang diwariskan dalam keluarganya: selalu ada jalan untuk keluar dari kesulitan. Pesan itu ia sampaikan saat berpidato pada peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat (18/09/2026), melalui kisah kelahiran kakeknya, Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo.
Prabowo menuturkan, Margono lahir dalam keluarga yang hidup pas-pasan. Keluarganya memang memiliki garis keturunan bangsawan Jawa, tetapi gelar kebangsawanan tidak membuat kehidupan mereka berkecukupan. Dalam kisah yang disampaikan Prabowo, keluarganya juga menyimpan ingatan tentang perjuangan melawan penjajahan Belanda.
Margono adalah anak kedua. Menurut Prabowo, ketika melihat putranya yang baru lahir, ayah Margono menaruh harapan bahwa anak tersebut kelak akan mengangkat harkat keluarga. Harapan itulah yang kemudian dituangkan ke dalam namanya.
Prabowo menjelaskan, nama Margono berasal dari ungkapan Jawa margo ono. Kata margo berarti jalan, sedangkan ono berarti ada. Jika digabungkan, keduanya menyampaikan pesan sederhana: ada jalan. Bagi keluarganya, nama itu menjadi pengingat untuk tidak menyerah ketika menghadapi keadaan sulit.
Makna tersebut, menurut Prabowo, melampaui kisah pemberian nama seorang anak. Orang tua Margono tidak mengetahui seperti apa masa depan putranya. Namun, di tengah keterbatasan, mereka memilih memberinya nama yang mengandung harapan bahwa jalan keluar dapat ditemukan dan nasib keluarga dapat diperbaiki.
Baca Juga
Prabowo juga mengaitkan sejarah keluarganya dengan perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Belanda. Catatan Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas menyebut Margono sebagai cucu buyut Raden Tumenggung Banyakwide, seorang pengikut Pangeran Diponegoro. Tokoh yang dikaitkan dengan Perang Diponegoro itu adalah leluhur Margono, bukan ayahnya.
Margono lahir pada 16 Mei 1894 di Purwokerto. Pada masa awal kemerdekaan, ia dipercaya memimpin Dewan Pertimbangan Agung. Ia juga berperan dalam pendirian Bank Negara Indonesia dan menjadi pemimpin pertamanya. BNI mencatat bank tersebut berdiri pada 5 Juli 1946 sebagai bank pertama milik negara yang lahir setelah Indonesia merdeka.
Perjalanan Margono memberi makna yang lebih nyata pada cerita Prabowo. Anak yang lahir dalam keluarga dengan keadaan ekonomi terbatas itu kemudian turut membangun lembaga negara dan sistem perbankan Republik yang baru berdiri. Harapan yang disematkan dalam namanya menemukan bentuk melalui pekerjaan dan pengabdiannya.
Margono adalah ayah ekonom Soemitro Djojohadikoesoemo dan kakek Prabowo. Dua putranya yang lain, Soebianto dan Soejono, gugur dalam peristiwa Pertempuran Lengkong. Nama keduanya kemudian dikenang dalam keluarga: Subianto menjadi bagian dari nama Prabowo, sedangkan Sujono menjadi bagian dari nama adiknya, Hashim Sujono Djojohadikusumo.
Margono wafat pada 25 Juli 1978. Puluhan tahun kemudian, Prabowo kembali mengangkat kisah kelahirannya di hadapan kader PAN. Melalui arti nama sang kakek, ia menyampaikan keyakinan yang terus dipegang keluarganya: kesulitan bisa datang dalam berbagai bentuk, tetapi manusia harus terus berusaha mencari jalan.
