Rosan Pastikan Pergantian Menkeu Tak Pengaruhi Pengalihan Utang KCIC ke Kemenkeu
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Investasi dan Hilirisasi/ Kepala BKPM sekaligus CEO BPI Danantara Rosan Roeslani memastikan pergantian menteri keuangan (menkeu) tak memengaruhi proses pengalihan Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Rosan menegaskan proses pengalihan pengelola Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh itu tetap berlanjut.
Hal itu disampaikan Rosan seusai menghadiri pelantikan Suahasil Nazara sebagai menkeu oleh Presiden Prabowo Subianto di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (14/9/2026). Suahasil menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa yang menjabat sebagai menkeu sejak 8 September 2025 lalu.
"Saya rasa tidak akan masalah karena pergantian," kata Rosan.
Baca Juga
Dari Purbaya ke Suahasil: Pasar Menunggu Arah Baru Fiskal Indonesia
Rosan mengatakan telah berkomunikasi dengan Suahasil untuk membahas berbagai program yang masih berjalan, terutama yang berkaitan dengan Kemenkeu dan Danantara.
"Tadi sempat bicara dengan Pak Suahasil, semua program-program yang masih berjalan atau outstanding kita akan segera duduk bareng," kata Rosan.
Rosan menyatakan telah merencanakan pertemuan dengan Suahasil pada pekan ini. Pertemuan tersebut akan membahas sejumlah agenda yang berkaitan dengan Danantara serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi.
Menurut Rosan, Suahasil juga langsung bergerak untuk melanjutkan berbagai agenda yang berkaitan dengan Danantara. Termasuk proses pengalihan pengelolaan KCIC.
"Beliau juga bergerak cepat, jadi kita akan bertemu langsung dengan beliau," kata Rosan.
Mengenai rencana serah terima atau andover KCIC yang sebelumnya dijadwalkan pada Selasa (15/9/2026) besok, Rosan memastikan tim masih bekerja agar seluruh proses dapat diselesaikan.
Meski demikian, Rosan belum memastikan apakah agenda serah terima tersebut tetap berlangsung sesuai jadwal atau akan mengalami penundaan.
"Tim langsung tetap bekerja. Mudah-mudahan sih minggu ini bisa beres semua," katanya.
Sebelumnya, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa pengalihan KCIC ke pemerintah tak menelan biaya. BPI Danantara memberikan KCIC ke pemerintah dengan skema inbreng.
“Dari Danantara ke saya (pemerintah) dikasih dengan cost nol (rupiah). Kita menanggung utangnya ke depan. Inbreng, dikasih gitu,” kata Purbaya, di kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Purbaya menjelaskan sumber pembiayaan atas utang KCIC nantinya diambil dari keuntungan special mission vehicle (SMV) yang berada di bawah Kemenkeu. Dia mengklaim keuntungan dari SMV tersebut minimal Rp 3-4 triliun. Dia optimis dapat menutup utang KCIC yang menyentuh angka Rp 1 triliun per tahun.
“Kalau kita lihat salah satu BUMN di bawah Kemenkeu yang agak kecil aja untungnya setahun Rp 3-4 triliun. Jadi bisa disisihkan sedikit. tambah satu lagi ada yang untung Rp 6-7 triliun jadi enggak ada masalah,” ucapnya.
Baca Juga
Dilantik Prabowo sebagai Menkeu, Suahasil Dihubungi Istana Pagi Tadi
Akan tetapi, Purbaya belum dapat memastikan pengelolaan KCIC itu akan berada di bawah satu atau dua SMV. Diketahui, Kemenkeu memiliki lima SMV di antaranya, PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), PT Penjamin Infrastruktur Indonesia (PII), PT Sarana Multigriya Finansial (SMF), PT Geo Dipa Energi (GDE), Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Santer dikabarkan, pengelolaan KCIC akan dilakukan di bawah PT SMI dan atau bekerja sama dengan Indonesia Investment Authority (INA).
Purbaya memastikan serah terima KCIC, dari Danantara ke Kemenkeu, terjadi pada 15 September 2026. Ketika serah terima sudah resmi, Kemenkeu berencana membenahi mekanisme pembayaran utang KCIC.
