Kadin Sebut Pergantian PM Tak Pengaruhi Minat Jepang Terima Pekerja Migran Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menilai, dinamika politik di Jepang, termasuk terpilihnya Sanae Takaichi sebagai Perdana Menteri (PM) baru, yang disebut akan memperketat kebijakan imigrasi, tak akan mengurangi kebutuhan negara tersebut terhadap tenaga kerja migran, khususnya dari Indonesia.
Menurutnya, kebutuhan Negeri Matahari Terbit tersebut terhadap pekerja asing bersifat struktural dan tidak dapat dielakkan, terutama karena tantangan demografi.
“Memang kebutuhannya itu tidak bisa dielakkan karena masalah demografi. Demografi di Jepang dengan sendirinya sudah berumur contohnya,” ujar Anindya, usai Press Conference Jelang Rapimnas 2025 Kadin Indonesia bertema ‘Kadin Bergotong Royong Memperluas Lapangan Kerja, untuk Kesejahteraan dan Kemandirian Indonesia, di Jakarta, Selasa (25/11/2025).
Baca Juga
Menteri Mukhtarudin: 80% Persoalan Pekerja Migran Terjadi di Tahap Rekrutmen
Ia menjelaskan, Jepang membutuhkan tenaga kerja dengan jumlah yang besar di sektor kesehatan, seiring bertambahnya populasi lansia di sana. Di lain sisi, Indonesia memiliki banyak calon tenaga kerja yang ingin memperoleh pendapatan lebih dan siap mengisi kebutuhan tersebut.
“Jadi saya rasa itu tidak mengurangi ketertarikan mereka, bahkan saya melihat terutama di kota-kota metropolitan, dan juga negara-negara yang sudah maju, itu membutuhkan banyak sekali tenaga kerja medis,” kata Anindya.
Selain tenaga medis, permintaan tenaga kerja juga terjadi di bidang hospitality, leisure, dan lainnya, yang banyak sekali dibutuhkan. Indonesia memiliki potensi pasokan tenaga kerja mencapai jutaan orang yang selama ini masih terserap di sektor padat karya domestik.
Baca Juga
Wamen Christina: Bank Jakarta Jadi Penyalur KUR Pekerja Migran dengan Plafon Rp 100 Miliar
Jika tenaga kerja Indonesia dapat diarahkan pada sektor yang memiliki nilai tambah lebih tinggi, peluang peningkatan remitansi juga akan semakin besar.
“Kalau misalnya sudah bisa fokus ke yang lebih ada nilai tambahnya, itu akan lebih tinggi lagi jumlahnya dan akan membawa banyak sekali remitansi yang sangat besar,” ucap Anindya.

