Cara Baru Mengubah Senayan
“Pelajaran dari gerakan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) dalam mendorong RUU Perampasan Aset adalah bahwa sebuah kelompok tidak dapat sendirian mengubah Senayan, melainkan bahwa sebuah gerakan dapat memicu rangkaian tekanan yang membuat Senayan harus merespons”.
Oleh: Bambang Intojo - pengamat transformasi sosial politik era digital, alumni Universitas Indonesia
INVESTORTRUST - Ada yang menarik dari gerakan AMPB (Aliansi Masyarakat Pati Bersatu) dalam mendorong RUU Perampasan Aset. Terlepas dari berbagai versi, kontroversi, dan perdebatan mengenai siapa saja yang berperan dalam proses tersebut, AMPB dapat dilihat sebagai pemicu sebuah rangkaian tekanan politik.
Penting untuk membedakan antara pemicu dan penyebab. AMPB tentu bukan satu-satunya aktor yang menentukan perkembangan isu RUU Perampasan Aset. Perubahan politik selalu merupakan hasil interaksi banyak kekuatan, kepentingan, dan momentum. Tetapi sebuah gerakan dapat menjadi pemicu ketika ia berhasil membuat sebuah isu mendapatkan perhatian, menggerakkan kelompok lain, mendorong media mengangkatnya, dan membuat para pengambil keputusan tidak lagi mudah mengabaikannya.
Pengalaman AMPB menarik. Demonstrasi menjadi pemantik perhatian. Perhatian berkembang menjadi percakapan publik. Media dan ruang digital memperluas tekanan. Gerakan kemudian berhadapan langsung dengan partai politik, meminta sikap dan komitmen. Tekanan dari luar parlemen masuk ke dalam ruang politik.
Bukan AMPB semata yang mengubah Senayan. AMPB menjadi pemicu yang memperlihatkan bagaimana tekanan dari luar dapat bergerak menuju Senayan.
Di situlah arti pentingnya. Yang layak dibaca bukan hanya apakah sebuah demonstrasi berhasil atau gagal, melainkan apakah kita sedang melihat cara baru mengubah politik.
Dari Jalanan ke Ruang Politik
Selama ini perubahan politik sering dibayangkan melalui dua jalur yang terpisah. Jalur pertama adalah politik kelembagaan: partai, parlemen, pemilu, dan pemerintahan. Jalur kedua adalah politik jalanan: demonstrasi, mobilisasi massa, dan tekanan publik.
Pengalaman yang muncul dari gerakan RUU Perampasan Aset memperlihatkan bahwa kedua jalur tersebut sebenarnya dapat dihubungkan.
Sebuah gerakan dapat berada di jalan sekaligus berbicara dengan parlemen. Dapat membangun tekanan melalui media sekaligus mendatangi partai. Dapat menggunakan media sosial untuk memperluas dukungan, tetapi pada saat yang sama membawa tuntutan kepada mereka yang memiliki kewenangan mengambil keputusan.
Dengan demikian, demonstrasi tidak lagi cukup dipahami sebagai sebuah peristiwa. Ia dapat menjadi awal dari sebuah rangkaian kerja politik.
Dalam rezim algoritma, perhatian publik merupakan sumber daya yang terbatas. Persoalan yang penting dapat dengan cepat tenggelam karena kalah oleh isu yang lebih gaduh, emosional, atau lebih menarik bagi algoritma.
Karena itu, gerakan hari ini tidak cukup hanya mampu mengumpulkan massa. Ia juga harus mampu mempertahankan perhatian dan mengubahnya menjadi tekanan.
Di sinilah komunikasi menjadi bagian dari perjuangan. Poster, orasi, tulisan, konferensi pers, wawancara, video, percakapan digital, hingga pertemuan dengan partai bukan kegiatan yang berdiri sendiri. Semuanya dapat menjadi instrumen untuk membawa sebuah tuntutan dari ruang publik menuju ruang pengambilan keputusan.
Jika tuntutan membutuhkan keputusan parlemen, maka parlemen harus menjadi sasaran. Jika partai politik mempunyai posisi menentukan, maka partai perlu didatangi dan ditanya sikapnya.
Berbicara kepada partai tidak otomatis berarti kehilangan independensi.
Independensi bukan berarti tidak berbicara kepada kekuasaan. Independensi berarti tetap bebas menentukan sikap terhadap kekuasaan.
Justru dengan mendatangi partai, gerakan dapat meminta posisi yang jelas. Siapa mendukung, siapa menolak, siapa menghindar, dan siapa hanya berbicara dapat diketahui publik.
Demonstrasi dengan demikian tidak berhenti sebagai ekspresi kemarahan. Ia menjadi instrumen akuntabilitas politik.
Baca Juga
Pelajaran bagi Gerakan Mahasiswa
Di sinilah AMPB menjadi penting sebagai sebuah contoh, bukan sebagai satu-satunya pusat cerita.
Sebuah gerakan tidak selalu harus menjadi kekuatan terbesar untuk mempunyai pengaruh. Ia dapat menjadi pemicu yang membuat isu bergerak, membuka ruang bagi kelompok lain, mengubah perhatian publik, dan memaksa aktor politik merespons.
Bagi mahasiswa, ini merupakan pelajaran penting. Tradisi gerakan mahasiswa Indonesia menunjukkan bahwa demonstrasi dapat menjadi kekuatan perubahan. Namun medan politik hari ini berbeda dengan 1998. Ruang perebutan perhatian telah berlipat ganda. Selain kampus, jalanan, surat kabar dan televisi, kini ada media sosial, platform video, podcast, grup percakapan, dan berbagai jaringan digital.
Mahasiswa tidak perlu meninggalkan jalanan. Tetapi jalanan saja tidak cukup.
Gerakan mahasiswa dapat belajar untuk memilih isu yang jelas, merumuskan tuntutan konkret, membangun argumentasi, menguasai komunikasi, menjaga perhatian publik, dan kemudian membawa tekanan itu kepada mereka yang mempunyai kewenangan membuat keputusan.
Ini juga berarti mengubah cara memahami hubungan antara gerakan sosial dan politik.
Sebuah gerakan tidak harus menjadi partai untuk memengaruhi partai. Tidak harus masuk parlemen untuk memengaruhi parlemen. Dan tidak harus menjadi bagian dari kekuasaan untuk bernegosiasi dengan kekuasaan.
Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk tetap independen sekaligus memahami bagaimana kekuasaan bekerja.
Ukuran keberhasilan gerakan akhirnya bukan hanya berapa banyak orang yang turun ke jalan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah isu masuk agenda politik? Apakah partai mengambil posisi? Apakah parlemen bergerak? Apakah pemerintah merespons? Dan apakah keputusan akhirnya berubah?
Dalam kerangka itu, AMPB dapat dibaca sebagai sebuah pemicu. Ia menunjukkan bahwa gerakan tidak harus menguasai seluruh proses politik untuk mempunyai dampak politik. Yang penting adalah kemampuannya menciptakan momentum dan menghubungkan tekanan publik dengan ruang pengambilan keputusan.
Jika pola semacam ini berkembang, demonstrasi tidak kehilangan arti. Justru ia memperoleh fungsi yang lebih strategis.
Jalanan dapat menjadi titik awal. Media memperluas perhatian. Komunikasi membentuk narasi. Jaringan menjaga tekanan. Partai menjadi sasaran negosiasi. Parlemen menjadi ruang keputusan.
Dan di antara semua itu, sebuah gerakan dapat memainkan peran yang sangat penting: menjadi pemicu.
Mungkin itulah pelajaran terbesar dari pengalaman AMPB. Bukan bahwa sebuah kelompok dapat sendirian mengubah Senayan, melainkan bahwa sebuah gerakan dapat memicu rangkaian tekanan yang membuat Senayan harus merespons.
Cara mengubah politik, dengan demikian, mungkin bukan lagi memilih antara jalanan atau institusi. Tetapi menghubungkan jalanan dengan institusi.
Dan demonstrasi mungkin tidak lagi menjadi akhir dari gerakan. Ia justru bisa menjadi awal, dan sepanjang perjalanan.
