Werry Tan Ungkap Empat Kunci Membawa Labuan Bajo Naik Kelas
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust— Labuan Bajo telah menjelma menjadi salah satu destinasi wisata internasional paling dikenal di Indonesia. Namun, pertumbuhan kunjungan wisatawan yang begitu cepat belum sepenuhnya diimbangi oleh ketersediaan kamar hotel, kapasitas bandara, fasilitas marina, dan pasokan bahan bakar yang memadai.
Hal itu disampaikan Senior Managing Executive Regional Enterprise Banking Bank Nobu Labuan Bajo, Werry Tan, dalam Kadin Diplomatic Economic Breakfast di Kementerian Pariwisata, Jakarta, Jumat (11/09/2026). Acara tersebut dihadiri Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, para duta besar dan anggota komunitas diplomatik, serta jajaran pimpinan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.
Werry, yang memperkenalkan dirinya sebagai pengusaha dan bankir asal Labuan Bajo, menyampaikan pandangan berdasarkan perkembangan yang dilihatnya secara langsung di lapangan. Ia menilai momentum pariwisata di kawasan tersebut sudah terbentuk. Tantangan berikutnya adalah memastikan investasi, infrastruktur, dan kapasitas pelayanan mampu mengejar pertumbuhan permintaan.
“Labuan Bajo adalah National Geographic di atas dan di bawah permukaan air,” kata Werry saat mengawali paparannya. Menurut dia, Labuan Bajo menawarkan keindahan pulau, laut, dan kekayaan bawah air berkelas dunia. Keramahan alami masyarakat setempat juga menjadi modal kuat untuk memberikan pengalaman berkesan kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.
Ekosistem bisnis pariwisata di Labuan Bajo pun semakin berkembang. Banyak ekspatriat, terutama dari Eropa dan Amerika Serikat, telah membuka usaha seperti operator selam, restoran, penginapan, dan berbagai layanan wisata lainnya. Sejumlah restoran di kawasan tersebut bahkan dinilai telah memiliki kualitas internasional.
Baca Juga
Labuan Bajo Kembali Normal Seusai Gempa M 7,7, Wisata Tetap Buka
Untuk membawa Labuan Bajo memasuki tahap pertumbuhan berikutnya, Werry mengemukakan empat prioritas. Pertama, penambahan kapasitas hotel. Jumlah kamar hotel di Labuan Bajo saat ini disebut masih kurang dari sekitar 3.000 kamar, relatif terbatas dibandingkan dengan potensi kunjungan wisatawan pada masa mendatang.
Investor perlu didorong membangun lebih banyak fasilitas akomodasi, mulai dari hotel kelas menengah hingga hotel berstandar internasional. Penambahan jumlah kamar bukan hanya memungkinkan Labuan Bajo menerima lebih banyak wisatawan, melainkan juga mendorong pengunjung tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak uang di daerah tersebut.
Kedua, perluasan bandara dan perpanjangan landasan pacu. Werry menilai, Labuan Bajo membutuhkan lebih banyak penerbangan internasional langsung serta kemampuan menerima pesawat berbadan lebar apabila ingin berkembang menjadi destinasi internasional utama.
Peningkatan kapasitas bandara akan memangkas waktu perjalanan, memperkuat konektivitas dengan pasar wisata utama, serta meningkatkan daya tarik Labuan Bajo di mata maskapai dan operator perjalanan global.
Ketiga, pembangunan marina internasional berkelas dunia. Saat ini, terdapat lebih dari 100 dan diperkirakan mendekati 200 kapal wisata, yacht, kapal pinisi, serta kapal premium yang beroperasi di kawasan Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo.
Namun, kawasan tersebut belum memiliki marina internasional terpadu yang menyediakan tempat sandar, perawatan kapal, pengisian bahan bakar, pelayanan teknis, serta fasilitas perhotelan dan restoran dalam satu ekosistem.
“Saya melihat ini sebagai peluang yang sangat besar. Labuan Bajo dapat menjadi salah satu pusat wisata kapal pesiar dan yacht terkemuka di Asia Tenggara,” ujarnya.
Baca Juga
Kemenpar: Pariwisata Labuan Bajo dan TN Komodo Mulai Normal Pascagempa
Dengan dukungan bandara dan marina yang memadai, wisatawan dapat terbang langsung dari Singapura, Thailand, Malaysia, atau negara lain, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan yacht untuk menjelajahi kawasan Komodo dan pulau-pulau di sekitarnya.
Keempat, Labuan Bajo membutuhkan pasokan bahan bakar yang lebih andal dengan lokasi depot yang lebih dekat. Ketersediaan bahan bakar saat ini masih mengalami kendala pada waktu-waktu tertentu, sedangkan lokasi fasilitas penyimpanannya dinilai belum ideal.
Depot bahan bakar yang lebih dekat akan membantu operator kapal, perusahaan transportasi, hotel, dan pelaku usaha pariwisata menjalankan kegiatan secara lebih efisien. Konsistensi pasokan dan kualitas bahan bakar juga menjadi prasyarat penting untuk melayani pasar wisata internasional.
Werry menegaskan, permintaan terhadap pariwisata Labuan Bajo sebenarnya sudah tersedia. Karena itu, pekerjaan utama pemerintah dan dunia usaha adalah menghadirkan investasi serta infrastruktur yang mampu menopang pertumbuhan tanpa mengorbankan kualitas pelayanan dan daya tarik alamnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Menteri Pariwisata dan jajaran Kementerian Pariwisata atas dukungan terhadap pengembangan Labuan Bajo. Pelaku usaha dan masyarakat di daerah, katanya, siap bekerja sama dengan pemerintah dan investor swasta untuk membawa destinasi tersebut ke tingkat yang lebih tinggi.
Kepada para duta besar yang hadir, Werry menyampaikan undangan terbuka untuk mengunjungi dan menyaksikan sendiri keindahan Labuan Bajo. “Bagi para duta besar yang belum pernah berkunjung ke Labuan Bajo, saya mengundang Anda untuk datang dan melihatnya secara langsung,” pungkas Werry.
