Sempat Ganggu 2.961 Penerbangan, Bandara Terdampak Erupsi Anak Krakatau Kini Normal
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Erupsi Gunung Anak Krakatau sempat mengganggu operasional 2.961 penerbangan domestik dan internasional dengan jumlah penumpang terdampak mencapai 341.000 orang. Kini, operasional delapan bandara yang sebelumnya terdampak sebaran abu vulkanik telah kembali normal.
Menteri Perhubungan (Menhub), Dudy Purwagandhi menyatakan, seluruh bandara yang sebelumnya terdampak telah kembali dibuka pada Selasa (8/9/2026).
"Bandar udara yang sebelumnya terdampak telah kembali dibuka pada Selasa (8/9) dan sejak saat itu operasional penerbangan berjalan dengan normal sampai hari ini. Kami terus melakukan pemantauan dan koordinasi untuk memastikan keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas," kata Dudy dalam keterangannya, Rabu (9/9/2026).
Delapan bandara tersebut yakni Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) Banten, Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, Bandara Husein Sastranegara Jawa Barat, Bandara Budiarto Curug Banten, Bandara Pondok Cabe Banten, Bandara Muhammad Taufiq Kiemas Lampung, Bandara Raden Inten II Lampung, dan Bandara Atung Bungsu Sumatera Selatan.
Sebelumnya, hingga Senin (7/9/2026), sebanyak 2.961 penerbangan terdampak perubahan operasional bandara akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Dari jumlah tersebut, 2.339 merupakan penerbangan domestik dan 622 penerbangan internasional. Jumlah penumpang yang terdampak mencapai 341.000 orang.
Setelah operasional kembali dibuka, kata Dudy, aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Soetta kembali berlangsung.
Baca Juga
Lapor ke Prabowo, Kepala BNPB: Erupsi Gunung Anak Krakatau Sudah Menurun
Pada 8 September 2026 tercatat 875 penerbangan di Bandara Soetta, terdiri atas 436 penerbangan keberangkatan dan 439 penerbangan kedatangan, baik domestik maupun internasional.
Sementara pada 9 September 2026, terdapat 966 penerbangan yang dijadwalkan di Bandara Soetta dengan estimasi 131.495 penumpang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 722 penerbangan merupakan penerbangan domestik dan 244 penerbangan internasional.
Dudy turut menyampaikan, meskipun operasional penerbangan telah berjalan normal, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus memantau kondisi ruang udara dan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
"Kami memastikan operasional penerbangan terus berjalan dengan memperhatikan perkembangan kondisi di lapangan. Kami juga mengimbau masyarakat dan pengguna jasa penerbangan untuk tetap tenang serta mengikuti informasi resmi dari pemerintah, bandar udara, dan maskapai penerbangan," tutur dia.
Kemenhub bersama Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), AirNav Indonesia, operator bandara, maskapai penerbangan, dan pemangku kepentingan terkait terus melakukan pemantauan dan koordinasi terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau serta potensi dampaknya terhadap operasional penerbangan.
Berdasarkan informasi PVMBG, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada 9 September 2026 pukul 00.47 WIB dan saat ini berada pada Status Level III atau Siaga.
Sementara itu, berdasarkan pemantauan BMKG, hingga saat ini tidak terdapat informasi abu vulkanik yang berdampak terhadap operasional penerbangan di wilayah tersebut. BMKG sebelumnya juga mengonfirmasi hasil pengujian menunjukkan delapan bandara yang terdampak telah negatif dari paparan abu vulkanik.
Sekadar catatan, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berdampak pada ruang udara dan operasional sejumlah bandara sejak Sabtu (5/9/2026).
Untuk memastikan keselamatan penerbangan, otoritas bandara bersama maskapai wajib melakukan inspeksi terhadap seluruh armada pesawat. Pilot dan kru operasional pesawat juga wajib mengetahui restricted polygon, yakni wilayah udara yang dibatasi atau dilarang untuk dilintasi karena terdeteksi mengandung sebaran abu vulkanik.
