Abu Vulkanik Anak Krakatau Meluas, KLH Pantau Kualitas Udara
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) memperkuat pemantauan kualitas lingkungan menyusul meluasnya sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK). Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi dampak aktivitas vulkanik terhadap kualitas udara dan lingkungan di wilayah yang terdampak.
Berdasarkan informasi BMKG, erupsi Gunung Anak Krakatau terpantau mulai terjadi pada Jumat 4 September 2026 pukul 23.23 WIB. Selanjutnya, berdasarkan analisis citra satelit per 6 September 2026 pukul 08.00 WIB, sebaran abu vulkanik terpantau meliputi sejumlah wilayah, yakni Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia.
Baca Juga
Sebagai langkah mitigasi, Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH/BPLH Noer Adi Wardoyo mengatakan, pihaknya telah menurunkan tim teknis untuk memantau kualitas udara ambien, terutama parameter PM2.5 dan PM10, konsentrasi gas sulfur dioksida (SO2), serta kualitas air laut di wilayah pesisir Banten dan Lampung.
“Pemantauan kualitas udara terus dioptimalkan melalui Air Quality Monitoring System (AQMS) dan sistem Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU),” kata Noer Adi dalam keterangan resminya Minggu, (6/9/2026).
Hingga 6 September 2026 pukul 14.00 WIB, kualitas udara di wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat secara umum berada dalam kategori baik hingga sedang.
Sejumlah wilayah yang masuk kategori sedang, antara lain Jakarta GBK dengan nilai ISPU 64, Serang Sumurpecung 85, Tangerang Pasir Jaya 65, Tangerang Selatan Serpong 78, Cilegon Pulomerak 63, serta Kabupaten Bogor Leuwiliang 83. Sementara itu, Kabupaten Bekasi Sukamahi berada dalam kategori baik dengan nilai ISPU 39.
Adapun kondisi berbeda tercatat di wilayah Sumatra bagian selatan. Sejumlah daerah menunjukkan nilai ISPU yang lebih tinggi, dengan PM2.5 menjadi parameter yang dominan.
Wilayah dengan kategori sangat tidak sehat, antara lain Palembang Bukit Kecil dengan nilai ISPU 216, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir 237, dan Kabupaten Ogan Ilir 213.
Sementara kategori tidak sehat tercatat di Kabupaten Lahat dengan nilai 112, Kabupaten Musi Rawas 165, Kota Prabumulih 139, Kabupaten Musi Banyuasin Serasan Jaya 128, Kabupaten Tebo 169, Jambi Paal Lima 166, dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur Muara Sabak 114.
Meski demikian, KLH/BPLH menyebut kondisi kualitas udara di Sumatra bagian selatan juga masih dipengaruhi oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Selain itu, perlu kami sampaikan bahwa KLH/BPLH juga masih memperdalam hubungan langsung peningkatan partikulat dengan erupsi GAK yang memerlukan kajian teknis lebih lanjut,” ujar Noer.
Baca Juga
KLH/BPLH juga memperkuat koordinasi dengan BMKG, Badan Geologi/Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, BNPB, Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, serta instansi terkait guna memastikan langkah mitigasi berjalan secara terpadu.
Masyarakat diimbau tetap tenang dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah, terutama apabila terjadi perubahan kualitas udara.
Kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan juga diminta meningkatkan kewaspadaan dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan apabila diperlukan.
