Tepis Kabinet Gemuk, Prabowo: Koalisi 8 Partai Sudah Luar Biasa Efisien
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Prabowo menepis anggapan Kabinet Merah Putih yang dipimpinnya merupakan kabinet gemuk dan tidak efisien. Prabowo menegaskan koalisi pemerintah yang terdiri dari delapan partai di parlemen sudah sangat efisien.
Hal itu disampaikan Prabowo dalam sambutannya saat penutupan Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, Senin (31/8/2026).
Prabowo mulanya menjelaskan, bangsa Indonesia sudah memilih demokrasi sebagai sistem pemerintahan. Koalisi merupakan keniscayaan siapa pun yang menjalankan pemerintahan. Apalagi, mengingat luas Indonesia yang setara dengan Benua Eropa, tidak mungkin pemerintahan yang dijalankan oleh satu partai.
Baca Juga
"Berkoalisi itu untuk memimpin dan memerintah dan mengurus negara yang sebentar lagi 300 juta orang. Negara keempat terbesar di dunia. Ya, tidak mungkin negara sebesar ini dipimpin hanya satu partai," kata Prabowo.
"Kita ini sekarang delapan partai. Sudah sudah luar biasa efisiennya. Banyak negara lain mungkin belasan partai, puluhan partai," katanya menambahkan.
Prabowo mencontohkan Jepang dan Inggris yang hanya memiliki dua partai. Namun, sudah berulang kali kedua negara itu berganti perdana menteri.
Padahal, Prabowo menegaskan, pemerintah membutuhkan stabilitas agar program-program dapat berjalan. Untuk itu, Kepala Negara menekankan, Kabinet Merah Putih yang merupakan koalisi dari delapan partai politik sangat efisien.
"Jadi bagaimanapun pemerintahan membutuhkan stabilitas, ketenangan. Ya. Jadi demikian pemerintah koalisi yang saya pimpin termasuk besar tujuh partai dari delapan partai di parlemen dan kabinet yang saya susun pernah dikatakan kabinet gemuk, tidak efisien," katanya.
Prabowo memaparkan berbagai capaian yang diraih pemerintahannya dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun. Salah satunya, penutupan 290 BUMN yang merugi.
Baca Juga
Prabowo Terima Kartu Anggota NU di Penutupan Muktamar, Berlaku Seumur Hidup
"Dengan 290 BUMN kita telah menghemat. Rp 50 triliun. dan pemerintah yang saya pimpin Desember 31 2026 kami akan menutup lagi paling sedikit 700 lagi yang kami akan tutup. Jadi nanti hanya tinggal mungkin 250 BUMN tinggal 200, 250. Berarti harapan saya kita bisa menghemat 100 triliun dari overhead, dari biaya rutin, gaji direksi, gaji komisaris," paparnya.
