Pesan Boy Thohir: Pelajari Lompatan China, Kembali ke Tanah Air, Bangun Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Ketua Kadin Indonesia Komite Tiongkok (KIKT) Garibaldi (Boy Thohir meminta para penerima Beasiswa Dharma Bumiputra untuk Indonesia tidak sekadar mengejar gelar selama menempuh pendidikan di Tianjin University, China. Mereka diharapkan mempelajari faktor-faktor yang membuat China mampu bertransformasi menjadi salah satu kekuatan ekonomi, pendidikan, dan teknologi dunia hanya dalam tiga dekade.
Boy menyampaikan pesan tersebut dalam acara Pelepasan Penerima Beasiswa Dharma Bumiputra untuk Indonesia di Jakarta, Sabtu (29/08/2026). Program beasiswa ini diselenggarakan Yayasan Warga Bumiputra Indonesia (YWBI) bekerja sama dengan Kadin Indonesia Komite Tiongkok dan Tianjin University.
“Kami berharap adik-adik semua dapat menimba ilmu sebaik-baiknya dan mempelajari bagaimana negara Tiongkok bisa maju dalam waktu 30 tahun terakhir. Setelah itu, kalian kembali ke tanah air untuk memberikan yang terbaik bagi negara yang kita cintai,” kata Boy.
Menurut Boy, kemajuan China tidak hanya terlihat dari pertumbuhan ekonominya, tetapi juga dari perkembangan pendidikan, sains, teknologi, dan inovasi. Karena itu, pengiriman talenta-talenta muda Indonesia ke China merupakan investasi jangka panjang untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia nasional, terutama dalam bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM).
Baca Juga
Kirim Talenta Muda RI, Boy Thohir: Pelajari Rahasia Kemajuan China dalam 30 Tahun
Program tersebut sekaligus memperluas peran KIKT dalam hubungan Indonesia-China. Boy mengatakan, KIKT selama ini mengemban visi menjadi jembatan antara dunia usaha Indonesia dan China. Namun, hubungan kedua negara tidak seharusnya berhenti pada perdagangan dan investasi. Kerja sama juga perlu diperluas ke bidang pendidikan serta pengembangan talenta.
“Kadin Indonesia Komite Tiongkok mempunyai visi menjadi jembatan antara dunia usaha di Indonesia dan dunia usaha di Tiongkok. Dalam perkembangannya, kami ingin berperan lebih jauh. Selain di bidang perdagangan, kami juga melihat kemajuan pendidikan di China dan ingin mengambil bagian melalui kerja sama dengan Tianjin University,” ujarnya.
Melalui kerja sama tersebut, putra-putri terbaik Indonesia mendapat kesempatan mengakses pendidikan internasional, mengenal teknologi modern, dan mengalami langsung budaya akademik di salah satu perguruan tinggi terkemuka di China. Mereka tidak hanya dituntut menguasai teori, tetapi juga memahami etos belajar, disiplin, daya inovasi, dan kebijakan yang menopang kemajuan negara tersebut.
Boy menegaskan bahwa pilihan China sebagai salah satu tujuan pendidikan bukan untuk meniadakan pentingnya perguruan tinggi di Indonesia maupun negara lain. Sebaliknya, Indonesia membutuhkan generasi muda dengan pengalaman pendidikan yang beragam agar memiliki kekayaan perspektif dan mampu membangun jejaring global.
Menurut dia, selama ini banyak pelajar Indonesia menempuh pendidikan di Amerika Serikat dan Eropa. Kini, pesatnya perkembangan pendidikan di China membuka pilihan baru yang sama pentingnya. Indonesia, lanjut Boy, membutuhkan lulusan terbaik dari Amerika, Eropa, China, serta perguruan tinggi dalam negeri untuk bersama-sama mendorong kemajuan bangsa.
“Tidak ada salahnya kita mengirim siswa-siswa ke Tiongkok. Dengan demikian, nanti ada lulusan terbaik dari Amerika, lulusan terbaik dari Eropa, lulusan terbaik dari Tiongkok, dan tentu juga lulusan-lulusan terbaik dari universitas di Indonesia,” tuturnya.
Boy tidak hanya memperoleh gambaran mengenai Tianjin University dari laporan tertulis. Bersama Ketua YWBI Jenderal TNI (Purn.) A.M. Hendropriyono dan rombongan, ia telah mengunjungi langsung kampus tersebut untuk memeriksa fasilitas, kurikulum, dan lingkungan pendidikannya. Mereka juga bertemu dengan sejumlah mahasiswa yang sedang belajar di sana.
Kunjungan tersebut, kata Boy, memberikan keyakinan bahwa Tianjin University memiliki lingkungan pendidikan yang memadai bagi mahasiswa Indonesia. Ia juga memastikan para penerima beasiswa akan memperoleh dukungan dan diterima dengan baik oleh komunitas mahasiswa Indonesia yang lebih dahulu menempuh pendidikan di sana.
“Jangan khawatir karena lingkungannya sangat mumpuni. Kami juga sudah bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa yang berada di sana. Insyaallah, kalian akan diterima dengan tangan terbuka oleh senior-senior kalian,” kata Boy.
Ia meminta para penerima beasiswa membawa semangat Merah Putih selama belajar di China. Mereka diingatkan bahwa kesempatan tersebut bukan semata-mata pencapaian pribadi, melainkan amanah untuk meningkatkan kapasitas diri dan kemudian mengabdikan pengetahuan bagi masyarakat.
Boy berharap para penerima beasiswa kelak tumbuh menjadi pemimpin masa depan Indonesia. Karena itu, keberhasilan mereka tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kesediaan kembali ke tanah air, bekerja untuk kepentingan bangsa, dan menciptakan manfaat yang lebih besar bagi generasi berikutnya.
“Kami yakin, dengan semangat yang kuat dan semangat Merah Putih, kalian akan berhasil. Kami berharap kalian kembali ke Indonesia dan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan,” ujarnya.
Boy juga memastikan KIKT dan YWBI akan terus memantau perkembangan para mahasiswa selama menjalani pendidikan. Dukungan tidak berhenti setelah mereka berangkat ke China, tetapi berlanjut untuk membantu mengatasi berbagai kebutuhan dan kendala selama masa studi.
“Kami akan selalu ada dan terus memonitor apa yang kalian butuhkan. Kami ingin kalian berhasil dan kembali ke tanah air untuk berbakti, karena Indonesia masih sangat membutuhkan kalian. Kalian harus mampu memberikan kontribusi yang lebih besar daripada generasi kami,” kata Boy.
Beasiswa Dharma Bumiputra untuk Indonesia mencakup pembiayaan pendidikan, biaya hidup, dan program pengembangan mahasiswa. Seleksi program ini diikuti lebih dari 50 pendaftar dari berbagai daerah. Sebanyak 17 peserta dinyatakan lolos seleksi awal dan menjalani serangkaian persiapan, mulai dari International English Language Testing System (IELTS), China Scholastic Competency Assessment (CSCA) untuk matematika dan kimia, sertifikasi kemampuan bahasa Mandarin, hingga simulasi wawancara universitas.
Baca Juga
Boy Thohir Ingin Hubungan RI-China Tak Cuma Dagang, tapi juga Bangun Talenta Muda
Dari proses tersebut, Nadira, Vidya, dan Farrel terpilih sebagai penerima beasiswa untuk menempuh pendidikan di Tianjin University. Dalam acara pelepasan, ketiganya menandatangani pakta integritas dengan didampingi Boy Thohir dan A.M. Hendropriyono.
Acara itu turut dihadiri jajaran pembina, pengawas, dan pengurus YWBI, perwakilan KIKT, perguruan tinggi, orang tua penerima beasiswa, serta sejumlah tokoh dan mitra program. Hadir pula Franky Welirang, Thomas Junaidi Alim Wijaya mewakili Astra Honda Motor, Jonny Karli mewakili Barito Pacific, Taty Hendropriyono, Arini Subianto, dan Hety Hendropriyono.
Bagi Boy, pendidikan merupakan fondasi penting untuk mewujudkan Indonesia yang maju, sejahtera, dan berdaya saing. Namun, pendidikan tinggi harus berjalan beriringan dengan upaya membangun kualitas manusia sejak usia dini, termasuk melalui perbaikan gizi, pencegahan stunting, pembentukan karakter, dan penguatan akhlak.
Dengan sumber daya manusia yang sehat, cerdas, berpengetahuan luas, serta memiliki integritas, Boy meyakini Indonesia mempunyai modal besar untuk tampil sebagai negara maju. Beasiswa Dharma Bumiputra menjadi satu langkah kecil ke arah tujuan besar tersebut: menyiapkan generasi yang belajar dari kemajuan dunia, tetapi tetap berpijak pada kepentingan Indonesia.
