Dana Abadi UI Tembus Rp 970 Miliar, Jadi yang Terbesar di antara Kampus di Indonesia
Poin Penting
|
DEPOK, Investortrust.id – Universitas Indonesia (UI) mengeklaim kini menjadi perguruan tinggi dengan dana abadi terbesar di Indonesia setelah nilai dana kelolaannya mencapai Rp 970 miliar. Pencapaian tersebut menjadi salah satu modal UI untuk memperkuat pendidikan, riset, inovasi, hingga mengejar target masuk 150 besar universitas terbaik dunia dalam lima tahun ke depan.
Rektor UI Prof Heri Hermansyah mengatakan posisi tersebut dicapai setelah UI menjalankan berbagai strategi penggalangan dan pengembangan dana abadi sejak dirinya dilantik pada 4 Desember 2024. Saat itu, dana abadi UI tercatat baru sebesar Rp 193 miliar.
“Pada saat saya dilantik menjadi rektor, 4 Desember 2024, UI memiliki dana abadi sebanyak Rp 193 miliar. Dan 1 tahun 8 bulan kita bergerak, kita melakukan berbagai strategi. Saat ini kita berada pada posisi Rp970 miliar,” kata Heri dalam acara Penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama dan Perjanjian Kerja Sama UI dan Triputra Group, Rabu (26/8/2026).
Menurut Heri, berdasarkan komunikasi dengan sejumlah pimpinan perguruan tinggi, termasuk Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang juga menjabat Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) ITB dan MWA Universitas Airlangga, UI saat ini memiliki dana abadi terbesar di antara universitas di Indonesia.
Posisi tersebut semakin diperkuat dengan dukungan dana abadi dari TP Rachmat dan Triputra Group sebesar Rp 50 miliar. Dana tersebut akan diberikan secara bertahap selama lima tahun, masing-masing sekitar Rp 10 miliar per tahun.
Baca Juga
Dana Abadi UI Dekati Rp 1 Triliun, Filantropi Triputra Diabadikan di Makara Art Center
“Dan ini kita cukup percaya diri menyampaikan ini, pada saat kita ngobrol dengan Pak Menkes, Pak Budi Gunadi Sadikin, yang mana beliau juga merupakan Ketua MWA ITB dan juga MWA di Unair, kita UI merupakan universitas yang saat ini memiliki dana abadi terbesar, yaitu Rp 970 miliar,” tutur Heri.
Heri menjelaskan, dana abadi berbeda dengan dana operasional biasa karena pokok dananya dipertahankan untuk dikelola secara berkelanjutan. Hasil pengelolaan kemudian dapat dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan, riset dan inovasi, serta pemberian beasiswa.
Sebagai gambaran, Heri menyebut jika dana Rp 50 miliar tersebut dikelola melalui instrumen dengan imbal hasil sekitar 7%, maka dapat menghasilkan sekitar Rp 3,5 miliar per tahun. Dana tersebut dapat digunakan untuk berbagai program, termasuk beasiswa bagi mahasiswa.
“Kalau beasiswa itu anggaplah Rp 10 juta per mahasiswa. Berarti kalau Rp 10 juta, kalau 100 orang Rp 1 miliar. Berarti kalau Rp 3,5 miliar, berarti 350 orang per tahun. Kita seperti itu, hitungan kasarnya,” papar Heri.
Meski menjadi universitas dengan dana abadi terbesar di Indonesia, Heri menilai posisi UI masih jauh dibandingkan perguruan tinggi terkemuka dunia. Dia mencontohkan Tohoku University di Jepang yang memiliki dana abadi mencapai 110 triliun yen. Kondisi tersebut, menurut dia, menunjukkan besarnya kapasitas finansial yang dimiliki universitas kelas dunia untuk menopang program pendidikan, riset, dan inovasi.
Heri menegaskan penguatan dana abadi menjadi salah satu milestone utama dalam lima tahun masa kepemimpinannya. Menurut dia, semakin kuat dana abadi, semakin besar pula ruang bagi UI untuk mengembangkan program strategis secara berkelanjutan dan berkontribusi terhadap kedaulatan teknologi serta inovasi nasional.
“Dana abadi dari Triputra ini menjadi indikator bahwa kepercayaan publik kepada UI yang saat ini menjadi satu-satunya universitas di Indonesia yang berhasil menembus peringkat 200 terbaik di dunia selama dua tahun berturut-turut, yaitu peringkat 189 dan 191 sekarang,” kata Heri.
Dengan dukungan dana abadi yang terus diperkuat, UI menargetkan dapat mempercepat peningkatan kualitas akademik sekaligus mengerek posisi globalnya. “Mudah-mudahan bisa membantu berbagai program untuk mengakselerasi peningkatan peringkat Universitas Indonesia yang kita tuju dalam 5 tahun ke depan ini untuk dapat menembus 150 besar dunia,” pungkas Heri.
