Bukan Soal Komisi 8%, Mitra Ojol Sebut Libur Sekolah Lebih Pengaruhi Orderan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Skema pembagian 92% untuk pengemudi dan 8% untuk aplikator telah berlaku sejak awal Juli 2026. Setelah berjalan beberapa waktu, periode libur sekolah ikut membentuk kondisi order.
Di lapangan, pengemudi merespons perubahan dengan mengatur waktu, berpindah ke titik ramai, dan mengaktifkan layanan yang tersedia di aplikasi. Mei Akbar Maniflor, mitra Grab asal Jakarta, membedakan dampak skema komisi dari penurunan permintaan saat libur sekolah. Ia menyampaikan pengalamannya setelah skema baru berjalan masih dipengaruhi cara mengatur aktivitas di lapangan.
"Menurut saya stabil, karena ada beberapa faktor. Di lapangan saat ini anak sekolah lagi libur, jadi pendapatan beberapa teman driver juga turun," ujar Mei dalam keterangan yang diterima, Jumat (17/7/2026).
Baca Juga
Kolaborasi dengan Grab Bakal Dongkrak Prospek Bisnis Bank Woori Saudara (BWS)
Sementara itu, Saidah Anwar yang beroperasi di Jakarta mengajak pengemudi melihat faktor lain di luar besaran komisi. Menurutnya, perubahan pendapatan perlu dilihat bersama kondisi order yang dihadapi pengemudi.
"Kalau menurut emak, penghasilan menurun itu bukan karena potongan komisi 8%, tetapi karena faktor lain. Kebetulan ini bulan libur sekolah," ungkap Saidah.
Pandangan lain disampaikan Syarifudin dari Jakarta. Ia menilai masa transisi bertepatan dengan libur sekolah dan kuliah, sehingga tidak hanya mengandalkan satu kondisi ketika mencari order.
Baca Juga
Bank Woori Saudara Gandeng Grab Indonesia Perkuat Branding Lewat Armada dan Platform Digital
"Isu 8% lebih sepi dan menurun secara pendapatan itu tidak semuanya benar. Saat transisi, kebetulan sekolah dan kuliah sedang libur," tutur Syarifudin.
Skema komisi baru menjadi salah satu bagian dari ekosistem kerja pengemudi. Hasil harian tetap dipengaruhi intensitas kerja dan dinamika permintaan di masing-masing wilayah.
