AHY: Perwira TNI Harus Kuasai Strategi Clausewitz hingga Sun Tzu
Poin Penting
|
MAGELANG, Investortrust.id – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengajak para taruna Akademi Militer (Akmil) mempelajari pemikiran para ahli strategi dunia, mulai dari Carl von Clausewitz, Sun Tzu, hingga adagium klasik Romawi Si Vis Pacem, Para Bellum atau "jika menginginkan perdamaian, bersiaplah untuk perang". Menurutnya, bekal pemikiran strategis menjadi semakin penting bagi calon perwira TNI di tengah perubahan lanskap keamanan global.
Dalam sesi diskusi interaktif bersama para taruna di Akademi Militer Magelang, Sabtu (11/7/2026), AHY menekankan bahwa kepemimpinan militer modern tidak hanya membutuhkan keberanian di medan tugas, tetapi juga kemampuan berpikir strategis serta memahami dinamika lingkungan global yang terus berubah.
AHY menjelaskan pemikiran Carl von Clausewitz dalam buku On War masih relevan bagi perwira masa kini. Menurutnya, Clausewitz mengajarkan bahwa perang pada hakikatnya merupakan kelanjutan politik dengan cara lain, sehingga setiap prajurit harus memahami tujuan politik nasional yang menjadi dasar setiap operasi militer.
Baca Juga
Kick Off HUT Ke-25, AHY Tegaskan Demokrat Siap Hadirkan Solusi Nyata untuk Masyarakat
"Clausewitz mengingatkan kita bahwa kekuatan militer harus selalu terhubung dengan tujuan negara. Karena itu, seorang perwira harus memahami mengapa ia bertugas, bukan hanya bagaimana ia bertugas," ujar AHY dikutip Senin (13/7/2026).
Selain Clausewitz, AHY juga mengangkat pemikiran ahli strategi militer asal Tiongkok, Sun Tzu, yang menekankan pentingnya kecerdasan, kemampuan mengantisipasi ancaman, serta memahami lawan dan lingkungan strategis. Menurutnya, kemenangan terbaik adalah keberhasilan mencegah konflik sebelum pertempuran benar-benar terjadi.
Dalam konteks Indonesia saat ini, AHY mengatakan para calon perwira harus memahami bahwa ancaman terhadap negara telah berkembang jauh melampaui perang konvensional. Disrupsi teknologi, serangan siber, krisis energi, hingga perubahan geopolitik kini menjadi bagian dari tantangan yang harus diantisipasi.
Ia menilai ruang pertahanan saat ini tidak hanya berada di darat, laut, dan udara, tetapi juga merambah ruang digital, teknologi, ekonomi, dan arus informasi yang berkembang sangat cepat.
"Sun Tzu mengajarkan pentingnya memahami medan dan perubahan. Hari ini medannya bukan hanya daratan, laut, dan udara, tetapi juga ruang siber, teknologi, ekonomi, dan informasi. Di sanalah para perwira masa depan harus siap memimpin," tegas AHY.
AHY menambahkan adagium Romawi Si Vis Pacem, Para Bellum tetap memiliki relevansi dalam menghadapi tantangan zaman. Menurutnya, perdamaian tidak hadir dengan sendirinya, melainkan harus dijaga melalui kesiapan, profesionalisme, serta kemampuan bangsa membangun kekuatan nasional yang tangguh.
Ia menegaskan kekuatan Indonesia pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista), tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia, ketahanan ekonomi, penguasaan teknologi, dan kepemimpinan yang visioner.
Baca Juga
AHY Sebut Perwira Masa Depan Harus Siap Hadapi Ancaman Siber dan Krisis Energi
Untuk itu, AHY berharap para taruna yang sedang menempuh pendidikan di Lembah Tidar mampu tumbuh menjadi pemimpin masa depan yang tidak hanya menjaga kedaulatan negara, tetapi juga mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang semakin kuat, tangguh, dan bermartabat di tengah dinamika global.
Dalam kunjungan ke Akademi Militer tersebut, AHY didampingi Deputi Bidang Koordinasi Pemerataan Pembangunan Wilayah, Agraria, dan Tata Ruang Nazib Faizal, Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agust Jovan Latuconsina dan Herzaky Mahendra Putra, Staf Khusus Menteri Pekerjaan Umum Ahmad Khoirul Umam, Tenaga Ahli Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Yudhi Prasetyo Purnomo, serta Brigadir Jenderal Rio Neswan.
