22 Tahun Lalu, Prabowo Bicara soal Indonesia Bangkit atau Bangkrut di UGM
JAKARTA, investortrust.id - Perdebatan mengenai masa depan Indonesia mewarnai dunia politik belakangan ini.
Muncul narasi Indonesia akan bangkrut yang salah satunya disuarakan BEM Universitas Indonesia (UI) melalui demonstrasi yang digelar pada 12 Juni lalu. Sementara narasi Indonesia akan bangkit didengungkan Presiden Prabowo Subianto dan jajaran pemerintah.
Baca Juga
Lewati Target! Kilang Pertamina Olah 78 Juta Barel Minyak, Siap Dukung Indonesia Bangkit?
Ternyata, perdebatan mengenai masa depan Indonesia itu telah berlangsung puluhan tahun lalu. Bahkan, Prabowo pernah berbicara mengenai hal serupa di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 15 Januari 2004 atau 22 tahun silam.
Momen itu diungkapkan Asisten Khusus Presiden bidang Komunikasi dan Analisis Kebijakan Dirgayuza Setiawan melalui unggahan di akun Instagram @dirgayuza, Sabtu (27/6/2026). Dalam unggahan itu, Dirgayuza juga menyertakan foto saat Prabowo berbicara dan guru besar UGM yang dikenal sebagai Bapak Ekonomi Pancasila Prof Mubyarto pada 15 Januari 2004.
"Foto ini diambil di University Center UGM pada 15 Januari 2004. Di panggung itu duduk dua tokoh dengan latar belakang yang sangat berbeda, Prof Mubyarto, guru besar UGM dan Bapak Ekonomi Pancasila, serta Prabowo Subianto," kata Dirgayuza.
Dikatakan, foto tersebut menjadi bukti UGM sebagai ruang pertemuan berbagai gagasan. Kampus, katanya, menjadi tempat bertukar pikiran, bahkan ketika kita tidak sepakat dan mungkin tidak akan pernah sepakat dengan gagasan atau penyampaian para pembicaranya.
"Yang menarik, tema seminar hari itu berbunyi, 'Meneropong Indonesia Pasca 2004: Bangkit atau Bangkrut.' Tema yang mirip, jika tidak identik, dengan tema yang diusung banyak mahasiswa yang sedang gundah gulana hari ini," tuturnya.
Seminar itu terjadi 22 tahun lalu. Namun ternyata pertanyaannya ternyata masih sama, bagaimana Indonesia bisa benar-benar bangkit?
Dirgayuza mengatakan, Prof Mubyarto sepanjang hidupnya memperjuangkan gagasan yang disebut sebagai ekonomi Pancasila. Menurut Mubyarto, pembangunan tidak boleh hanya mengejar angka pertumbuhan ekonomi.
"Pembangunan harus berpihak kepada rakyat kecil. Negara perlu hadir untuk melindungi petani, nelayan, koperasi, UMKM, dan memastikan hasil pembangunan dinikmati secara adil oleh seluruh rakyat," katanya.
Gagasan itu dituangkan Mubyarto dalam sejumlah karya penting, seperti buku Ekonomi Pancasila, Ekonomi Rakyat Indonesia, Sistem dan Moral Ekonomi Indonesia, Ekonomi Pertanian, serta Membangun Sistem Ekonomi.
Di panggung yang sama, Prabowo berbicara mengenai swasembada pangan, ketahanan nasional, industrialisasi, koperasi, dan pentingnya negara memiliki kemampuan melindungi kepentingan rakyat.
"Bahasa yang digunakan boleh tidak persis sama. Namun benang merahnya sama. Bahwa negara tidak boleh membiarkan rakyat menghadapi persoalannya sendirian," katanya.
Setelah 22 tahun sejak seminar di UGM itu, Dirgayuza mengatakan, banyak isu yang didiskusikan Prabowo dan Mubyarto di panggung itu justru kembali menjadi agenda nasional. Bedanya, yang dulu gagasan, sekarang sebagian sudah banyak yang terealisasi.
"Ketahanan pangan, hilirisasi industri, koperasi desa, pembangunan rumah rakyat, investasi pada pendidikan dan kesehatan, hingga pengurangan kemiskinan kembali menjadi perdebatan dan fokus utama dalam kebijakan publik Indonesia," paparnya.
Dirgayuza mengatakan, gagasan-gagasan tersebut tidak pernah lepas dari kritik. Seperti halnya pemikiran Mubyarto dahulu, maupun berbagai kebijakan Presiden Prabowo hari ini, selalu ada perbedaan pandangan mengenai seberapa besar negara seharusnya berperan dalam pembangunan.
Baca Juga
"Tetapi melihat foto ini, saya merasa satu hal. Sejarah sering kali menunjukkan bahwa persoalan bangsa boleh berubah bentuk, tetapi pertanyaan besarnya tetap sama, bagaimana memastikan pembangunan benar-benar menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia," katanya.
Lantaran hal itu, Dirgayuza mengatakan, foto sederhana di UGM itu terasa jauh lebih bermakna daripada sekadar dokumentasi sebuah seminar.
"Ia adalah potret sebuah percakapan dan dialektika putera puteri bangsa yang peduli dengan bangsanya, yang masih terus berlangsung hingga hari ini," katanya.
