Prabowo Ungkap Penyebab Gaji Guru dan PNS Tidak Bisa Baik
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Prabowo Subianto mengungkap penyebab gaji guru dan pegawai negeri sipil (PNS) tidak bisa baik. Hal itu diungkapkan Prabowo dalam sambutannya saat penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes) NU 2026 di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026).
Prabowo menyebut gaji guru dan PNS tidak bisa baik karena uangnya tidak ada. Hal ini karena kekayaan negara terus diambil pengusaha nakal. Kepala Negara berharap para ulama dan kiai NU dapat memahami hal tersebut.
"Saya ingin sampaikan dalam forum ini, karena saya ingin saudara-saudara NU sebagai pemimpin, sebagai ulama, sebagai guru, sebagai pembimbing rakyat. Harus mengerti, kenapa gaji guru tidak bisa baik? Kenapa gaji pegawai negeri tidak bisa baik? Kenapa anggaran selalu kurang? Iya kan. Karena uangnya enggak ada, diambil terus," kata Prabowo.
Baca Juga
Prabowo Ungkap Anomali Indonesia: Ekonomi Tumbuh 35% selama 7 Tahun, tetapi Rakyat Miskin Bertambah
Kepala Negara menjelaskan, selama 22 tahun terakhir, Indonesia sebenarnya untung dalam 17 tahun dengan nilai mencapai US 436 miliar. Bahkan, katanya, dalam 42 tahun, kekayaan Indonesia mencapai Rp 683 miliar. Namun, kata Prabowo, kekayaan yang dimiliki Indonesia terus diambil dan dibawa ke luar negeri.
"Kalau sekarang ada yang mengatakan rupiah kita lemah ini dan itu, ya karena kekayaannya keluar. Kalau darah kita, tiap hari darah kita keluar, di ujungnya badan kita collapse, mati. Begitu kayanya Republik kita. Tiap tahun kekayaan kita diambil keluar, kita masih berdiri. Saudara-saudara sekalian, jadi kita lihat dari neraca itu, inflow outflow. Kita lihat di sini selama 22 tahun, uang yang keluar itu US$ 343 miliar. Jadi keuntungan US$ 436 (miliar), yang keluar US$ 343 (miliar). Yang tinggal adalah sedikit sekali dibandingkan yang keluar," papar Prabowo.
Prabowo mengatakan, berdasarkan data dari PBB, praktik culas under-invoicing atau laporan palsu yang dibuat pengusaha membuat Indonesia merugi US$ 908 miliar atau sekitar Rp 15.000 triliun dalam 34 tahun. Bahkan, kebocoran kekayaan negara mencapai US$ 150 miliar atau sekitar Rp 2.500 trilun tiap tahun.
Baca Juga
Bakal Tutup 800 Perusahaan BUMN Merugi, Prabowo: Kita Hemat Triliunan Rupiah
"Ternyata sekali lagi dari PBB, yang terjadi adalah yang disebut under-invoicing atau laporan palsu. Para pengusaha itu bohong. Katanya dia jual 1000 ton, dia lapor hanya 500 ton. Artinya apa? Artinya negara rugi. Setelah kita hitung, ini angka kembali lagi dari PBB. Kita telah rugi US$ 908 miliar selama 34 tahun. Atau Rp 15.000 triliun. Rp 15.000 triliun," katanya.
"Kebocoran kita, kita hitung, para ahli hitung sekarang adalah kurang lebih US$ 150 miliar tiap tahun. Rp 2.500 triliun tiap tahun," kata Kepala Negara menambahkan.
