Kisah Nanik S Deyang dan Sepatu Kets di Istana
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Prabowo Subianto memutuskan menunjuk Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang atau Nanik S Deyang sebagai kepala BGN menggantikan Dadan Hindayana. Sebelum ditunjuk memimpin lembaga yang mengurusi program makan bergizi gratis (MBG) itu, Nanik S Deyang memiliki persahabatan yang cukup erat dengan Prabowo.
Banyak kisah yang terjadi selama 13 tahun Nanik S Deyang mengenal Prabowo. Salah satunya, cerita mengenai Nanik S Deyang terpaksa mengenakan sepatu kets saat akan menerima penghargaan dari Presiden Prabowo di Istana Kepresidenan. Cerita itu dikisahkan Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan Dirgayuza Setiawan dalam keterangannya, Rabu (3/5/2026).
Baca Juga
Ini Profil Nanik S Deyang yang Diangkat Prabowo sebagai Kepala BGN
Dirgayuza mengatakan, Nanik merupakan salah satu sahabat perempuan Prabowo paling tangguh dan sederhana. Hubungan Prabowo dan Nanik telah terjalin sejak 13 tahun lalu atau tepatnya menjelang Pemilu 2014.
"Dalam perjalanan 20 tahun saya on and off membersamai Pak Prabowo, mungkin Bu Nanik adalah salah satu sahabat perempuan Pak Prabowo paling tangguh dan paling sederhana yang pernah saya kenal. Pak Prabowo dan saya pertama kali mengenal Bu Nanik menjelang Pemilu 2014, sekitar 13 tahun yang lalu," tutur Dirgayuza.
Dirgayuza menuturkan, saat itu, dirinya dan Prabowo mampir ke kantor redaksi The Politics di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Perkenalan Prabowo dan Nanik yang merupakan pemimpin redaksi The Politics dimulai dengan beberapa cangkir kopi.
"Ada kopi yang disiapkan Bu Nanik. Ada juga kopi yang dibawa sendiri oleh Pak Prabowo dalam sebuah termos. Kopi yang sekarang dikenal banyak orang sebagai kopi Hambalang," kata Dirgayuza.
Pertemuan yang tadinya dijadwalkan singkat berlangsung hingga berjam-jam. Dirgayuza mengungkapkan, Nanik seakan memiliki kemampuan untuk mengeluarkan versi terbaik dari lawan bicaranya, termasuk Prabowo.
"Dari pertemuan tersebut lahirlah sebuah wawancara on the record di DPP Gerindra yang sampai hari ini, menurut saya, masih menjadi salah satu wawancara terbaik Pak Prabowo," katanya.
Dirgayuza mengaku merinding saat kembali menonton hasil wawancara tersebut. Hampir semua yang dibahas dalam wawancara itu sekarang terbukti seiring perjalanan waktu.
"Banyak cita-cita yang saat itu terdengar jauh, hari ini telah menjadi kenyataan," katanya.
Namun, kata Dirgayuza, kontribusi Nanik dalam perjalanan Prabowo jauh melampaui urusan media. Nanik, katanya, seorang penggerak yang tidak bisa diam ketika berhadapan dengan ketidakadilan. Nanik tidak bisa berpaling ketika melihat kesulitan.
"Salah satu yang mengungkap kepada Pak Prabowo kasus Wilfrida Soik adalah Bu Nanik. Seorang pekerja migran Indonesia asal Nusa Tenggara Timur yang terancam hukuman mati di Malaysia. Setelah mendengar cerita itu, Pak Prabowo bergerak mencari dan membiayai tim pengacara terbaik untuk membela Wilfrida," tuturnya.
"Bu Nanik juga yang mengusulkan perakitan dan pembagian becak listrik untuk para pengayuh becak lanjut usia. Ide sederhana, tetapi lahir dari empati yang mendalam: bagaimana orang-orang yang telah bekerja keras sepanjang hidupnya bisa memperoleh penghasilan yang lebih baik dan hidup yang lebih bermartabat," kata Dirgayuza menambahkan.
Karakter Nanik tersebut tidak berubah saat dipercaya Prabowo menjadi wakil kepala BGN, Alih-alih duduk nyaman di belakang meja, Nanik justru menggagas sidak BGN ke dapur-dapur MBG di berbagai daerah.
"Karena bagi Bu Nanik, sebaik-baiknya gagasan adalah gagasan yang benar-benar terlaksana dengan baik. Karena angka di laporan bisa terlihat sempurna. Tetapi kualitas makanan anak-anak Indonesia hanya bisa dipastikan dengan melihat langsung ke lapangan. Karena itulah ia datang sendiri. Memeriksa dapur. Mengecek kebersihan. Berbicara dengan petugas. Mendengar keluhan. Mencari solusi. Lalu kembali berangkat ke tempat berikutnya," paparnya.
Namun, dari semua hal yang diingatnya tentang Nanik, terdapat satu hal yang paling membekas dalam memori Dirgayuza. Hal itu bukan terkait dengan jabatan dan penghargaan yang diterima Nanik. Bukan juga tentang kedekatan Nanik dengan tokoh-tokoh bangsa. Ingatan tersebut tentang sepatu kets Nanik yang selalu menemaninya bergerak luwes ke berbagai tempat untuk memastikan program MBG berjalan maksimal.
"Yang paling saya ingat adalah sepatu ketsnya. Sepatu kets sederhana yang selalu menemaninya bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Sepatu kets untuk turun ke dapur. Sepatu kets untuk meninjau sekolah. Sepatu kets untuk memastikan bahwa program yang dirancang dengan baik benar-benar sampai kepada rakyat dengan baik," ungkapnya.
Baca Juga
Ditunjuk Prabowo Jadi Kepala BGN, Nanik S Deyang Diminta Percepat Program MBG
Bahkan, kata Dirgayuza, Nanik mungkin salah satu dari sedikit orang yang menerima penghargaan dari presiden dengan mengenakan sepatu kets.
"Dan mungkin, sepanjang yang saya tahu, Bu Nanik adalah salah satu sedikit orang di Republik ini yang pernah menerima penghargaan dari Presiden Republik Indonesia di Istana Negara sambil mengenakan sepatu kets," katanya.
Momen itu terjadi saat Nanik mendadak dipanggil untuk menerima penghargaan dari Prabowo di Istana Kepresidenan. Padahal, Nanik saat ini sedang bekerja di Solo. Pihak protokoler Istana hanya memberikan waktu tiga jam bagi Nanik untuk kembali ke Jakarta.
"Tidak ada persiapan. Batik dibeli terburu-buru di bandara. Sepatunya tidak sempat berganti," katanya.
Nanik terpaksa mengenakan sepatu kets yang sebelumnya dipakai untuk sidak dari dapur ke dapur. Sepatu itu juga yang dikenakannya untuk meninjau dan memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan makanan yang bergizi, higienis, dan layak.
"Di tengah ruangan megah Istana Negara, di bawah lampu kristal dan di hadapan para pejabat tinggi negara, sepatu kets itu tetap menempel di kakinya. Dan bagi saya, justru di situlah letak keistimewaannya," katanya.
Dirgayuza mengatakan, terkadang tanda kehormatan terbesar bukanlah medali yang disematkan di dada, melainkan jejak langkah yang tertinggal di lapangan. Dirgayuza langsung teringat dengan sepatu kets itu saat Mensesneg Prasetyo Hadi mengumumkan keputusan Prabowo menunjuk Nanik sebagai kepala BGN menggantikan Dadan Hindayana.
"Tadi malam, saat Bu Nanik Deyang dipercaya menjadi kepala Badan Gizi Nasional, saya teringat kembali sepatu kets itu. Sebuah pengingat bahwa jabatan boleh berubah. Ruang kerja boleh berpindah, tetapi Indonesia membutuhkan lebih banyak pemimpin perempuan hebat yang bersedia turun ke lapangan, dan memastikan pekerjaan benar-benar selesai," katanya.
Untuk itu, Dirgayuza mengatakan, tak perlu heran jika suatu saat melihat Nanik berjalan cepat dengan sepatu ketsnya.
"Karena besar kemungkinan beliau sedang melakukan apa yang selalu dilakukannya selama ini: Bekerja. Bekerja. Dan bekerja. Untuk memastikan anak-anak Indonesia mendapat masa depan yang lebih baik," tuturnya.

