Nadiem: Reformasi Kemendikbud Ganggu Banyak Kepentingan, Gesekan Berujung Dendam Besar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim menilai perkara dugaan korupsi pengadaan Chromebook yang menjerat dirinya tidak terlepas dari gesekan internal yang muncul selama memimpin kementerian.
Dalam pleidoi yang dibacakan di hadapan majelis hakim, Nadiem mengaku banyak kebijakan reformasi dan perbaikan tata kelola yang dilakukannya justru menimbulkan resistensi dari berbagai pihak.
Selama menjabat sebagai menteri, Nadiem tidak hanya mendorong program digitalisasi pendidikan, tetapi melakukan pembenahan administrasi dan tata kelola untuk menutup celah-celah praktik korupsi di lingkungan kementerian.
“Nah kenyataannya waktu saya menteri, saya pun tahu bahwa banyak sekali pihak-pihak yang sangat kuat di dalam yang tidak menginginkan itu terjadi. Namun, saya tidak mengantisipasi bahwa gesekan itu bisa menjadi dendam besar,” kata Nadiem di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (2/6/2026).
Nadiem menilai perkara yang kini menjeratnya merupakan ironi terbesar dalam perjalanan kariernya di pemerintahan. Pasalnya, selama lima tahun menjabat sebagai mendikbudristek, dia mengklaim fokus membangun sistem yang lebih transparan dan akuntabel.
“Saya berjuang melawan korupsi selama lima tahun menjadi menteri dan sekarang saya di sini dikorbankan sebagai orang yang dituduh korupsi. Sungguh begitu miris,” ujar Nadiem.
Dalam pleidoinya, Nadiem melakukan refleksi atas gaya kepemimpinannya selama menjadi menteri. Dia tidak memungkiri bahwa dirinya masuk ke kabinet pada usia 35 tahun tanpa latar belakang pendidikan, birokrasi, maupun politik.
Baca Juga
Nadiem Makarim Sakit Hati Dituntut 18 Tahun Penjara dan Uang Pengganti Rp 5,6 Triliun
Menurut dia, pengalaman panjang di sektor swasta membentuk cara kerja yang mengutamakan kecepatan, keterbukaan, dan pengambilan keputusan berbasis data. Namun, pendekatan tersebut tidak selalu sejalan dengan dinamika pemerintahan.
“Di sektor swasta semua serba cepat, kejujuran berpendapat dihargai, dan semua keputusan berdasarkan data. Di dalam pemerintahan, gerak cepat bisa berisiko, kelugasan sering diartikan sebagai kesombongan, dan banyak keputusan yang berdasarkan pertimbangan politik,” ungkapnya.
Nadiem mengatakan salah satu strategi yang ditempuhnya saat memimpin kementerian adalah merekrut banyak profesional muda untuk mempercepat transformasi organisasi. Meskipun langkah tersebut dinilai berhasil meningkatkan efektivitas kerja, dia mengakui tidak mengantisipasi besarnya gesekan dari pihak internal yang merasa tersingkirkan.
“Banyak yang periuk nasinya terganggu, banyak juga yang tersinggung karena merasa mereka tidak dihargai,” beber Nadiem.
Lebih lanjut, Nadiem mengakui dirinya terlalu fokus pada program sehingga kurang memperhatikan aspek-aspek politik yang menjadi bagian penting dalam pemerintahan. Dia mengaku sering menolak undangan acara yang dianggap tidak berkaitan langsung dengan program kementerian, jarang bersilaturahmi dengan tokoh-tokoh politik, hingga memotong basa-basi di awal pertemuan.
Baca Juga
Nadiem Makarim Tegaskan Tak Pernah Putuskan Pengadaan Chromebook, Singgung Dugaan Tukar Badan
“Dalam berbagai meeting, saya sering memotong basa-basi di awal pertemuan karena ingin masuk ke materi secepat mungkin, dan terlihat tidak santun,” tuturnya.
Nadiem juga mengakui tidak banyak meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan media karena lebih memilih fokus pada implementasi program kerja. Sikap yang dianggap lumrah dan bahkan dihargai di lingkungan profesional justru dapat menimbulkan persepsi berbeda ketika berada dalam dunia politik dan birokrasi.
“Di dalam pemerintahan, ini menimbulkan persepsi angkuh, kurang berbudaya, dan kurang santun. Ini adalah kesalahan saya saat menjabat menjadi menteri,” ucao Nadiem.

